Ahlul Kitab dan Shaum Asyura

oleh: Haifa hanifah

Tinjauan Sejarah:
Shaum Asyura Dalam Ajaran Yahudi
Umat Musa melaksanakan shaum pada tanggal 10 Muharram, berkenaan dengan mengenang dan mensyukuri kemenangan mereka dari kejaran bangsa Fir’aun. Selain kaum yahudi umat musa, orang quraisy Jahiliyyah juga shaum pada tanggal 10 Muharram, serta mereka suka mengganti kiswah Ka’bah.

Shaum Asyura Dalam Ajaran Nashrani
Adapun kaum Nashrani di madinah shaum serta memuliakan hari itu, sebab pada tanggal 10 muharram hari dimana berlabuhnya kapal Nabi Nuh setelah selama 3 bulan terombang-ambing di lautan.

Shaum Asyura Dalam Ajaran Islam
Nabi Muhammad SAW mengajarkan umatnya untuk meaksanakan shaum Asyura bukan atas dasar ikut-ikutan kepada Yahudi dan Nashrani. Melainkan karna hubungan batin beliau dengan nabi Musa yang begitu erat, tatkala beliau hijrah ke madinah dengan para sahabatnya, beliau menyuruh shaum asyura, di tempat itu pulalah nabi Musa dan umatnya melaksanakan shaum.
Perubahan Hukum
Asalnya shaum asyura itu hukumnya wajib, tapi pada tahun 2 H turunlah perintah shaum wajib di bulan Ramadhan, sejak itulah shaum Asyura berubah hukumnya menjadi sunnat.
Rasulullah SAW bersabda: “hari ini Asyura tapi tidak diwajibkan atas kalian shaum hari ini, sedangkan aku shaum. Sebab itu, barangsiapa mau shaum, maka shaumlah, tapi siapa yang tidak, maka berbukalah” (HR. Bukhari)
“dan shaum Asyura itu menghapus dosa satu tahun yang telah lalu” (HR. Muslim dan abu Dawud)
Seiring waktu bergulir, Sebagian para sahabat memberi usul kepada Rasulullah SAW supaya ada perbedaan antara umat islam dengan Yahudi, seperti rasulullah suka membuat aturan yang tidak sama dengan orang kafir. Maka sehubungan dengan hal ini Ibnu Abbas menerangkan: “adakan perbedaan dengan orang Yahudi, kalian shaum dua hari, yaitu pada tanggal 9 dan 10 Muharram”
Rasulullah pun menjanjikan sabdanya: “sesungguhnya jika aku hidup sampai tahun yang akan datang, pasti aku shaum hari ke sembilan” (HR. Muslim)
Dalam hadits yang lain ditegaskan: “dari ibnu Abbas, ia berkata: ‘Rasulullah SAW shaum asyura dan memerintahkan (kaum muslimin) shaum. Para sahabat berkata, Ya Rasulullah hari ini adalah hari yang diagungkan oleh orang Yahudi dan nashrani. Rasulullah bersabda, : apabila masih menyaksikan tahun yang akan datang, insya allah kita shaum pada hari yang kesembilannya. Kata ibn Abbas: sebelum datang tahun depan itu rasulullah wafat’” (HR. Muslim no. 1134)
Kesimpulan:
Shaum tasu’a asura itu dilaksanakan dua hari di bulan Muharam, berdalilkan hadis qauliyyah, meskipun rasul tidak sempat melaksanakan shaum tasu’a, namun dari perkataan beliau tersebut, maka sah lah, shaum di tanggal 9 dan 10.
tidak sah shaum jika dilaksanakan hanya satu hari saja, baik pada tanggal 9 saja maupun tanggal 10 saja, jika seseorang melaksanakan shaum pada tanggal 10 saja, berarti ia sama dengan kaum yahudi dan Nashrani yang shaum pada tanggal 10 Muharram, sebab itulah untuk membedakannya, rasulullah memerintah untuk memulai shaum pada tanggal 9 Muharram. Allahua’lam bish shawwab

No comments yet»

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: