Rihlah Jam’iyyah

Oleh: Dede Komarudin Soleh
Singapura, sebuah negara kecil berukuran 692,7 Km², merupakan salah satu negara tujuan wisata di Asia Tenggara. Bahkan menjadi negara yang aman untuk menginvestasikan harta jarahan seperti yang dilakukan oleh para pejabat dan konglomerat korup di Indonesia. Pada sebuah kesempatan ketika saya berada di Malaysia, saya mencoba berkunjung ke negara alumni federasi Malaysia tahun 1965 ini, mengingat jarak antara Malaysia dan Singapura sangat berdekatan dan dapat dijangkau dengan transportasi darat, hanya 7 jam dari Kuala Lumpur. Ketika orang-orang berkunjung ke Singapura untuk berlibur, berbelanja, berobat, atau bahkan bersembunyi seperti yang pernah dilakukan oleh mantan bendahara Partai Demokrat, Nazarudin. Saya datang ke Singapura dalam rangka rihlah jam’iyyah mewakili Pimpinan Cabang Pemuda Persatuan Islam Cihampelas-Bandung Barat kepada Persatuan Islam Singapura.

Tidak sedikit jamaah Persatuan Islam di Indonesia yang telah mengetahui bahwa di negara soulmate-nya Israel ini terdapat komunitas muslim yang tergabung dalam jamiyyah Persatuan Islam (Persis). Akan tetapi pada kenyataannya masih banyak pula yang tidak mengetahuinya. Oleh karena itu, untuk sekedar berbagi informasi, sebatang pengalaman mengunjungi Persis Singapura saya goreskan dalam tulisan ini. Adapun informasi yang disampaikan pada tulisan ini merupakan kesimpulan dari dialog langsung antara saya dengan sekertaris Persis setempat, yakni tuan Shamsuri.

Persatuan Islam Singapura didirikan pada tahun 1997 M, dan baru memperoleh izin resmi dari pemerintah setempat pada tahun 1998 M. Para tokoh pendirinya adalah, Ust. Kamarudin, tuan Shamsuri, Ust. Abu Bakar Mustafa, Ust. Amri, Cek Gu Salleh, tuan Sumari, dan tuan Achik. Sebelum mendirikan Persis, pada mulanya para tokoh pendiri ini berada dibawah bendera Muhammadiyyah, akan tetapi karena berbagai hal dan merasa memiliki pemahaman serta visi misi yang sama dengan Persis di Indonesia, maka mendirikan Persis di Singapura pada tahun 1997 M. Saat ini presiden (istilah yang mereka gunakan) Persis Singapura adalah Ust. Kamarudin. Secara administrasi, keanggotaan jamaah Persis Singapura tidak tercatat di Pimpinan Pusat Persis di Indonesia, melainkan secara independen memiliki database keanggotaan. Saat ini dari sekitar 400.000 muslim di Singapura, hanya berjumlah 600 orang yang tergabung dalam jamiyyah Persis, itupun masih terhitung berikut simpatisan.

Sebagai golongan minoritas ditengah-tengah kaum minoritas pula (muslim hanya 15% di Singapura), rintangan yang dihadapi oleh jamaah Persis Singapura dirasa cukup sulit. Satu contoh misalnya, untuk melaksanakan shalat I’ed di lapangan saja mesti mengurus izin setiap tahunnya. “Apabila tak berizin diborgol lah kita semuanya”, ungkap tuan Shamsuri. Sedangkan pengurusan surat izin tidak cukup dari satu instansi pemerintah. Izin tersebut mesti diperoleh diantaranya dari DKM Masjid sekitar lapangan, Kepolisian, MUIS, dan Member of Parliament (di Indonesia DPR). Hal itu tentu sangat merepotkan, sementara pelaksanaan shalat I’ed dilapangan merupakan salah satu sunnah Rasul yang sudah terbiasa diikuti oleh jamiyyah Persis. Sehingga mau tidak mau setiap 2 kali setahun mereka mengurus izin demi bisa melaksanakan shalat I’ed dilapangan. Selain itu, dakwah pun dibatasi, tidak boleh menyinggung masalah politik, terutama yang berhubungan dengan tindakan Israel membantai Palestina. Maklum saja, penguasa Singapura adalah kaum non-muslim. Apalagi Singapura memiliki hubungan yang sangat erat dengan zionis Israel sejak zaman Perdana Menteri Lee Kuan Yew meminang Israel untuk membina pertahanan militer Singapura ditahun 1962-1963 M.

Meski demikian, saya melihat kekuatan berjamiyyah disana, seperti halnya di Indonesia. Hanya saja di Indonesia tidak sedikit kader-kader Persis yang ikut nimbrung di dunia politik praktis lalu bersikap seperti kacang melupakan kulitnya, keluar dari Persis. Hal itu diwujudkan dalam kesungguhan para pengurusnya dalam menyelenggarkan kegiatan pengajian dan pendidikan bagi anak-anak dan remaja sebagai generasi penerus. Misalnya Madrasah Hujung Minggu bagi anak usia 5 tahun sampai 18 tahun yang terbagi kepada tingkat Ibtidaiyyah, Aliyyah, danTakhasus. Meski hanya dilaksanakan setiap hari Sabtu dan Ahad, akan tetapi kurikulum dan metode pengajarannya tidak kalah berkualitas. Adapun bagi jamaah dewasa, setiap hari Selasa, Kamis, Sabtu diselenggarakan pengkajian Al-Qur’an, dan setiap hari Senin, Rabu, Jum’at pengkajian Fiqih. Karena terbatasnya aset bangunan yang mereka miliki, seluruh kegiatan dakwah dan pendidikan kebanyakan diselenggarakan di Markaz Persis Singapura yang berlokasi di Sembawang Road, Singapura bagian Utara, tidak jauh dari stasion Woodlands bagi mereka yang datang dari Malaysia dengan Kereta Api. Selain di markaz, kegiatan pengkajian dilaksanakan pula (kalau tidak salah secara bergilir) dirumah-rumah jamaah Persis diseluruh Singapura, seperti daerah Beduk, Ubi, Tempinas, dan Pasir Ris.

Ketika saya tiba di markaz Persis Singapura, saya melihat perbedaan yang sangat jauh sekali jika dibandingkan dengan kantor PP.Persis di Bandung. Ukurannya jauh lebih kecil, hanya terdiri dari 3 ruangan, 1 dapur, dan 1 kamar mandi. Di salah satu ruangan terdapat sebuah mimbar dan beberapa gulung karpet serta seperangkat alat sound system. Ternyata setiap hari jum’at dilaksanakan shalat jum’at disana. Saya tidak melihat satu masjid pun yang berada dibawah pembinaan Persis, saya kira mungkin karena sulitnya birokrasi disana. Sementara kaifiyah ibadah kebanyakan muslim disana yang menguasai masjid-masjid dipandang belum sepenuhnya sesuai dengan tuntunan Al-Qur’an dan Sunnah. Maka tak ada pilihan lain selain menyelenggarakan shalat jum’at di Markaz. Sekedar informasi, di Singapura pemerintah setempat memberlakukan pemotongan gaji setiap bulannya bagi seluruh pekerja dibawah usia 55 tahun. Pemotongan gaji tersebut dikelola oleh CPF (Central Provident Fund). Sebagai ilustrasi, apabila seseorang memiliki gaji 1.000 SGD (Dollar Singapur), maka yang akan dia terima hanya 750 SGD. Nantinya dari pemotongan gaji tersebut bagi umat muslim sebagian akan dialokasikan untuk kebutuhan mereka, seperti pembangunan dan pembinaan masjid.

Secara administrasi Persis Singapura bergerak secara independen, akan tetapi sebagai ikhwan dalam wadah jam’iyyah, jamaah Persis Singapura merasakan hungungan yang sangat erat dengan Persis di Indonesia,. Apalagi tidak jarang terdengar para pelajar yang dikirim ke Indonesia untuk belajar di pesantren Persis, baik formal maupun non-formal. Seperti yang pernah di jalani oleh Ust. Kamarudin, beliau berguru kepada alm. Ust. Ikin Sodikin selama 5 tahun di Bandung. Oleh karena itu, kekuatan hubungan tersebut mesti senantiasa dijaga dan dilestarikan.

Itulah sedikit informasi terkait Persis di negeri singa, mudah-mudahan kita dapat mengambil ibrah dan mampu membangun ghirah dalam berjam’iyyah. Mengingat untuk saat ini ruang gerak Persis di Indonesia jauh lebih leluasa ketimbang saudaranya di negeri tetangga. Wallahu a’lam bishowab.

No comments yet»

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: