Sejarah Penulisan Al-Qur’an

(Tanggapan untuk TAA)
Oleh: Dede Komarudin Soleh. S.Ud.

Salah satu metode imperialisme barat terhadap Islam adalah melahirkan pasukan orientalis untuk menyerang kekuatan Islam dari sudut aqidah dan pemikiran. Dimulai dengan sebuah research dengan misi rekontruksi, akhirnya keyakinan dan ajaran Islam yang mapan didekontruksi. Upaya tersebut hanya berakhir pada pengibaran bendera putih dari pihak orientalis sebagai simbol kegagalan mereka. Akan tetapi munculnya faham liberalisme ditengah-tengah umat, disatu sisi menjadi bukti keberhasilan mereka dalam upaya penyesatan umat.

Bukti nyata keberhasilan mereka –dalam konteks keIndonesiaan—ialah munculnya “jamaah” yang menamakan diri sebagai Jaringan Islam Liberal. Bagaimana tidak, kelompok tersebut –disadari atau tidak– merupakan kaki tangan para orientalis yang berperan sebagai kurir untuk memasyarakatkan pemikiran-pemikiran yang merusak aqidah umat. Salah satu pemikiran orientalis yang telah berhasil menyesatkan umat adalah gagasan Al-Qur’an Edisi Kritis (a critical edition of the Qur’an).[3] Mewakili Jaringan Islam Liberal, Taufik Adnan Amal adalah korban sekaligus pelakunya. Memang, asumsi ini mungkin sepihak, karena TAA telah mengklarifikasi bahwa beliau tidak menduplikasi pemikiran orientalis.[4] Akan tetapi yang jelas TAA telah ikut serta menggagas dilahirkannya Al-Qur’an edisi kritis dan beliau sendiri seorang pengagum orientalis, dan pastinya gagasan tersebut sangat berbahaya dan akan menimbulkan fitnah dilingkungan umat Islam khususnya.

Pada Masa Nabi Saw.

Pengumpulan Al-Qur’an (jam’ul Qur’an) terbagi kepada dua pengertian, pertama, pengumpulan dalam arti hifzhuhu, yaitu menghafalnya dalam hati, dan kedua, pengumpulan dalam arti kitaabatuhu kulluhu, yaitu penulisan Al-Qur’an keseluruhan.[5] Dan pembahasan ini fokus pada pengumpulan Al-Qur’an dalam arti penulisan.

Penulisan wahyu Al-Qur’an telah dilakukan ketika Nabi Muhammad Saw. masih berada ditengah-tengah para sahabat (umat). Dalam kapasitasnya sebagai nabi yang ummiy,[6] Rasulullah Saw. memerintahkan para sahabat, diantaranya Ali, Muawiyyah, Ubay bin Ka’ab, dan Zaid bin Tsabit[7] untuk menuliskan ayat Al-Qur’an, dan beliau menunjukan tempat ayat tersebut didalam surat.[8] Sebagai contoh misalnya Zaid bin Tsabit dipanggil oleh Rasulullah Saw. ketika turun ayat al-jihad untuk menuliskanya.[9]

Prof. Dr. M.M. Azhami berasumsi bahwa ketika Nabi Muhammad Saw. masih berada ditengah-tengah umat, seluruh Al-Qur’an telah tersedia dalam bentuk tulisan, hal ini didasarkan pada kebiasaan Nabi Saw. memanggil juru tulis untuk menuliskan ayat-ayat yang baru turun.[10] Hanya saja ketika itu teks-teks Al-Qur’an masih terpisah,[11] tulisan yang ada pada seseorang belum tentu dimiliki oleh orang lain. Dan ditulis pada media yang beragam, seperti pelepah kurma, lempengan batu, daun lontar, kulit atau daun kayu, pelana, dan tulang binatang.[12] Tidak seperti ketika pemerintahan Islam dipegang oleh khalifah Abu Bakar Shiddiq, yang mana ketika itu telah dilakukan upaya pengumpulan ayat-ayat Al-Qur’an yang terpisah-pisah,[13] dan pada masa khalifah Utsman bin Affan telah di kodifikasi dan mengalami proses unifikasi.[14]

Adapun metode yang digunakan oleh Nabi Saw. adalah dengan cara mendiktekannya (imla), kemudian sahabat menuliskannya. Setelah dituliskan, kemudian sahabat membacakannya dihadapan Nabi Saw., hal ini dilakukan agar tidak terjadi kekeliruan atau adanya sisipan-sisipan yang bukan merupakan kata-kata Al-Qur’an.[15]

Adapun dalam hal dialek bacaan ( qiro’ah) Rasulullah Saw. mengajarkan bacaan al-Qur’an sesuai dengan dialek para sahabat. Masyarakat muslim di Mekah ketika itu memiliki latar belakang budaya yang beragam[16] dan dialeknya pun beragam. Sebagaimana berbedanya dialek orang Sumatra dengan orang Sunda atau Jawa, sekalipun mereka sedang berbicara dengan Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional. Misalnya mantan presiden Indonesia, alm Suharto, memiliki khas dalam mengucapkan imbuhan –kan, seperti terdengar dalam pidatonya, “mengatakәn”, “menyatakәn”, atau “memutuskәn”.

Pada Masa Abu Bakar Shiddiq.r.a.

Sebagaimana telah disinggung sebelumnya, ketika pemerintahan Islam dipegang oleh khalifah Abu Bakar Shiddiq, telah dilakukan upaya pengumpulan catatan-catatan teks Al-Qur’an. Adapun gagasan pengumpulan catatan-catatan teks Al-Qur’an tersebut berawal dari kekhawatiran Umar bin Khatab ketika melihat kenyataan gugurnya sejumlah besar penghafal Al-Qur’an pada peperangan Yamamah.[17] Beliau khawatir kenyataan yang sama akan terjadi pula ditempat lain. Kemudian Umar mengusulkan kepada khalifah Abu Bakar untuk mengumpulkan catatan-catatan teks Al-Qur’an. Meski pada mulanya khalifah Abu Bakar menolak, akan tetapi akhirnya beliau menerima usulan tersebut. Kemudian khalifah Abu Bakar memanggil Zaid bin Tsabit untuk memerintahkannya dalam pelaksanaan proyek tersebut. Sama halnya dengan khalifah Abu Bakar, pada mulanya Zaid bin Tsabit pun menolak, namun akhirnya bersedia untuk melaksanakan tugas tersebut. Penolakan yang dilakukan oleh Abu Bakar dan Zaid bin Tsabit tidak mengindikasikan bahwa proyek tersebut illegal melainkan karena sikap kehati-hatian para sahabat.

Setelah catatan-catatan teks Al-Qur’an terkumpul, kemudian disimpan ditangan khalifah Abu Bakar sebagai arsip kenegaraan. Sekanjutnya, setelah khalifah Abu Bakar wafat, catatan-catatan tersebut berpindah tangan dan dipegang oleh Umar bin Khatab sebagai khalifah ke 2. Dan setelah khalifah Umar bin Khatab wafat, catatan-catatan tersebut diserahkan kepada putri Umar, yakni Hafsah.[18]

Taufik Adnan Amal menafikan adanya pengumpulan resmi teks Al-Qur’an pada zaman Abu Bakar Shiddiq dengan meragukan otentisitas riwayat terkait pengumpulan Al-Qur’an pada masa Abu Bakar.[19] Hal serupa pernah dilakukan oleh seorang orientalis, yakni Leone Caentani (m.1935) yang mana dia pun melemahkan riwayat terkait dengan menyatakan bahwa hadits tersebut dikarang untuk menjustifikasi tindakan Utsman menghimpun Al-Qur’an. [20]

Pendapat Laone maupun Taufik tersebut diatas keliru, karena fakta pengumpulan teks Al-Qur’an dizaman Abu Bakar memang telah terjadi, dan memiliki akar historis sebagaimana diriwayatkan didalam atsar.

Pada Masa Utsman.r.a

Sebagaimana telah diketahui oleh sebagian besar umat muslim, dalam sejarah peradaban Islam sahabat yang memegang jabatan kekhalifahan ke 3 adalah Utsman bin Affan.r.a..

Salah satu perhatian umat dibawah kepemimpinan khalifah Utsman bin Affan ialah, mereka mengikuti jihad yang membawa Islam hingga ke utara sampai ke Azerbaijan dan Armenia.[21] Mereka adalah kabilah yang berasal dari provinsi yang beragam, sudah barang tentu dialeknya pun berbeda antara yang satu dengan yang lainnya.

Perbedaan dialek tersebut teraktualisasikan pula dalam hal pembacaan ayat-ayat Al-Qur’an, karena memang –diluar kemestian—jauh-jauh sebelumnya Rasulullah Saw. telah mengajarkan Al-Qur’an sesuai dengan dialek mereka masing-masing.

Salah satu dari mereka yang ikut serta dalam peperangan tersebut ialah Hudzaifah bin Al-Yaman. Beliau melihat banyak perbedaan dalam cara-cara membaca Al-Qur’an. Bahkan sebagian bacaan itu bercampur dengan kesalahan, tetapi masing-masing mempertahankan bacaannya, bahkan ada yang sampai saling mengkafirkan.[22] Setelah menyaksikan kenyataan demikian, Hudzaifah melaporkan kepada khalifah Utsman, dan beliau mengatakan:

يَا أَمِيْرُ الْمُؤْ مِنِينَ, أَدْرِكْ هَذِهِ الأُمَّةَ قَبْلَ أَنْ يَخْتَلِفُوا فِي الْكِتَابِ اخْتِلَافَ اليَهُودِ وَالنَّصَارَى

(Wahai amirul mukminin! Ambilah tindakan bagi umat ini sebelum mereka berselisih tentang kitab mereka seperti perselisihan orang Yahudi dan juga Nashrani) [23]

Peristiwa ini terjadi pada tahun 25 H.[24] Menanggapi laporan Hudzaifah bin Al-Yaman, khalifah Utsman mengutus seseorang untuk meminjam catatan-catatan teks Al-Qur’an yang ada pada Hafshah binti Umar. Dan Hafsah pun mengirimkan catatan-catatan itu. Kemudian khalifah Utsman memanggil Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Zubair, Sa’id bin ‘As, dan Abdurrahman bin Haris bin Hisyam.

Diriwayatkan bahwa khalifah Utsman memerintahkan mereka untuk menyalin teks Al-Qur’an dari catatan-catatan yang dipinjam dari Hafsah.[25] Diriwayatkan pula bahwa khalifah Utsman membentuk sebuah panitia yang terdiri dari 12 orang.[26]

Setelah melalui proses seleksi yang cukup panjang maka disalinlah teks Al-Qur’an itu. Dalam melaksanakan proyek tersebut, Khalifah Utsman bin Affan mengkodifikasi (me-mushafkan) dan me-unifikasi Al-Qur’an pada satu qiroah saja, adapun dialek yang digunakan adalah dialek Qurays.[27] Tindakan tersebut diterima baik oleh umat muslim, termasuk diantaranya Ali bin Abi Thalib.

Analisis

Perbedaan motif Abu Bakar dan Utsman dalam pengumpulan teks Al-Qur’an adalah; Abu Bakar melaksanakan upaya pengumpulan catatan-catatan ayat Al-Qur’an yang berceceran karena peristiwa Yamamah yang menelan banyak korban dari kalangan penghafal Al-Qur’an. Sementara upaya Utsman melakukan unifikasi dan kodifikasi Al-Qur’an karena terjadi perbedaan bacaan ditengah-tengah umat.

Akan tetapi meskipun motifnya berbeda, terdapat persamaan diantara keduanya, yakni ketelitian dan selektifitas dalam pengumpulan teks Al-Qur’an. Ketika Abu Bakar melaksanakan proyek pengumpulan catatan teks Al-Qur’an, beliau menetapkan harus adanya dua saksi bagi seseorang yang menyetorkan catatan ayat Al-Qur’an, bahwa catatan itu benar-benar ayat Al-Qur’an yang diajarkan oleh Nabi.[28] Begitupun pada masa Utsman bin Affan, pengumpulan teks ayat Al-Qur’an dilakukan dengan sangat selektif. Ibnu Asakir (w. 571 H) didalam bukunya History Of Damascus, seperti dikutip oleh Prof. Dr. M.M. Azhami, menyebutkan:

Dalam ceramahnya ‘Uthman mengatakan, “Orang-orang telah berbeda dalam bacaan mereka, dan saya menganjurkan kepada siapa saja yang memiliki ayat-ayat yang dituliskan di hadapan Nabi Muhammad hendaklah diserahkan kepadaku.” Maka orang-orang pun menyerahkan ayat-ayatnya, yang ditulis diatas kertas kulit dan tulang serta daun-daun, dan siapa saja yang menyumbang memperbanyak kertas naskah, mula­mula akan ditanya oleh `Uthman, “Apakah kamu belajar ayat-ayat ini (seperti dibacakan) langsung dari Nabi sendiri?” Semua penyumbang menjawab disertai sumpah,dan semua bahan yang dikumpulkan telah diberi tanda atau nama satu per satu yang kemudian diserahkan pada Zaid bin Thabit.

Adapun dengan tindakan Utsman bin Affan melakukan unifikasi bacaan Al-Qur’an dengan dialek Qurays, bukanlah sesuatu yang mensimbolkan sikap otoriter apalagi sikap politis. Hal itu dilakukan semata-mata karena, pertama, pada dasarnya Al-Qur’an diturunkan dengan bahasa Qurays. Kedua, dialek Qurays, sebagaimana dituturkan oleh Ibnu Hajar, merupakan bahasa yang paling baik bagi umat Islam non-Arab yang ingin membaca Al-Qur’an.[29]

Dari sini kita bisa melihat bahwa mushaf Al-Qur’an dengan rasm Utsmani yang ada pada kita saat ini, tidak dihimpun melainkan dengan proses yang begitu apik dan selektif, dan transmisinya bersambung kepada Nabi Saw.. Maka gagasan Al-Qur’an Edisi Kritis sesuatu yang sia-sia dan akan memunculkan persoalan baru ditengah-tengah umat.

Dari uraian sejarah penulisan Al-Qur’an yang penulis uraikan sesingkat-singkatnya diatas yang tentunya memiliki referensi yang terpercaya, dapat ditarik pula kesimpulan bahwa, pertama, sekalipun Al-Qur’an tersedia dalam bentuk tulisan akan tetapi metode pengajaran (imla) adalah yang paling pokok, sehingga tidak dimungkinkan adanya kekeliruan dalam pelafalan yang berimbas pada penulisan. Adapun peng-imla Al-Qur’an sendiri adalah Nabi Muhammad Saw. sebagai penerima wahyu Al-Qur’an. Kedua, sistem transmisi didalam Islam memiliki aturan yang begitu ketat, sehingga tidak dimungkinkan adanya pemalsuan kata-kata didalam Al-Qur’an.

Kenyataan ini menjadi bukti bahwa Al-Qur’an dijaga oleh Allah Swt. sebagaimana didalam Al-Qur’an sendiri ditegaskan.[30]

Tulisan Edisi Kritis Al-Qur’an karya Taufik Adnan Amal, tidak hanya menggugat keabsahan mushaf utsmani, melainkan secara tidak langsung menggugat pula kredibilitas Zaid bin Tsabit sebagai verifikatornya. Padahal kredibilitas Zaid bin Tsabit sebagai pencatat Al-Qur’an di masa Nabi Saw. telah terakui oleh para ulama. Apakah TAA yang hidup 1400 tahun kemudian setelah Nabi Saw., atau Zaid bin Tsabit sebagai sahabat Nabi Saw. yang lebih dapat dipercaya?. Hal ini tidak berarti penulis hendak mengkerdilkan keilmuan TAA, melainkan membuat sebuah pijakan untuk mengukur kredibilitas antara keduanya dalam pengetahuannya tentang teks Al-Qur’an. Wallahu a’lam bi showab.

[1] Taufik Adnan Amal adalah seorang dosen pada mata kuliah Ulum Al-Qur’an di UIN Alauddin Makasar. Beliau menulis sebuah karya tulis berjudul Edisi Kritis Al-Qur’an yang dipublikasikan dalam Wajah Liberal Islam di Indonesia (Jakarta: TUK, 2002), hlm. 78-91

[2] Mahasiswa Fakultas Ushuluddin STAI Persatuan Islam Bandung.

[3] Gagasan Al-Qur’an Edisi Kritis telah dilakukan jauh-jauh sebelumnya oleh para orientalis, seperti: Arthur Jeffery Lihat Adnin Armas. MA..2005. Metodologi Bibel dalam Studi Al-Qur’an; Kajian Kritis. Cet-1. Jakarta: GIP.

[4] Pernyataan TAA bisa dilihat dalam dialognya dengan Dr. Ugi Suharto, pada http://www.inpasonline.com.

[5] Lihat Manna al-Qattan. Mabahits fi Ulum al-Qur’an.tt. Mansyurot al-‘Asr al-Hadits. Hlm 119, selanjutnya disingkat Mabahits.

[6] Ummiy: tidak dapat membaca dan menulis.

[7] Manna al-Qattan. Mabahits. Hlm 123. Prof. Dr. M.M.Azhami didalam bukunya, History Of The Qur’anic Text, menyebutkan sebanyak 65 nama sahabat yang ditugasi oleh Nabi untuk menuliskan wahyu pada periode Madinah. Mereka adalah: Abban bin Sa’id, Abu Umama, Abu Ayyub Al-Anshari, Abu Bakar Ash-Shidiq, Abu Hudzaifah, Abu Sufyan, Abu Salama, Abu Abbas, Ubay bin Ka’ab, Al-Arqam, Usaid bin Al-Hudair, Aus, Buraidah, Bashir, Tsabit bin Qais, Ja’far bin Abi Thalib, Jahm bin Sa’d, Suhaim, Hatib, Hudzaifah, Husain, Hanzala, Huwaitib, Khalid bin Sa’id, Khalid bin Al-Walid, Az-Zubair bin Al-Awwam, Zubair bin Arqam, Zaid bin Tsabit, Sa’d bin Rabi’, Sa’d bin Ubada, Sa’id bin Sa’id, Shurahbil bin Hasna, Talha, Amir bin Fuhaira, Abbas, Abdullah bin Al-Arqam, Abdullah bin Abu Bakr, Abdullah bin Rawaha, Abdullah bin Zaid, Abdullah bin Sa’d, Abdullah bin Abdullah, Abdullah bin Amr, Utsman bin Affan, Uqbah, Ali bin Abi Thalib, Umar bin Al-Khatab, Amr bin Al-As, Muhammad bin Maslama, Muadz bin Jabal, Muawiyyah, Ma’n bin Adi, Muaqib bin Mughirah, Mundzir, Muhajir, Yazid bin Abu Sufyan.

[8] Manna al-Qattan. Mabahits, hlm 123

[9] Ibnu Hajar. Fathul Baari. Vol IX. Kairo: Daarul Hadits. Hlm 22, selanjutnya disingkat Fathul Baari.

[10] Prof. Dr. M.M. Azhami. History Of The Qur’anic Text; From Revelation to Compilation. Edisi Indonesia. Cet. 1. Jakarta: Gema Insani Press. Hlm 73-74, selanjutnya disingkat The History.

[11] Zaid bin Tsabit menuturkan, “قَبِضَ النَّبِيُّ صَلَّى الله عليه وسلم وَلَمْ يَكُنَ القُرْانَ جُمِعَ فِي شَيْئٍ” (Ketika Nabi Muhammad Saw. wafat Al-Qur’an belum dikumpulkan pada sesuatupun [mushaf]), Lihat Ibnu Hajar Al-Asqalani. Fathul Bari. Hlm. Manna Al-Qattan. Mabahits. Hlm 124.

[12] Lihat Manna al-Qattan, Mabahits, hlm. 123, 126

[13] Prof. Dr. M.M. Azhami. The History. Hlm. 83. Manna Al-Qattan didalam Mabahits menyebutkan bahwa pada masa Abu Bakar Al-Qur’an telah dimushafkan oleh Abu Bakar sebagai orang yang pertama mengumpulkan Al-Qur’an dalam satu mushaf (Mabahits, hlm. 127). Akan tetapi –menurut hemat penulis—apa yang diterangkan oleh Prof. Azhami bahwa pada masa Abu Bakar Al-Qur’an baru sampai pada pengumpulan fragmentasinya, lebih kuat, karena berdasarkan pada hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, kata yang digunakan adalah suhuf, sementara suhuf itu sendiri merupakan bentuk jamak daripada kata mushaf. Artinya belum terkumpul dalam satu mushaf.

[14] Manna al-Qattan, Mabahits, hlm. 129

[15] Prof. Dr. M.M. Azhami. The History. Hlm 73

[16] Ibid., Hlm.67

[17] Terjadi pada tahun 11 Hijriyyah dan berakhir pada tahun 12 Hijriyyah. Lihat Ibnu Katsir. Al-Bidayah wa Nihayah. Vol VI. Kairo: Daarul Hadits.

[18] Shahih Bukhary, vol III, kitab fadha’ilul qur’an. Ibnu Hajar. Fathul Baari. vol IX. Hlm 14. Manna Al-Qattan. Mabahits. Hlm 126. Prof. Dr. M.M. Azhami. The History. Hlm 84

[19] Lihat Taufik Adnan Amal. 2002. Edisi Kritis Al-Qur’an dalam Wajah Liberal Islam di Indonesia. Jakarta: TUK, hlm. 80. Dan Taufik Adnan Amal. 2001. Rekontruksi Sejarah Al-Qur’an. Yogyakarta: FkBA. Hlm 141.

[20] Adnin Armas. Makalah: Serangan Terhadap Al-Qur’an dari Orientalis Hingga Islam Liberal. Dipresentasikan pada tanggal 22 Mei 2010 dalam acara Dauroh Imaroh; PW. Pemuda Persis Jabar, di Pesantren Persatuan Islam Katapang, Bandung, Jawa Barat.

[21] Prof. Dr. M.M. Azhami, The History. Hlm. 97, Manna Al-Qattan. Mabahits. Hlm.128

[22] Manna Al-Qattan. Mabahits. Hlm.128

[23] Shahih Bukhary, vol III, kitab fadha’ilul qur’an. Ibnu Hajar. Fathul Baari. vol IX. Hlm 19.

[24] Prof. Dr. M.M. Azhami. The History. Hlm. 98

[25] Ibid., Hlm.98

[26] Ibid., Hlm.98, Prof. Dr. M.M. Azhami mengatakan bahwa riwayat ini tidak terkenal.

[27] Ibid., Hlm.99, Manna Al-Qattan. Mabahits. Hlm 147

[28] Ibnu Hajar. Fathul Baari. Vol IX. Hlm. 9

[29] Ibid., hlm 9

[30] Lihat Al-Qur’an Surat Al-Hijr (15):9

No comments yet»

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: