Pewahyuan Al-Qur’an (Sebuah Tanggapan)

(Tanggapan Untuk MGR)
Oleh: Dede Komarudin Soleh. S.Ud.

Lagu lama, arrangement baru, itulah karya “seni menyesatkan” yang seringkali diluncurkan oleh para aktifis Jaringan Islam Liberal (JIL). Salah satunya adalah tulisan yang dimuat oleh KORAN TEMPO edisi Jumat 4 Mei 2007, berjudul Pewahyuan Al-Qur’an: Antara Budaya dan Sejarah, ditulis oleh Muhammad Guntur Romli, seorang aktifis Jaringan Islam Liberal. Tulisan tersebut cukup menarik untuk ditanggapi, mengingat dari 21 paragraf yang dimuat hampir seluruhnya bermasalah. Bukan dari aspek tata bahasa tentunya. Melainkan karena muatannya yang nyeleneh meski –mungkin—sebagian orang menilainya sebagai sebuah karya intelektual yang tidak bisa dinilai benar dan salah oleh manusia (relativism).

Sumber Wahyu; Tunggal

Pada paragraf pertama Guntur menulis:

“Pewahyuan adalah proses kolektif, baik sumber maupun proses kreatifnya. Ia bukanlah proses yang tunggal”.(KORAN TEMPO, Jum’at 4 Mei 2007)

Membaca paragraf ini –tanpa disertai mentakfirkan—perlu dipertanyakan ke-Islaman sang penulis. Karena dengan berani dia mengatakan bahwa sumber wahyu tidaklah tunggal. Seakan-akan disamping Tuhan ada pihak yang sama berkuasa turut berkontribusi dalam pewahyuan Al-Qur’an, sehingga dikatakan sebagai “proses kolektif”. Padahal Al-Qur’an sendiri menegaskan:

Dan tidak mungkin bagi seorang manusiapun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau dibelakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang dia kehendaki. Sesungguhnya dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana.

Pada ayat ini Allah Swt. menegaskan, “..atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizing-Nya apa yang Dia kehendaki”. Apabila Allah Swt. tidak berkehendak atau tidak mengizinkan, maka malaikat tidak mungkin menyampaikan Al-Qur’an kepada Nabi. Artinya hanya Allah Swt. yang memiliki kuasa untuk mewahyukan Al-Qur’an. Adapun peran malaikat, tak lebih hanya menjalankan tugasnya sebagai hamba Allah Swt. yang diutus untuk menyampaikan wahyu kepada Nabi Saw..

Bahasa Arab; Bukan Bahasa Menteri

Pada paragraf ke-3 Guntur menulis:

“Namun, pendapat ini, menurut hemat saya, rancu. Kata “kami”, bila digunakan sebagai pengganti “saya” atau “aku” untuk memuliak an “lawan bicara”, bukan “si pembicara”. Misalnya, seorang menteri tidak akan menggunakan kata “aku/saya telah melakukan” di depan presidennya, tapi mengatakan “kami telah melakukan”. Sebab, selain menunjukkan penghormatan terhadap lawan bicara, menandakan pengakuan, karena apa yang telah ia lakukan bukanlah hasil kerjanya sendiri, melainkan kerjakolektif.”

Sekilas tampak rasional apa yang diungkapkan oleh Guntur, akan tetapi menganalogikan Allah Swt. dengan manusia sangatlah tidak relevan. Apalagi bahasa Al-Qur’an berbeda dengan bahasa “menteri” seperti yang dicontohkan oleh Guntur. Al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab, sementara dalam bahasa Arab untuk memuliakan lawan bicara yang digunakan adalah dhamir antum meskipun lawan bicaranya mufrad (singular).

Al-Qur’an; Produsen Budaya

Pada paragraf ke-8 Guntur menulis:

“…pendapat Nashr Hamid Abu Zayd bahwa al-nash muntaj tsaqafi (Al-Qur’an merupakan produk budaya) adalah shahih”

Pada masa Al-Qur’an diturunkan, Al-Qur’an ditentang karena menentang budaya Arab jahiliyyah. Keberadaan Al-Qur’an itu sendiri menghadirkan budaya-budaya baru dalam kehidupan bangsa Arab jahiliyyah pada waktu itu. Maka dari sisi manakah Al-Qur’an menjadi produk budaya? Justru kehadiran Al-Qur’an menghadirkan budaya-budaya baru. Dalam segi bahasa misalnya, seperti diterangkan oleh Adnin Armas, menurut Prof. Naquib Al-Attas, bahasa Al-Qur’an adalah bahasa Arab bentuk baru. Sejumlah kosakata pada saat itu, telah di-Islamkan maknanya. [1] Dengan demikian, sejatinya Al-Qur’an pembawa budaya-budaya baru.

Kisah Dalam Al-Qur’an; Wahyu

Pada paragraf ke-9 Guntur menulis:

“Kisah-kisah Al-Qur’an yang di percaya sebagai mukjizat hakikatnya merupakan kisah-kisah yang sudah popular pada zaman itu. Al-Qur’an tidak pernah menghadirkan kisah-kisah yang benar-benar baru…”

Disini yang perlu kita fahami, pertama, kedudukan Al-Qur’an itu sendiri. Al-Qur’an merupakan kitab penyempurna bagi kitab-kitab yang diturunkan kepada nabi-nabi sebelum Nabi Muhammad Saw.. Bahkan sebagai pengklarifikasi atas penyimpangan-penyimpangan yang dilakukan oleh umat setelah kitab-kitab itu diturunkan. Kedua, pengertian daripada Kisah (al-Qissatu) didalam Al-Qur’an. Manna Al-Qathan memberikan pengertian dengan melakukan pendekatan kebahasaan, beliau menjelaskan bahwa al-Qissah berasal dari kataal-Qassu yang berarti mencari atau mengikuti jejak. Dan Qasas berarti berita yang berurutan, sedangkan al-Qisssah berarti urusan, berita, perkara, dan keadaan. Kemudian beliau memberikan penjelasan bahwa Qasas Al-Qur’an adalah pemberitaan tentang umat yang telah lalu, kenabian yang terdahulu, serta peristiwa-peristiwa yang telah terjadi, sejarah bangsa-bangsa, keadaan negeri-negeri, dan jejak setiap umat.[2]

Itulah pengertian Kisah didalam Al-Qur’an, yang disajikan agar menjadi pelajaran bagi umat Nabi Muhammad Saw.. Apa yang dikatakan oleh Guntur bahwa Al-Qur’an tidak pernah menghadirkan kisah yang benar-benar baru adalah keliru. Sesungguhnya Al-Qur’an tidak hanya mengisahkan umat terdahulu, didalamnya dikisahkan pula peristiwa-peristiwa pada masa Rasulullah Saw., seperti perang Badar (QS. Ali Imran: 172, 173, 174), perang Uhud (QS. Ali Imran: 121, 140), perang Hunain (QS. At-Taubah: 25), perang Tabuk (QS. At-Taubah: 38, 49), perang Ahzab (QS. Ahzab), dll.

Adapun pendapatnya bahwa kisah didalam Al-Qur’an merupakan kisah-kisah yang sudah popular pada zaman itu, maka perlu dipertanyakan, kisah yang manakah yang popular itu?. Disini kelemahan Guntur terlihat jelas, dia sama sekali tidak memberikan compare antara berita yang disampaikan oleh Al-Qur’an dengan pengetahuan sejarah di masyarakat pada waktu itu.

Al-Qur’an Bukan Kitab Saduran

Pada paragraf ke-10 dan 11 Guntur menulis:

“Bukti lain bahwa Al-Qur’an tidak bisa melampaui konteksnya adalah kisah tentang Nabi Isa (Yesus Kristus). Sekilas kita melihat bahwa kisah nabi Isa dalam Al-Qur’an berbeda dengan versi Kristen. Dalam Al-Qur’an, Isa (Yesus) hanyalah seorang Rasul, bukan anak Allah, dan akhir hayatnya tidak disalib. Sementara itu, dalam doktrin Kristen, akhir hidup Yesus itu disalib, yang diyakini untuk menebus dosa umatnya”

“Ternyata kisah tentang tidak disalibnya Nabi Isa juga dipengaruhi oleh keyakinan salah satu kelompok Kristen minoritas yang berkembang saat itu, yakni sekte Ebyon…”

Bersambung pada paragraf ke-16:

“Pertanyaan selanjutnya adalah mengapa Al-Qur’an lebih memilih pandangan Ebyon yang minoritas dan keyakinannya dianggap bidah oleh mayoritas Kristen waktu itu? Saya memiliki dua asumsi. Pertama, karena pandangan Ebyon ini lebih dekat dengan akidah ketauhidan Islam. Kedua, sepupu Khadijah bernama Waraqah bin Naufal adalah seorang rahib sekte Ebyon. Kedekatan Waraqah dengan pasangan Muhammad-Khadijah diakui oleh sumber-sumber Islam, baik dari buku-buku Sirah (Biografi Nabi Muhammad), seperti Sirah Ibn Ishaq dan Ibn Hisyam, ataupun buku-buku hadis standar: Al-Bukhari, Muslim, dan lain-lain.”

Pada paragraf-paragraf ini Guntur tampak bersikap menghakimi, seperti bertanya “mengapa anda mencuri?” kepada seseorang yang sama sekali tidak mencuri. Al-Qur’an sebagai kitab yang original diwahyukan kepada Nabi Muhammad Saw. dia asumsikan dipengaruhi oleh kelompok Kristen sekte Ebyon. Kemudian dia pertanyakan “mengapa Al-Qur’an lebih memilih pandangan Ebyon?”. Jelas hal ini merupakan sikap menghakimi, dan sama sekali tidak didukung oleh nash.

Apapun itu nama sektenya, secara historis-geografis agama Kristen tidak memiliki tempat di Mekah. Sementara Mekah merupakan tempat yang paling banyak Al-Qur’an diturunkan. Bahkan ayat yang pertama[3] diturunkan termasuk kategori Makkiyah, –sebagaimana telah diketahui bersama berdasarkan nash yang shahih—ayat tersebut diturunkan di Gua Hira.[4]

Khalid Al-Khazraji, dkk menulis sebuah artikel berjudul The Defense of The Qur’an Against The Bible Borrowing Theory[5], mengutip ungkapan Dr. Nabih Aqel[6] dari bukunyaTarikh Al-Arab Al-Qadim, sebagai berikut:

“The big difference between Christianity and Judaism is that Christianity unlike Judaism didn’t have any bases in Hijaz…” (Perbedaan besar antara Kristen dan Yahudi adalah bahwa Kristen tidak seperti Yahudi, tidak memiliki basis di Hijaz…).

Masih dalam artikel yang sama, dikutip pula pernyataan seorang orientalis, Richard Bell, dia mengatakan:

“…in spite of traditions to the effect that the picture of Jesus was found on one of the pillars of Ka’aba, there is no good evidence of any seats of Crhistianity in the Hijaz or in the near neighbourhood of Makkah or even of Madina” (…meskipun tradisi yang menyatakan bahwa gambar Yesus ditemukan pada salah satu tiang Ka’bah, tidak ada bukti yang kuat mengenai tempat Kristen di Hijaz atau di lingkungan dekat Mekah atau bahkan Madinah )[7]

Dr. Syauqi Abu Khalil[8] menerangkan bahwa Hijaz meliputi Mekah, Madinah, Jeddah, Thaif, Khaibar, Fadak, Tabuk, Dar Bali, Dar Asyja, Dar Muzainah.[9]

Maka bagaimana mungkin Al-Qur’an terpengaruh oleh salah satu sekte Kristen, sementara Kristen sendiri pada waktu itu tidak mempunyai tempat di Mekah. Adapun dengan Waraqah bin Naufal sepupunya Siti Khadijah, jika memang betul beliau adalah seorang Ebyonit[10], tidaklah tentu beliau mempengaruhi Nabi Muhammad Saw.. Untuk berkonklusi bahwa Nabi Muhammad Saw. dipengaruhi oleh Waraqah bin Naufal, harus dibuktikan dengan data yang akurat. Sementara Guntur hanya mengandalkan angan-angan atau setidaknya terjadimisunderstanding ketika dia membaca hadits. Besar kemungkinan Guntur mengacu kepada salah satu hadits –berkenaan dengan wahyu yang pertama kali diterima oleh Rasulullah Saw.– yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, bersumber dari Aisyah. Yang mana Aisyah menuturkan:

…فَانْطَلَقَتْ بِهِ خَدِيْجَةُ حَتىَّ أَتَتْ بِهِ وَرَقَةَ بْنِ نَوْفَلِ بْنِ أَسَدِ بْنِ عَبْدِ العُزَّى، اِبْنُ عَمِّ خَدِيْجَةَ، وَكَانَ اِمْرَأً قَدْ تَنَصَّرَ فِي الجَاهِلِيَةِ، وَكَانَ يَكْتُبُ الْكِتَابَ العِبْرَانِي، فَيَكْتُبُ مِنَ الإِنْجِيْلِ بِالعِبْرَانِيَةِ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ يَكْتُبَ، وَكَانَ شَيْخًا كَبِيْرًا قَدْ عَمِيَ، فَقَالَتْ لَهُ خَدِيْجَةُ: يَا بْنَ عَمِّى، اِسْمَعْ مِنْ اِبْنِ أَخِيْكَ. فَقَالَ لَهُ وَرَقَةُ: يَا بْنَ أَخِي مَاذَا تَرَى؟ فَأَخْبَرَهُ رَسُولُ اللهِ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَمَ خَبَرَ مَا رَأَى، فَقَالَ لَهُ وَرَقَةُ: هَذَا النَّامُوسُ الَّذِي نَزَّلَ اللهُ بِهِ عَلَى مُوسَى، يَا لَيْتَنيِ فِيْهَا جَذَعًا، لَيْتَنيِ أَكُونُ حَيًّا إِذْ يُخْرِجُكَ قَوْمُكَ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَمَ: (أَوْمُخْرِجِيَّ هُمْ). قَالَ: نَعَمْ، لمَْ يَأتِ رَجُلٌ قَطُّ بِمِثْلِ مَا جِئْتُ بِهِ إِلَّا عُوْدِيَ، وَإِنْ يُدْرِكْنِي يَوْمُكَ أَنْصُرْكَ نَصْرًا مُؤَزَّرًا. ثُمَّ لمَْ يَنْشَبْ وَرَقَةُ أَنْ تُوُفِّيَ، وَفَتَرَ الوَحْيُ[11]

(…Kemudian Khadijah mengajak Rasulullah mendatangi Waraqah bin Naufal bin Asad bin Abd Al-Uzza, anak paman Khadijah, yang memeluk agama Nashrani pada masa Jahiliyyah. Ia pandai menulis buku dalam bahasa Ibrani, maka ditulisnya Injil dari bahasa Ibrani seberapa dikehendaki Allah dapat disalinnya. Usianya telah lanjut dan matanya buta. Khadijah berkata kepadanya: “Wahai anak pamanku! Dengarkanlah kabar dari anak saudaramu (Muhammad)” Kemudian Waraqah berkata kepada Rasulullah: “Wahai anak saudaraku! Apakah yang telah terjadi atas dirimu?” Lalu Rasulullah menceritakan kepadanya semua peristiwa yang telah dialaminya. Kemudian Waraqah berkata: “Inilah Namus (malaikat) yang pernah diutus Allah kepada Nabi Musa. Wahai, semoga aku masih hidup ketika itu, yaitu ketika engkau diusir oleh kaummu” Rasulullah bertanya: “apakah mereka akan mengusirku?” Waraqah menjawab: “Betul, belum pernah seorang pun yang diberi wahyu seperti engkau, yang tidak dimusuhi orang. Apabila aku masih mendapati hari itu, aku akan menolongmu sekuat tenaga”. Tidak berapa lama dari itu, Waraqah meninggal dunia dan wahyu terputus untuk sementara waktu.)

Apabila kita simak hadits ini, tidak ada indikasi bahwa Waraqah mempengaruhi Nabi. Pada peristiwa itu Waraqah hanya membenarkan apa yang dituturkan oleh Nabi.

Apabila Guntur keukeuh (Sunda: bersikeras) berasumsi bahwa Nabi Saw. dipengaruhi oleh Waraqah, maka itu sangatlah keliru. Sebab, Waraqah meninggal dunia tak lama setelah kunjungan Nabi Saw. dan Siti Khadijah kepadanya. Sementara pada waktu itu baru 3 ayat wahyu yang diterima oleh Rasulullah Saw. Untuk ayat-ayat selanjutnya sampai ayat yang terakhir diturunkan, Waraqah tidak mengetahui karena beliau telah meninggal. Sudah barang tentu tidak ada kontak antara Nabi dengan Waraqah.

Kalaupun tetap dipaksakan pemahaman Guntur bahwa kedekatan Nabi dengan Waraqah menjadi indikator keterpengaruhan Nabi, lalu mengapa pada hadits ini Waraqah mengatakan, “Inilah Namus (malaikat) yang pernah diutus Allah kepada Nabi Musa”, sedangkan Waraqah seorang Nashrani (pengikut Nabi Isa)?. Didalam kitabnya, Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani menerangkan bahwa didalam sebuah riwayat dari Abu Nuaim dengan sanad hasan tentang riwayat ini, Khadijah datang kepada Waraqah dan menceritakan apa yang terjadi dengan Nabi Muhammad, kemudian Waraqah berkata kepadanya, “Jika kamu mempercayaiku, maka sesungguhnya telah datang kepadanya “Namus Isa”, yang tidak diajarkan oleh Bani Israil kepada anak-anaknya”. Kemudian Ibnu Hajar menyimpulkan, “Dengan demikian terkadang Waraqah mengatakan “Namus Isa” dan terkadang mengatakan “Namus Musa”. Ketika Waraqah berbicara kepada Khadijah, ia mengatakan “Namus Isa” karena Waraqah adalah seorang Nashrani. Sedangkan ketika berbicara dengan Nabi, ia mengatakan “Namus Musa”, karena apa yang akan dihadapi Nabi sama dengan yang dihadapi Nabi Musa”.[12]

Dari keterangan Ibnu Hajar diatas, bisa kita tarik kesimpulan bahwa Waraqah tidak membawa-bawa ke-Nashrani-annya ketika berinteraksi dengan Nabi. Dengan demikian, anggapan bahwa Al-Qur’an dipengaruhi oleh sekte Ebyon tidak memiliki dasar yang dapat dipertanggung jawabkan. Disini tampak jelas kekeliruan Guntur dalam berpendapat atau bahkan dalam menjiplak sebuah pendapat.

Asumsinya bahwa Al-Qur’an dipengaruhi oleh luar Islam, bahkan saduran dari luar Islam sebenarnya nyanyian yang dilantunkan para orientalis jauh-jauh sebelumnya. Seperti: Philip K. Hitti[13], J. Christy Wilson[14], H.A.R Gibb[15], dan lain-lain.

Pendapat mereka ini –termasuk Guntur- sangat bertentangan dengan Al-Qur’an, Allah Swt. berfirman:

Dan kamu tidak pernah membaca sebelumnya (Al Quran) sesuatu Kitabpun dan kamu tidak (pernah) menulis suatu Kitab dengan tangan kananmu; Andaikata (kamu pernah membaca dan menulis), benar-benar ragulah orang yang mengingkari(mu). (Al-Ankabut 29:48 )

Kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru.. Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). Yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat. (An-Najm 53:2-5)

Waraqah Bukan Wali Khadijah

Untuk melegitimasi pendapatnya tentang pengaruh Waraqah dalam pewahyuan Al-Qur’an, pada paragraf ke-17, MGR menulis:

“Waraqah adalah wali Khadijah yang menikahkannya dengan Muhamad….”

Pendapatnya ini mirip –bahkan kemungkinan menjiplak—pendapat seorang pendeta bernama Muhamad Nurdin[16] yang telah lebih dulu mengatakan bahwa wali Khadijah adalah Waraqah.

Didalam bukunya yang berjudul Fiqhu Shirah, Shirah Nabawiyyah; Dirasat Manhajiah Ilmiyah Li Shiratil Mushtafa alaihis Shalatu was Salam, Dr. Muhammad Sa’id Ramadhan Al-Buthy[17] menyebutkan:

…فَأَعْجَبَتْ خَدِيجَةُ بِعَظِيمِ أَمَانَتَهُ, وَلَعَلَّهَا دَهِشَتْ لمَاَ نَالهَاَ مِنَ البَرَكَةِ بِسَبَبِهِ, فَعَرَضَتْ نَفْسُهَا عَلَيْهِ زَوْجَةً بِوَاسِطَةِ صَدِيْقَتِهُا (نَفِيْسَةُ بِنْتُ مُنِيُةِ). فَوَافَقَ النَبِيُ عَلَيْهِ الصَلَاةُ وَ السَلَامُ, وَكَلَمَ فِي ذَلِكَ أَعْمَامَهُ فَخَطَبُوهَا لَهُ مِنْ عَمِّهَا عَمْرُو بْنُ أًَسَدٍ.

(Khadijah tertarik pada kejujurannya, dan ia pun terkejut dengan keberkahan yang diperolehnya dari perniagaan Nabi Saw. Kemudian Khadijah menyatakan hasratnya untuk menikah dengan Nabi Saw. dengan perantaraan Nafisah binti Muniyah. Nabi Saw. menyetujuinya dan menyampaikan hal itu kepada paman-pamannya. Setelah itu mereka meminang Khadijah untuk Nabi dari paman Khadijah, Amr bin Asad) (Fiqhu Shirah, Hlm 44)

Baik Guntur maupun Nurdin, keduanya incorrect dalam memberikan sebuah pernyataan, apalagi Guntur (juga Nurdin) tidak menunjukan keterangan (hujjah) terkait wali Siti Khadijah ketika menikah dengan Nabi Saw.. Sementara sebagaimana disebutkan oleh Dr. Muhamad Sa’id Ramadhan Al-Buthy, pihak yang mewakili/ menerima pinangan dari pihak Nabi[18]adalah Amr bin Asad, bukan Waraqah.

Syariat Islam Adalah Syariat Islam

Selanjutnya masih pada paragraf yang sama, Guntur menulis:

“…Seorang perempuan kali itu –yang kemudian dilanjutkan oleh syariat Islam—tidak bisa menikah tanpa seorang wali laki-laki.”

Asumsi Guntur tidak hanya meyakini bahwa kisah dalam Al-Qur’an menyadur dari luar Islam (sekte Ebyon-Kristen)[19], lebih parah dia berasumsi bahwa syariat Islam adalah jiplakan. Sebagaimana tampak pada tulisannya diatas. Sebelum berangan-angan, seharusnya Guntur mengeksplorasi terlebih dahulu, apa agama yang dianut oleh Siti Khadijah ketika menikah dengan Nabi?, karena dengan cara inilah kita bisa memastikan syariat apakah yang digunakan pada pernikahan Siti Khadijah dengan Nabi Saw..

Beberapa sumber menyebutkan bahwa Siti Khadijah adalah seorang penganut Hanifiyah(agama Ibrahim). Oleh karena aqidah dan akhlaknya berbeda dari bangsa Arab pada umumnya yang mayoritas telah menyimpang (paganism), beliau dijuluki At-Thahirah oleh kaumnya. Maka dari itu, bisa dipastikan bahwa syariat yang digunakan pada pernikahan Nabi dengan Siti Khadijah adalah syariat Nabi Ibrahim (Islam).

Pada paragraf selanjutnya, paragraf ke-18, 19, 20 Guntur menulis:

“Al-Qur’an juga mengisahkan mukjizat Isa (Yesus) masa kanak-kanak, membuat burung-burung dari tanah, kemudian menghidupkannya. Kisah ini memang tidak ada dalam empat Injil (Markus, Matius, Lukas, dan Yohanes), tapi bukan berarti Al-Qur’an adalah sumber tersendiri. Kisah mukjizat Isa (Yesus) masa kanak-kanak ini ada dalam tradisi Gnostik Kristen: Injil masa kanak-kanak Yesus menurut Tomas”

“Kesimpulan saya sementara –yang tentu saja bisa didebat dan dibantah—kisah Isa (Yesus) dalam Al-Qur’an, yang menegaskan bahwa Isa “hanyalah” seorang rasul, bukan anak Tuhan, dan tidak ada penyaliban terhadapnya adalah “saduran” dari keyakinan sebuah sekte Kristen: Ebyon. Alasan Al-Qur’an menggunakan kisah Yesus versi ini, seperti yang telah saya kemukakan: akidah sekte ini sesuai dengan tauhid dan misi Islam, pun sepupu mertua Muhammad: Waraqah bin Naufal, adalah seorang rahib dari sekte Ebyon yang pertama kali “meyakini” Muhamad sebagai nabi.”

Pada paragraf-paragraf ini, Guntur hanya menegaskan asumsinya bahwa Al-Qur’an merupakan kitab “saduran”. Ungkapannya pada paragraf-paragraf ini terkesan memaksakan dan mencari-cari argument untuk membenarkan asumsinya. Bahkan dia membagi “status” Al-Qur’an kepada dua kedudukan, sebagai “kitab keimanan” dan “kitab sejarah”. Sehingga dimunculkan pula dua aspek untuk mempersepsi Al-Qur’an, yakni dari aspek “kitab keimanan” dan dari aspek “kesejarahan”. Sebagaimana nampak pada paragraf terakhir, paragraf ke-21:

“Al-Qur’an sebagai “kitab keimanan” sah-sah saja bila diyakini memiliki sumber tunggal: ia adalah mukjizat, melalui proses yang menakjubkan, hingga diluar nalar manusia. Namun, Al-Qur’an dalam kajian kesejarahan tidak bisa dipandang seperti itu. Dalam ranah ini, Al-Qur’an tetap memiliki banyak sumber dan “proses kreatif” yang bertahan serta berlapis-lapis. Al-Qur’an adalah “suntingan” dari “kitab-kitab” sebelumnya, yang disesuaikan dengan “kepentingan penyuntingnya”. Al-Qur’an tidak bisa melintasi “konteks” dan “sejarah”, karena ia adalah “wahyu” budaya dan sejarah”

Paragraf yang terakhir inilah inti dari pemikiran Guntur, dan telah dibantah pada paragraf-paragraf terdahulu dari tulisan ini. Dan pada salah satu kata dalam paragraf ini –menurut hemat saya—kita bisa melihat pemberangkatan pemikiran Guntur. Bisa kita lihat –meski sebenarnya dari keseluruhan tulisannya sudah terlihat—pada kalimat “karena ia adalah “wahyu” budaya dan sejarah”. Konotasi apakah yang ada dalam benak Guntur sehingga kata wahyu diberi tanda petik? sementara kata budaya dan sejarah tanpa tanda petik. Biasanya –dalam konteks tertentu– ketika seseorang menggunakan tanda petik dalam menyebutkan kata tertentu, maknanya berseberangan dengan kata yang disebutkan, atau meragukan, dan bahkan sindiran. Misal, seorang petinggi partai oposisi ditanya komentarnya terkait kinerja partai lawannya yang sedang memegang pemerintahan, dia mengatakan “Indonesia semakin hari semakin “maju” ”. Pada konteksnya sebagai rival diarena perpolitikan, unusually jika ucapan petinggi itu bermaksud untuk atau bermakna memuji. Begitupula dengan apa yang dikatakan oleh Guntur dalam kapasitasnya sebagai rival bagi kaum muslimin –meski kabarnya dia sendiri muslim—, artinya kewahyuan Al-Qur’an pun diragukan, dan keraguan inilah awal pemberangkatan pemikiran Guntur.

Nabi-Nabi Allah; Islam

Nabi Nuh.a.s (QS. Yunus:71-72)

Dan bacakanIah kepada mereka berita penting tentang Nuh di waktu dia Berkata kepada kaumnya: “Hai kaumku, jika terasa berat bagimu tinggal (bersamaku) dan peringatanku (kepadamu) dengan ayat-ayat Allah, Maka kepada Allah-lah Aku bertawakal, Karena itu bulatkanlah keputusanmu dan (kumpulkanlah) sekutu-sekutumu (untuk membinasakanku). Kemudian janganlah keputusanmu itu dirahasiakan, lalu lakukanlah terhadap diriku, dan janganlah kamu memberi tangguh kepadaku. Jika kamu berpaling (dari peringatanku), Aku tidak meminta upah sedikitpun dari padamu. upahku tidak lain hanyalah dari Allah belaka, dan Aku disuruh supaya Aku termasuk golongan orang-orang yang berserah diri (kepada-Nya)”.

Nabi Ibrahim a.s., Nabi Ismail a.s., Nabi Ishaq a.s., Nabi Ya’qub a.s. (QS.Al-Baqoroh:131-133)

Ketika Tuhannya berfirman kepadanya: “Tunduk patuhlah!” Ibrahim menjawab: “Aku tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam”. Dan Ibrahim Telah mewasiatkan Ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah Telah memilih agama Ini bagimu, Maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam”. Adakah kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia Berkata kepada anak-anaknya: “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” mereka menjawab: “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan yang Maha Esa dan kami Hanya tunduk patuh kepada-Nya”.

Nabi Yusuf a.s. (QS. Yusuf:101)

Ya Tuhanku, Sesungguhnya Engkau Telah menganugerahkan kepadaku sebahagian kerajaan dan Telah mengajarkan kepadaku sebahagian ta’bir mimpi. (Ya Tuhan) Pencipta langit dan bumi. Engkaulah Pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah Aku dalam keadaan Islam dan gabungkanlah Aku dengan orang-orang yang saleh.

Nabi Musa a.s. (QS. Yunus:84)

Berkata Musa: “Hai kaumku, jika kamu beriman kepada Allah, Maka bertawakkallah kepada-Nya saja, jika kamu benar-benar orang yang berserah diri.”

Nabi Sulaiman a.s. (QS. An-Naml:44)

Dikatakan kepadanya: “Masuklah ke dalam istana”. Maka tatkala dia melihat lantai istana itu, dikiranya kolam air yang besar, dan disingkapkannya kedua betisnya. berkatalah Sulaiman: “Sesungguhnya ia adalah istana licin terbuat dari kaca”. berkatalah Balqis: “Ya Tuhanku, Sesungguhnya Aku Telah berbuat zalim terhadap diriku dan Aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Tuhan semesta alam”.

Nabi-Nabi Bani Israil (QS. Al-Maidah:44)

Sesungguhnya kami Telah menurunkan Kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan Kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerah diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya. Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, Maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.

[1] Adnin Armas. Kritik Terhadap Teori Abu Zayd

[2] Manna Al-Qathan. Mabahits fi Ulum Al-Qur’an. tt. Mansyurat Al-‘Asr Al-Hadits

[3] Surat Al-Alaq (96) ayat 1-3

[4] Terletak di sebelah timur laut Masjidil Haram di puncak Jabal Nur. Gunung ini disebut juga Jabal Hira Tingginya sekitar 621 meter dari permukaan laut dan 281 meter dari permukaan gunung. (DR. Muhammad Ilyas Abdul Ghani, Sejarah Kota Mekah. Edisi Indonesia, Hlm.144)

[5] Dipublikasikan di http://www.Islamic-Awareness.org

[6] Profesor Bahasa Arab dan Sejarah Islam Universitas Damaskus.

[7] Richard Bell, The Origin of Islam in its Christian Environment, 1925; 1968 (Reprinted), The Gunning Lectures Edinburgh University & London: Frank Cass and Company Limited, p.42.

[8] Lahir di kota Beit She’an (Palestina) pada tahun 1941. Beliau lulus dari Jurusan Sejarah, Fakultas Sastra, Universitas Damaskus, 1965. Meraih gelar doktor dalam bidang sejarah dari Akademi Ilmu Pengetahuan Azerbaijan. Selain pernah memegang beberapa jabatan penting di Departemen Pendidikan Suriah, beliau juga mengajar di Universitas Damaskus dan beberapa lembaga pendidikan terkemuka lainnya. Saat ini, beliau menjabat sebagai Direktur Editorial Dar al-Fikr, Damaskus. Beliau telah menghasilkan lebih dari lima puluh karya dalam berbagai bidang khususnya tentang peradaban Islam dan Arab.

[9] Dr. Syauqi Abu Khalil. Atlas Hadits. Hlm 132

[10] Imam Ibnu Hajar didalam Al-Fath menerangkan bahwa Waraqah pergi ke Syam bersama Zaid bin Amru bin Nufail karena benci dengan praktek paganisme yang ada, untuk mencari agama baru, sehingga Waraqah tertarik dan masuk agama Nashrani. (Fath Al-BaariI:32). Sumber lain menyebutkan bahwa Waraqah bin Nufail adalah seorang penganut Hanifiyah bersama yang lainnya yang tersebar di Taif, Yatsrib, dan Mekah, mereka adalah Abu ‘Ámir, Umayah bin Abi al-Salt, Zayd bin ‘Amr bin Nufayl, ‘Ubaydullah bin Jahsh, Ka’ab bin Lu`ay, ‘Abd al-Muthallib, ‘As’ad Abu Karb al-Hamiri, Zuhayr bin Abu Salma, ‘Utsman bin al-Ḥuwayrits.

[11] Shahih Bukhary, I:III Bab Kayfa Kaana Bad’ul Wahyi Ila Rasulillahi Sollallahu Alayhi Wa Salam

[12] Lihat: Ibnu Hajar Al-Asqalani. Fath Al-Baari. Kairo: Daar Al-Hadits. Volume I, Hlm 33

[13] Philip K. Hitti, Islam and the West: A Historical Cultural Survey, 1979 (Reprinted), Robert E. Krieger Publishing Company, New York. Dia mengatakan “The sources of the Qur’ân are unmistakable: Christian, Jewish and Arab heathen” (Sumber-sumber Al-Qur’an tidak salah lagi: Kristen, Yahudi dan Kafir Arab)

[14] J. Christy Wilson, Introducing Islam, 1950, New York: Friendship Press. Dia mengatakan “a number of [Qur’ânic stories] may be traced to Jewish Talmudic sources and apocryphal gospels rather than to the Old and New Testaments” (sejumlah [kisah Al-Qur’an] kemungkinan ditiru dari sumber-sumber Talmud Yahudi dan kitab-kitab Injil yang kebenarannya diragukan (tidak asli) daripada Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru)

[15] H. A. R. Gibbs, Mohammadanism: A Historical Survey, 1961, London: Oxford University Press. Dia mengatakan “In view of the close commercial relation between Mecca and Yemen it would be natural assume that some religious ideas were carried to Mecca with the caravans of spices and woven stuffs, and there are details of vocabulary in the Qur’ân which give colour to this assumption” (Mengingat akhir hubungan perniagaan antara Mekah dan Yaman, akan menjadi asumsi yang wajar bahwa pemikiran-pemikiran keagamaan dibawa ke Mekah bersama kafilah-kafilah yang membawa rempah-rempah dan bahan-bahan yang sudah ditenun, dan ada bagian-bagian kosakata didalam Al-Qur’an yang menyemarakan asumsi ini)

[16] Seorang pendeta misionaris yang pernah mempublikasikan buku-buku kristen berkedok Islam, salah satu bukunya adalah Ayat-ayat Penting Didalam Al-Qur’an .

[17] Lahir di Buthan (Turki) tahun 1929. Setelah kudeta yang dilancarkan Kemal Attatruk, beliau berusia 4 tahun, pindah ke Syria bersama ayahnya. Dari Syria beliau menuju Cairo dan meneruskan studinya di Fakultas Bahasa Arab. Dan meraih gelar Dokto di Univ. Al-Azhar dengan predikat Mumtaz Syaf ‘Ula. Beliau menjadi tenaga pengajar di Fak. Syari’ah Univ. Damaskus semenjak 1961. Kemudian Ketua Jurusan Fiqh Islam pada Fak. Syariah dan kemudian menduduki jabatan sebagai Dekan Fakultas pada tahun 1977. Saat ini Dr Sa’id Ramadhan bekerja sebagai Guru Besar di Fakultas Syariah Univ. Damaskus dalam bidang Fiqh Islam.

[18] Dalam buku-buku sejarah Nabi disebutkan bahwa dari pihak Nabi Muhammad Saw. diwakili oleh Abu Thalib dan Hamzah.

[19] Secara eksplisit asumsinya ini bisa ditemukan pada paragraph ke-18 pada tulisannya di KORAN TEMPO.

No comments yet»

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: