Nikah, Why Not?

Oleh: Dede Komarudin Soleh. S.Ud.

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, SUPAYA KAMU CENDERUNG DAN MERASA TENTERAM KEPADANYA, DAN DIJADIKAN-NYA DIANTARAMU RASA KASIH DAN SAYANG. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir”. (Qs.Ar-Ruum : 21).

Tiga golongan yang Allah akan menolong mereka: budak yang hendak menebus dirinya, seorang yang menikah untuk menjaga kehormatannya, dan seorang yang berjihad di jalan Allah. (HR. An-Nasa’i).

Suatu kenyataan yang tidak terelakan telah mengambil bagian pada halaman berita di media massa, baik media cetak maupun elektronik. Dimana perbuatan asusila (baca: mesum) kian subur bak jamur di musim hujan. Disatu sisi media menyebutnya sebagai penyakit masyarakat dan berusaha menampilkan para pejuang yang tidak pernah takut menyisir sudut-sudut gelap dimana para pelaku pornoaksi berpetualang. Namun disaat yang sama pornografi dijadikan komoditas paling menggiurkan untuk dipertontonkan didepan khalayak.

Zaman telah membuktikan kepada kita, apa yang disampaikan Nabi 14 abad yang silam. Ketika sahabat Zubair ibn Adi r.a. mengadu kepada Anas bin Malik r.a. tentang perlakuan buruk seorang pembesar Hijaz bernama Hajjaj, seketika Anas bin Malik r.a teringat sabda Nabi Saw.

لَا يَأتِىزَمَانٌ اِلَّا الَّذِى بَعْدَهُ شَرٌّ مِنْهُ حَتَّى تَلْقَوا رَبَّكُمْ

Tidak datang suatu zaman kecuali yang setelahnya lebih buruk dari sebelumnya sampai engkau bertemu dengan Tuhanmu. (HR. Bukhary)

Maha benar Allah, hari ini kita jumpai sebuah peradaban baru yang dibangun oleh para oknum khalifah dimuka bumi. Hampir setiap hari kita saksikan kemerosotan akhlak yang kian hari kian merenggut identitas kehambaan seseorang dihadapan Allah Swt. Khususnya dalam pergaulan antara kaum laki-laki dan perempuan, jargon suka sama suka dan kebebasan berupaya mengizinkan mereka untuk bertindak sekehendaknya tanpa menghiraukan rambu-rambu agama dan nilai-nilai kemanusiaan. Pada akhirnya melakukan hubungan badan diluar bingkai pernikahan banyak diminati kalangan anak muda.

Ironisnya, fitnah yang tersebar di penjuru negeri lebih mendominasi daripada nasihat para ulama. Betapa tidak, satu kampung belum tentu mendengarkan ceramah seorang ustadz dalam sebuah pengajian yang diselenggarakan di tempat mereka. Sementara fitnah yang disebar melalui media elektronik dengan mudahnya memasuki rumah-rumah. Kalaupun stasiun televisi menayangkan program dakwah, terbukti hanya beberapa jam saja dalam sepekan. Karena tayangan-tayangan yang sarat dengan umbar aurat telah menjadi program unggulan. Mulai dari iklan hingga sinetron selalu mengeksploitasi keindahan tubuh wanita. Akibatnya masyarakat kehilangan apa yang disebut dengan ketabuan.

Padahal Islam telah sangat pengertian terhadap fitrah manusia yang memiliki kecenderungan untuk menyukai dan menginginkan lawan jenisnya. Toleransi yang diberikan Islam adalah disyariatkannya pernikahan dan diarahkannya manusia untuk menyalurkan hasratnya –baik dalam arti biologis maupunpsikologis- disana. Akan tetapi banyak manusia yang tidak bersyukur dan mengabaikan arahan tersebut.

Semua berawal dari paradigma seseorang terhadap pernikahan. Mungkin disini bukan tempatnya untuk membahas apa yang disebut paradigma. Akan tetapi sebagai sebuah gambaran, menarik kiranya untuk menyimak sepenggal kisah berikut.

Ada dua orang tukang bangunan yang sedang terlibat dalam pembangunan masjid. Tukangbatu pertama ditanya tentang pekerjaannya. Dia menjawab bahwa dia sedang membangun masjid. Tetapi, tukang batu kedua punya jawaban yang berbeda. “Saya sedang membangun peradaban” (Irfan Amalee, 2006)

Itulah yang dimaksud dengan paradigma, yakni cara pandang seseorang terhadap sesuatu. Tukang bangunan pertama hanya memandang apa yang dia lakukan tidak lebih dari sekedar membangun masjid. Sementara tukang bangunan kedua memiliki pandangan yang luas dan jauh kedepan. Dimana bangunan masjid hasil karyanya akan menjadi bagian dalam peradaban sebuah masyarakat.

Begitulah kenyataan dilapangan, sebagian memandang pernikahan sebagai sesuatu yang menakutkan terutama dikalangan pelajar. Ironisnya tidak sedikit orang-orang yang mengerti agama justru menghalang-halangi kaum muda untuk menikah diusianya tanpa memikirkan aspek negatif dari pergaulan kebanyakan anak muda masa kini. Sampai-sampai pergaulan antar lawan jenis sulit dibedakan mana yang remaja masjid mana yang bukan. Bukan institusinya yang salah, melainkan karena secara manusiawi tidak ada yang 100% bisa menjamin bahwa akhlak kaum muda dapat terselamatkan dari derasnya arus fitnah yang disebar oleh para pembenci agama Allah. Disini saya tidak berarti berputus asa, hanya berpikir sederhana kalau telah ada solusinya dalam Islam mengapa kita meragukannya.

Kita sepakat bahwa siapapun didunia ini menginginkan masa depan yang gemilang dengan ragam prestasi yang dicapai. Sungguh hal itu merupakan sesuatu yang wajar dan memang seharusnya umat Islam menguasai dunia. Hanya saja alangkah tidak bijaksana ketika keinginan itu disertai penafian atas realitas yang terjadi pada masa kini. Banyak sekali kaum muda yang memiliki idealisme yang tinggi soal masa depan mereka. Ada yang ingin meraih gelar sarjana dulu sebelum menyandang gelar suami, ada yang ingin memperoleh jabatan dulu sebelum menjabat kepala keluarga, dan ada yang ingin membangun rumah dulu sebelum mendirikan rumah tangga. Namun disaat yang sama ia tidak mampu membendung hatinya untuk menyukai lawan jenisnya, maka alternatifnya adalah berpacaran. Mulai dari pacaran gaya “Islami” hingga pacaran ala selebritis, yang kedua-duanya tidak dibenarkan dalam Islam.

Dari aspek maslahat tentu keinginan-keinginan tersebut dapat dibenarkan. Seorang sarjana mungkin akan lebih mudah mendapatkan pekerjaan yang profitable, sehingga hal-hal yang dianggap bisa mengganggu perjalanan studinya mesti dihindari, termasuk menikah disaat kuliah. Sementara realitas yang terjadi, tidak jarang beredar kabar tentang skandal seks yang dilakukanoleh para oknum mahasiswa. Hal ini bukan berarti free sex telah masuk dalam kurikulum. Melainkan sebagai bukti bahwa fitnah bisa dengan mudah memasuki dunia kampus sekalipun, yang notabene tempatnya kalangan terpelajar. Ada banyak mahasiswa S1 yang memperoleh gelar sebelum waktunya, bahkan mirip-mirip gelar S2, MBA (Married By Accident), itulah gelar yang disandang oleh para oknum mahasiswa yang tidak lulus UTS (Ujian Tahan Syahwat).

Sesungguhnya pernikahan bukanlah penghalang bagi seseorang untuk mencapai keberhasilan studi apabila kita benar-benar meluruskan niat karena Allah dan demi menjaga kehormatan diri dan keluarga. Ada banyak orang ternama didunia yang justru menikah disaat mereka sedang menempuh pendidikan. Satu contoh sebut saja Dr. Abdullah Nasikh Ulwan, seorang ulama dan penulis buku yang karyanya banyak digunakan oleh kalangan akademisi di mancanegara, termasuk Indonesia. Beliau menikah dua tahun sebelum kelulusannya di Universitas Al-Azhar, Kairo. Beliau merasakan bahwa pernikahannya banyak memberikan kontribusi atas kesuksesan studinya. Padahal sebelumnya beliau termasuk kalangan yang menganggap bahwa pernikahan adalah penghambat pendidikan. (Lihat: Dr. Abdullah Nasikh Ulwan, Aqabaatuz Zawaaj wa Thuruqu Mu’aalajatiha ‘alaa Dlauil Islam, Cet ke-3, 1983, Daarus Salam, Kairo)

Maka menikahlah jika memang keadaan telah mendesak untuk menikah, kecuali jika bisa menjamin tidak akan terjerumus kedalam fitnah sekecil apapun.Wallahu a’lam bishowwab.

No comments yet»

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: