Mengurai Kembali Kepemimpinan Politik Perempuan

Oleh: Dede Komarudin Soleh. S.Ud.

Pada masa awal sejarah kemanusiaan, Nabi Adam a.s. adalah manusia pertama yang memegang peran sebagai خليفة (khalifah) di muka bumi. Secara bahasa kata خليفة berasal dari kata خلف yang artinya mengganti. Imam Ar-Raghib al-Asfahani memaknai kata خلف sebagai ضد القدّام (kebalikan terdahulu). Didalam kamus al-Munawir kata خليفة bermakna من يخلف غيره (yang menggantikan yang lainnya). Dengan tinjauan ini, kiranya dapat difahami bahwa secara bahasa خليفة berarti pengganti. Adapun dalam konteks Nabi Adam a.s. sebagai khalifah pertama begitupula generasi setelahnya, peran dan fungsi yang diemban adalah sebagai wakil Allah Swt. di muka bumi untuk memelihara lingkungan hidup dan menegakan syariat-Nya.. Sementara dalam kaitannya dengan pemerintahan, didalam Tafsir Al-Azhar disebutkan, untuk mengungkap apa arti khalifah maka kita kaji apa tugas khalifah.

Ketika Nabi Muhammad Saw. wafat, para sahabat kehilangan sosok pemimpin umat, yang memimpin tidak hanya pada wilayah keagamaan, melainkan pada seluruh aspek sosial kemasyarakatan. Maka dari itu para sahabat sepakat untuk mengangkat seorang pengganti (khalifah) untuk memimpin umat, mengatur masyarakat, dan menentukan perang atau damai. Dengan demikian kata khalifah dapat diartikan sebagai pemimpin umat.

Restrukturalisasi kekhalifahan (dalam arti politik) dari generasi ke generasi dipegang oleh kaum laki-laki. Sejak zaman Abu Bakar sebagai khalifah pertama hingga runtuhnya khilafah pada era Mustafa Kemal Ataturk di Turki, tidak ada seorang perempuan pun yang terpilih untuk menjadi khalifah. Katakanlah, Siti Aisyah, beliau adalah sosok yang sangat cerdas dan ahli dalam berpidato, bahkan sebagai pewaris Nabi dan paling berhak untuk mewarisi jabatan kepemimpinan yang sebelumnya diemban oleh Nabi. Namun yang terpilih untuk menjadi pengganti Nabi adalah ayahnya, Abu Bakar Shiddiq.r.a., bahkan atas dasar “rekomendasi” dari Nabi sendiri. Begitu pula Fatimah, salah satu putri Nabi dari Siti Khadijah, meskipun beliau merupakan ahli waris Nabi, akan tetapi yang terpilih dan tampil menjadi salah satu khalifah di era khulafa’u rasyidin adalah suaminya Ali bin Abi Thalib.r.a.

Kepemimpinan politik perempuan memang telah tercatat dalam sejarah peradaban umat manusia. Misalnya, ratu Balqis yang memimpin kerajaan Sabaiyah pada zaman Nabi Sulaiman. Adapula Buran binti Syiruwiyyah bin Kisra bin Barwiz, putri Raja Kisra yang diangkat menjadi pemimpin oleh bangsa Persia dizaman Nabi Muhammad Saw.. Demikian halnya dalam sejarah bangsa Indonesia, sebelum tampilnya presiden wanita pertama di era 2001-2004, sebelum terbentuknya NKRI telah ada para pemimpin wanita ditanah air. Mereka adalah, Tribuana Tungga Devi Jaya Visnu Vardani, yang memimpin kerajaan Majapahit selama 22 tahun ketika kakaknya raja Jayanegara meninggal pada tahun 1328 M, dan Ratu Suhita yang memimpin diakhir kerajaan Majapahit antara tahun 1429-1445 M. Kemudian, kerajaan Aceh Darussalam, pernah pula dipimpin oleh para wanita, yaitu Sultanah Sri Ratu Tajul Alam Safiatuddin (memimpin pada tahun 1641-1675), Sri Ratu Nurul Alam Naqiatuddin (memimpin pada tahun 1675-1678), Sri Ratu Zakiatuddin Inayat Syah (memimpin pada tahun 1678-1688), dan Sri Ratu Kamalat Syah (memimpin pada tahun 1688-1699). Di daerah lain ada Sultan Zakiyatudin Matinroe Ri Tupulue yang memimpin kerajaan Bone-Sulawesi Selatan selama dua periode, tahun 1714-1715 M dan 1724-1775 M, dan Siti Aisyah We Tenriolle yang memimpin di kerajaan Tanete (Sekarang Kabupaten Bulukumba-Sulsel). Barulah pada era modern setelah terbentuknya NKRI, muncul nama Megawati Soekarno Putri yang menjadi Presiden Republik Indonesia. Sementara di Negara lain, sebelumnya telah muncul nama Benazir Bhuto yang memimpin negara Pakistan. Akan tetapi diantara para pemimpin perempuan tersebut diatas, tidak ada seorangpun yang menduduki jabatannya dalam lingkup kekhalifahan Islam yang artinya belum tentu legal secara syariat.

Lantas bagaimanakah Islam memandang keberadaan seorang perempuan dengan bermahkotakan kekuasaan politik? Berikut ini adalah salah satu hadits Nabi yang tentu mesti dijadikan rujukan oleh setiap muslim yang mengimani kenabiannya. Didalam hadits riwayat Bukhari, Nasa’i, Tirmidzi, dan Ahmad, Rasulullah Saw. bersabda, لَنْ يُفْلِحَ قَوْمٌ وَلَّوْا أَمْرَهُمْ اِمْرَأَة

(Suatu kaum tidak akan beruntung, jika dipimpin oleh seorang wanita).

Kelompok Islam Liberal (JIL) beranggapan bahwa hadits ini tidak berlaku secara umum karena asbabul wurud hadits ini berkaitan dengan pengangkatan putri raja Kisra di Persia. Untuk menjawab anggapan tersebut, memang benar hadits ini disabdakan oleh Rasulullah Saw. ketika beliau mendengar berita bahwa bangsa Persia dipimpin oleh seorang anak perempuan raja Kisra. Akan tetapi untuk membuktikan keumuman hadits ini maka bisa kita perhatikan teks Arabnya, yang mana pada matan hadits tersebut terdapat huruf Nafi (لن) sebelum Isim Nakiroh (اِمْرَأَة). Sedangkan dalam sebuah kaidah disebutkan,

إذا وقعت

النَّكرة في سياق النَّفى أو النَّهي أو الشَّرط أو الإستفهام دلّت على العموم

Apabila isim nakiroh terletak setelah nafi, atau nahyi, atau syarat, atau istifham maka menunjukan makna umum.

Dengan demikian dapatlah kita simpulkan bahwa Islam tidak merekomendasikan seorang perempuan untuk menjadi pemimpin politik. Pelarangan ini tentu berdasarkan prinsip keadilan yang mana laki-laki dan perempuan memiliki tugas dan tanggung jawab masing-masing. Baik laki-laki maupun perempuan telah diberi kelebihan masing-masing, sehingga menentukan peran dan fungsinya masing-masing. Misal kewajiban mengikuti perang (jihad) yang dibebankan kepada kaum laki-laki, digantikan dengan haji dan umroh bagi perempuan. Islam menjadikan kaum perempuan sebagai madrasah pertama bagi keturunanya, mereka diperintahkan untuk bersungguh-sungguh dalam mendidik anak-anaknya agar menjadi pribadi yang berkualitas baik dimata agama maupun dimata dunia. Disinilah peran politik perempuan, yakni mempersiapkan para calon pemimpin masa depan, yang cerdas dan berakhalqul karimah. Wallahu a’lam bishowab.

Iklan

No comments yet»

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: