TAFSIR AL-KHAZIN

Dede Komarudin Soleh
Pendahuluan
Al-Qur’an adalah sumber tasyri’ yang pertama dalam Islam, disamping itu, al-Qur’an merupakan petunjuk bagi seluruh umat manusia, khususnya bagi umat muslim. Akan tetapi tanpa pemahaman terhadap al-Qur’an, seseorang akan sulit untuk mengaktualisasikannya dalam amaliah praktis. Ketika nabi Muhammad Saw. masih ada ditengah-tengah umat, untuk memahami maksud suatu ayat di dalam al-Qur’an para sahabat memiliki akses yang sangat mudah, karena persoalan itu bisa langsung ditanyakan kepada Nabi Muhammad Saw. sebagai utusan yang membawa kitab suci al-Qur’an. Begitupun di era tabi’in, mereka berguru kepada sahabat sehingga dapat mempertanyakan kepada sahabat. Sedangkan generasi-generasi setelah Nabi, sahabat, dan tabi’in nampaknya cukup kesulitan untuk memahami al-Qur’an. Maka para ulama berupaya untuk menafsirkan al-Qur’an dengan beragam cara. Lalu upaya tersebut terdokumentasikan dalam kitab yang kemudian dikenal dengan kitab tafsir. Dari sekian banyak kitab tafsir yang disusun oleh para mufassir, Tafsir al-Khazin adalah salah satu diantaranya. Makalah ini mencoba untuk mendeskripsikannya, dengan menyoroti beberapa poin penting yang perlu diketahui berkenaan dengan sebuah kitab tafsir. Yaitu: Biografi penyusun, Latar belakang penyusunan, Sistematika penyusunan, Metode dan Corak yang digunakan oleh penyusun, serta atensi penyusun dalam menafsirkan al-Qur’an.
A. Biografi, Latar Belakang, Sistematika, Manhaj dan Laun Tafsir al-Khazin
a. Biografi Penyusun
Kitab Tafsir yang disusun oleh Al-Khazin lebih dikenal dengan nama تفسير الخازن (Tafsir al-Khazin). Akan tetapi nama sebenarnya bukanlah itu. Nama resmi Kitab tersebut ialah لباب التأ ويل في معاني التنزيل (Lubaab al-Ta’wil fi ma’aani al-Tanzil). Adapun penamaan Tafsir al-Khazin mungkin hanya untuk kepentingan praktis saja, atau untuk mengkaitkan dengan popularitas pengarangnya. Al-Khazin bukanlah bagian dari nama lengkap penyusun kitab ini, akan tetapi itu merupakan sebuah julukan yang melambangkan kapasitas keilmuannya. Maka bisa jadi penyebutan Tafsir al-Khazin pada kitab tafsir karyanya, selain untuk mempermudah, mungkin juga untuk mengkaitkan kitab tersebut dengan popularitas penulisnya. Kitab Tafsir yang muncul pada abad 8 H ini ditulis oleh Al-Khazin, yang memiliki nama lengkap Ala’ al-Din Abu Hasan Ali Abu Muhammad ibn Ibrahim ibn Umar ibn Khalil al-Syaikhi al-Baghdadi al-Syafi’I al-Khazin. Beliau dilahirkan pada tahun 678 H di Baghdad, dan wafat pada tahun 741 H di kota Halb. Semasa hidupnya, Al-Khazin berguru kepada Ibn Al-Dawalibi, ketika masih di Baghdad. Dan beruguru kepada al-Qasim ibn Mudoffir dan Wazirah binti Umar ketika beliau berada di Damaskus.

b. Latar Belakang Penyusunan Tafsir Al-Khazin
Lubaab al-Ta’wil fi ma’aani al-Tanzil selesai disusun pada hari Rabu, tepatnya pada bulan Ramadhan tanggal 10, tahun 725 H. Kitab ini disusun oleh al-Khazin sebagai ikhtisar dari kitab Ma’alim al-Tanzil yang disusun oleh al-Bagawi. Adapula yang menyebutkan –seperti Ibnu Taimiyyah—bahwa kitab ini merupakan ikhtisar dari kitab tafsir yang disusun oleh al-Sa’labi. Sebagai sebuah ikhtisar, sudah barang tentu didalamnya banyak termuat nukilan. Apalagi, dalam muqodimahnya Al-Khazin secara terbuka memberikan statement bahwa apa yang ia lakukan bukanlah sebuah refleksi pemikirannya dalam penafsiran, melainkan sekedar menukil dan mnyeleksi dari kitab induknya, yakni Ma’alim Al-Tanzil.

c. Sistematika Penyusunan
Dalam sistematika penyusunan sebuah kitab Tafsir, dikalangan ahli tafsir terdapat tiga sistematika penyusunan kitab tafsir, yaitu: tartib mushafi, tartib nuzuli, dan tartib maudhu’i. Jika dirujuk kepada tiga sistematika diatas, karya Tafsir al-Khazin termasuk kepada tartib mushafi dalam hal sistematika penyusunannya. Al-Khazin menafsirkan al-Qur’an menurut susunan urutannya didalam mushaf. Dalam hal ini, al-Khazin telah menyelesaikan penafsiran seluruh ayat al-Qur’an, yang dimulai dari surat Al-Fatihah (surat ke 1) sampai surat An-Nas (surat ke 114).

d. Manhaj dan Laun
Manhaj yang diikuti oleh Al-Khazin didalam tafsirnya ialah manhaj tahlili. Yang mana Al-Khazin berusaha menjelasakan seluruh aspek yang terkandung didalam Al-Qur’an. Dalam hal ini, Al-Khazin menjelaskan Al-Qur’an ayat demi ayat dan surat demi surat, menyingkap segi munasabah dan memanfaatkan bantuan asbab al-nuzul, hadits-hadits nabi dan riwayat para sahabat serta tabi’in dalam mengungkap petunjuk suatu ayat. Adapun corak yang mewarnai manhaj tahlili dalam tafsir Al-Khazin adalah tafsir bi al-ra’yi, akan tetapi sebagian berpendapat dan mempertanyakan kejelasan corak tafsir Al-Khazin ini. Sebab bagaimana mungkin sebuah karya tafsir yang merupakan ikhtisar dari sebuah tafsir yang bercorak bi al-ma’tsur bisa bercorak tafsir bi al-ra’yi. Adapula yang berpendapat bahwa corak tafsir Al-Khazin adalah tafsir bi al-ra’yi yang cenderung ma’tsur. Pendapat ini beralasan bahwa disamping realitas tafsir Al-Khazin banyak menukil dari berbagai kitab yang ada sebelumnya (yang bercorak ma’tsur), Al-Khazin pun memasukan riwayat israiliyyat.

B. Atensi al-Khazin
Dalam penyusunan kitabnya, al-Khazin mempunyai perhatian terhadap Fiqih, Sejarah, Mau’izah, dan Israiliyyat. Berikut ini akan dipaparkan secara ringkas berkenaan dengan hal tersebut diatas.
a. Fiqih
Perhatian al-Khazin terhadap Fiqih beliau tunjukan ketika beliau berhadapan dengan ayat-ayat ahkam. Sebagai contoh, ketika menafsirkan al-Qur’an surat al-Baqarah ayat 228:
                                            

Wanita-wanita yang ditalak handaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru’. tidak boleh mereka menyembunyikan apa yang diciptakan Allah dalam rahimnya, jika mereka beriman kepada Allah dan hari akhirat. dan suami-suaminya berhak merujukinya dalam masa menanti itu, jika mereka (para suami) menghendaki ishlah. dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf. akan tetapi para suami, mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada isterinya[143]. dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. al-Baqarah: 228)

Ketika menafsirkan ayat ini, al-Khazin membagi permasalahan iddah kepada empat permasalahan, yakni: iddah wanita yang hamil, iddah wanita yang ditalaq setelah dukhul biha, dan iddah alima.

b. Sejarah
al-Khazin memiliki atensi yang cukup tinggi terhadap sejarah dalam kitab tafsirnya, hal ini dapat dilihat dari porsi yang relatif banyak terhadap sejarah perang Nabi dalam menafsirkan al-Qur’an. Contoh:
             

Dan dia mewariskan kepada kamu tanah-tanah, rumah-rumah dan harta benda mereka, dan (begitu pula) tanah yang belum kamu injak dan adalah Allah Maha Kuasa terhadap segala sesuatu. (AQS. Al-Ahzab: 27)

Ketika menafsirkan ayat ini, al-Khazin menerangkan tentang peperangan Banu Quraidah dengan cukup mendetail. Begitupula ketika menafsirkan ayat ke 33 dari surat al-Ahzab, al-Khazin menerangkan peperangan Khandaq secara terperinci.

c. Mau’izoh
Mau’izah ialah nasihat, tafsir al-Khazin tidak luput dari hal ini. al-Khazin dibeberapa tempat memberikan mawa’iz ketika menafsirkan suatu ayat. Misalnya ketika menafsirkan ayat berikut:
          

Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya dan mereka selalu berdoa kepada Rabbnya dengan penuh rasa takut dan harap, serta mereka menafkahkan apa apa rezki yang kami berikan.
Ketika menafsirkan ayat ini, al-Khazin membahas tentang shalat malam dan anjuran untuk melaksanakannya.
d. Israiliyyat
Inilah salah satu atensi al-Khazin dalam penafsirannya, selain beberapa hal diatas. Meskipun hal ini memberi warna bagi Lubaab at-Ta’wil fi Ma’an at-Tanzil, akan tetapi cerita-cerita israiliyyat yang termuat didalamnya sekaligus menjadi stimulus bagi kritikan-kritikan yang menyerang kitab tafsir ini. Hal ini disebabkan kurang kritisnya al-Khazin terhadap cerita israiliyyat, disamping itu al-Khazin seringkali tidak menyebutkan dari mana sumbernya.

C. Kesimpulan dan Penutup
Dari uraian diatas kiranya dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut:
1. Tafsir al-Khazin yang disusun oleh al-Khazin memiliki nama asli Lubaab at-Ta’wil fi Ma’an at-Tanzil
2. Tafsir al-Khazin merupakan ikhtisar dari Ma’alim at-Tanzil susunan Imam al-Baghawi
3. Tafsir al-Khazin disusun dengan sistematika tartib mushafi dengan metode tahlili, dan memiliki corak bi ra’yi yang cenderung ma’sur
4. Al-Khazin memiliki atensi terhadap Fiqih, Sejarah, Mau’izah, dan Cerita Israiliyyat dalam menafsirkan al-Qur’an

Itulah kiranya kesimpulan yang dapat dipetik dari serangkaian pembahasan diatas.

No comments yet»

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: