PENCIPTAAN

Dede Komarudin Soleh
Allah Swt. telah menundukan alam semesta untuk kelangsungan hidup manusia, sehingga berbagai kemajuan dapat diraih. Akan tetapi –dengan tidak bermaksud men-generalisir– seiring dengan semakin majunya peradaban dan ilmu pengetahuan manusia tentang alam semesta, manusia semakin mengalami kemunduran dalam akidah. Allah Swt. telah membuka rahasia-rahasia-Nya tentang alam semesta, namun manusia semakin menutup hati dan akal untuk mengagungkan-Nya. Semakin mudah menjalani hidup dengan fasilitas alam yang ada, namun semakin meningkat manusia dalam kesombongannya. Begitupun ketika dilanda bencana, manusia hanya berkutat dalam tiga hal, yakni apa yang terjadi? Mengapa bisa terjadi? Bagaimana prosesnya?. Padahal dibalik itu semua ada kekuatan –Allah Swt.—yang menghendaki bencana itu terjadi, namun jarang sekali terangkat dalam wacana dan perbincangan ilmiah mereka. Mengapa hal ini bisa terjadi?. Tak lain karena gagasan filsafat materialisme telah merasuki jiwa, dan itu hanya terjadi pada orang-orang yang enggan berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhamad Saw..
Alam semesta beserta isinya adalah fana, bermula dari ketiadaan dan akan bertemu dengan kehancuran. Segala yang ada dilangit dan di bumi –termasuk manusia—mustahil ada dengan sendirinya. Pada abad ke 19, filsafat materialisme berpendapat bahwa alam semesta beserta isinya terjadi secara kebetulan. Ini merupakan sebuah pendapat yang irasional. Karena, hukum kebetulan hanya terjadi satu kali. Telah lahir bermilyaran manusia dengan proses yang sama, apakah itu bisa dikatakan sebagai sebuah kebetulan?. Begitu juga dengan gerak dan rotasi bumi dengan hitungan yang akurat dan sistematis, yang terjadi secara berkelanjutan –selama kehidupan alam berjalan—apakah ini sebuah kebetulan. Atau sekiranya ada ilmuwan yang berpendapat bahwa alam semesta berasal dari partikel-partikel beku yang kemudian menyatu, lalu siapakah yang menciptakan dan menggerakan partikel-partikel itu?. Maka tak dapat disangkal lagi, segala yang terjadi di jagad raya ini, ada yang menciptakan, mengatur, dan mengurusnya. Lalu siapakah Zat yang Maha Pencipta itu?. Para saintis berlomba-lomba untuk bereksperimen, lalu mereka perkenalkan hasil temuannya. Lebih dari itu mereka pun perkenalkan siapa dirinya, riwayat hidupnya, dan kronologi penemuannya. Tak lain hal itu dilakukan agar dunia mengenalnya. Lalu apakah pencipta alam semesta ini lalai untuk memperkenalkan siapa Dia?. Tentu saja tidak, maka betapa logisnya Dia perkenalkan diri-Nya kepada umat manusia. Dan tak lain Dialah Allah Swt. Sang Maha Pencipta seluruh Jagad Raya.
(Yang memiliki sifat-sifat yang) demikian itu ialah Allah Tuhan kamu; tidak ada Tuhan selain Dia; Pencipta segala sesuatu, maka sembahlah Dia; dan Dia adalah Pemelihara segala sesuatu. (Al-An’aam:102).
Melalui Al-Qur’an yang diwahyukan kepada Nabi Muhamad Saw. Allah Swt. memperkenalkan diri-Nya sebagai Zat yang telah menciptakan segala sesuatu di jagat raya ini. Tidak ada sesuatupun yang dapat menandinginya. Mungkin perlu diakui manusia bisa menciptakan alat telekomunikasi, transportasi, dan lain sebagainya. Akan tetapi segala sesuatu yang diciptakan oleh manusia berawal dari sesuatu yang telah ada, dan sesuatu yang telah ada itu Allah Swt. lah yang menciptakannya. Manusia hanya memanfaatkan fasilitas dan menjalankan fungsi yang telah ada. Lalu masih sajakah memarjinalkan Allah Swt. dalam kajian ilmiah tentang alam semesta?. Padahal apa yang diterangkan didalam Al-Qur’an yang diturunkan 14 abad yang lalu, yang berkenaan dengan alam semesta dan seluruh makhluk yang ada, telah banyak dibuktikan oleh sains pada abad modern. Hal ini menunjukan betapa otentiknya Al-Qur’an sebagai Firman Tuhan. Al-Qur’an telah memberikan petunjuk yang dapat memecahkan misteri eksistensi materi, serta misteri apapun yang ada dibaliknya. Lalu siapakah pewahyu kitab suci Al-Qur’an jika bukan Allah Swt. Maka jelaslah, hanya Allah Swt. Sang Maha Pencipta seluruh Jagad Raya.

Penciptaan Alam Semesta dan Tujuan Diciptakannya
Allah Swt. menciptakan alam semesta dari ketiadaan. Pendapat yang beranggapan bahwa alam semesta telah ada sejak waktu yang tak terbatas, tidak mempunyai awal dan akhir, sebagaimana yang digagas oleh kalangan materialisme pada abad ke 19, telah dibantah oleh sains modern pada abad ke 20. Teori “Big Bang” yang muncul pada era 1929 M, meruntuhkan anggapan kalangan materialisme tersebut. Sedangkan Al-Qur’an telah membicarakan hal itu 14 abad yang lalu. Munculnya teori “Dentuman Besar”, selain meruntuhkan gagasan kaum materialis, teori itu sekaligus membuktikan kebenaran Al-Qur’an tentang penciptaan alam semesta.
Adapun tujuan Allah Swt. menciptakan alam semesta, adalah untuk memfasilitasi kelangsungan hidup manusia. Meskipun alam semesta diciptakan lebih dulu daripada manusia, akan tetapi Allah Swt. menciptakannya dengan tujuan khusus, yakni untuk kelangsungan hidup manusia.
Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. (Al-Baqoroh:29).
Didalam sebuah karyanya yang telah diterjemahkan kedalam Bahasa Indonesia, Harun Yahya menerangkan:
Abad ke-20 juga menyaksikan kehancuran klaim materialis yang kedua: bahwa segala sesuatu di jagat raya adalah hasil dari kebetulan dan bukan rancangan. Riset yang diadakan sejak tahun 1960-an dengan konsisten menunjukkan bahwa semua keseimbangan fisik alam semesta umumnya dan bumi kita khususnya dirancang dengan rumit untuk memungkinkan kehidupan. Ketika penelitian ini diperdalam, di-temukan bahwa setiap hukum fisika, kimia, dan biologi, setiap gaya-gaya fundamental seperti gravitasi dan elektromagnetik, dan setiap detail struktur atom dan unsur-unsur alam semesta sudah diatur dengan tepat sehingga manusia dapat hidup. Ilmuwan masa kini menyebut de-sain luar biasa ini “prinsip antropis”. Prinsip ini menyatakan bahwa setiap detail alam semesta telah dirancang dengan cermat untuk me-mungkinkan manusia hidup.

Penciptaan Manusia dan Tujuan Diciptakannya
Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur- angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (adapula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya…
(Al-Hajj:5)

Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik.
(Al-Mu’minun:13-14)

Bukankah dia dahulu setetes mani yang ditumpahkan (ke dalam rahim), kemudian mani itu menjadi segumpal darah, lalu Allah menciptakannya, dan menyempurnakannya. lalu Allah menjadikan daripadanya sepasang: laki-laki dan perempuan. Bukankah (Allah yang berbuat) demikian berkuasa (pula) menghidupkan orang mati?
(Al-Qiyamah:37-40)

Dari Abi Abd Rahman Abdillah Ibn Mas’ud.r.a. berkata: Rasulullah mengatakan kepada kami, kejadiannya sesungguhnya seorang dari kalian dikumpulkan pada perut ibumu selama 40 hari berupa tetesan (nutfah), kemudian menjadi segumpal darah (alaqah) dalam waktu yang sama, kemudian menjadi segumpal daging (mudghah) juga dalam waktu yang sama. Sesudah itu Malaikat diutus untuk meniupkan ruh kedalamnya dan diutus untuk melakukan pencatatan empat kalimat, yaitu mencatat rizkinya, usianya, amal perbuatannya, dan celaka atau bahagianya.
(HR. Muslim)
Banyak ayat dan hadis yang menerangkan proses penciptaan manusia, diantaranya seperti yang diuraikan diatas. Cukuplah keterangan-keterangan ini menjawab persoalan umat manusia, yang mungkin mengalami kebingungan untuk mengetahui asal-usulnya. Al-Qur’an telah menerangkan hal ini 14 abad yang lalu, sedangkan para saintis baru menemukan ilmu tentang embrio pada akhir abad 13 M. Artinya, kebenaran Al-Qur’an sebagai Firman Tuhan tidak dapat dibantah lagi. Dan Allah Swt. mutlak sebagai satu-satunya Zat Yang Maha Pencipta. Adapun tujuan Allah Swt. menciptakan manusia, dapat kita simak pada ayat berikut:
Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.
(Adz-Dzariyat:56)
Wallahu a’lam bishowab

DAFTAR BACAAN:
Al-Qur’an Al-Karim.
Al-Sabouni, Muhamad Ali. 2003. Gerak Dan Rotasi Bumi; Realitas Ilmiah Dalam Al-Qur’an. Jakarta: Dar Al-Kutub Al-Islamiyyah.
Asy-Sya’rawi, Muhamad Mutawali. 1994. Rahasia Allah Dibalik Hakikat Alam Semesta. Bandung: Pustaka Hidayah.
Asy-Sya’rawi, Muhamad Mutawali. 1999. Bukti-Bukti Adanya Allah. Jakarta: Gema Insani Press.
Purwakania Hasan, Aliah. 2006. Psikologi Perkembangan Islami. Jakarta: PT. Raja Grafindo.
Rahman, Afzalur. 2007. Ensiklopediana Ilmu Dalam Al-Qur’an. Bandung: Mizania.
Seyyed Hossein Nasr,dkk.1996. Evolusi Ruhani; Kritik Perenialis Atas Teori Darwin. Bandung: Mizan

Iklan

No comments yet»

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: