Orientalis

ORIENTALIS
Oleh: Irham Shidiq
Pembahasan

1.Timbulnya Orientalisme

* Orientalisme ini hakekatnya adalah lanjutan dari perang Salib, melawan Islam, sebab sebenarnya perang Salib ini belum berhenti, tetapi hanya mengambil bentuk dan warna yang berbeda, di antaranya Orientalis.(Kepentingan Kajian Ilmiah)

*Asal kata “Orientalisme” bahasa Arabnya al istisyraaq, mashdar fiil: Istasyraqa. Artinya, “mengarah ke Timur dan memakai pakaian masyarakatnya.”
Bukti yang paling jelas mengenai hubungan Orientalisme dengan penjajahan yaitu bahwa Para

2. Tujuan Dan Motivasi Orientalis
a. Agama
b. Ekonomi
c. Politik

2. Usaha Orientalisme Dalam Memerangi Islam Dengan Bersenjatakan Ilmu.

* Salah satu contoh dapat kita kemukakan di sini, yaitu “apa” yang ditulis oleh salah seorang Orientalis yang bernama Gold Tziher (Buku-buku karangan Gold Tziher ini di zaman Belanda dijadikan standard pengetahuan agama di Fakultas-fakultas Hukum). Untuk mengetahui maksud jahat mereka dan peranannya dalam menindas Islam dan menggerogoti da’wah Islamiyah dengan menggunakan ILMU sebagai alat dalam mencapai tujuannya.
Orientalis tersebut mengatakan dalam buku yang dikarang oleh Gold Tziher, yang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab oleh Dr. M. Yusuf Musa dkk, berjudul AL AQIDAH WAS SYARI’AH FIL ISLAM, halaman 15, berbunyi:
“… Maka pemberitaan-pemberitaan kegembiraan oleh Nabi Arab itu bukanlah suatu yang baru, melainkan hanya merupakan kutipan-kutipan yang diambilnya dari pengetahuan-pengetahuan dan pokok-pokok fikiran agama-agama yang diketahuinya atau diperolehnya akibat hubungannya dengan tokoh-tokoh Yahudi atau Kristen dan lain-lain. Hal itulah yang berbekas dan berpengaruh pada Muhammad secara mendalam, yang menurut dia (Muhammad) pantas sekali untuk membangunkan jiwa dan perasaan keagamaan yang sejati di kalangan anggota-anggota kaumnya.”
                    •                     
*“Katakanlah (hai Muhammad), Ajaran ini diturunkan oleh Yang Maha Tahu rahasia langit dan bumi, dan Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (al Furqanو,25 : 4-6).
     •               
* “Jika kamu ragu pada apa yang Kami turunkan pada hamba-Ku, maka datangkanlah satu surat yang serupa Qur’an itu, panggil saksi-saksimu yang selain Allah, jika kamu benar, andaikata kamu tidak sanggup membuatnya, dan pasti kamu tak akan sanggup berbuat itu, maka takutlah kamu pada api neraka yang sebagai kayu bakarnya ialah manusia dan batu yang disediakan untuk orang-orang kafir.” (al Baqarah, 2 : 23).

4.Cara Orientalisme menggerogoti da’wah Islam
a. Kristenisasi
b. Membenamkan ummat Islam ke dalam aliran-atiran fikiran yang menyesatkan
– Materialisme
– Wujudiyah = Existentialism.
– Sekularisme.
c.Menghancurkan/MembasmiBahasaArab

5.Usaha propaganda Penyesatan Orientalis
a.AliranTasauf
b.Bahaiy
c.Al-Qadyaaniyah
2.MenggunakanMassMedia
3.Membesar-besarkanTradisiKuno

6. Tokoh-Tokoh Orientalis
a. Theodor Noldeke (1836-1931)
b. Joseph Schacht (1902-1969)
c. Ignaz Goldziher (1850-1921)
7. Usaha-Usaha Orientalis
Dalam melaksanakan misinya mempelajari dunia Timur, penganut orientalisme mengadakan kegiatan-kegiatan terencana, di antaranya:
(1) Mengadakan kongres-konres orientalis, dengan membahas issu-issu yang berkembang di Timur mengangkut georgafi, histori, antropologi, agama dan bidang lainnya;
(2) Mendirikan lembaga-lembaga ketimuran, seperti di Prancis Sylvester de Sacy mendirikan Ecole des Langues Orientales Vivantesthe school of oriental studies London Institution (1917), di Belanda didirikan Oosters Instituut Leiden (1971) dengan tokohnya Snouck Hurgronje, Logemann dll. sedangkan di Amsterdam ada Instituut voor het mederne nabije oosten yang dipimpin oleh G.E. Pijper; (1795);
(3) Mendirikan organisasi-organisasi ketimuran;
(4) Menerbitkan Ensiklopedia dan buku-buku;
(5) Menerbitkan Majalah-majalah.
Kegiatan-kegiatan ini dilakukan untuk mendukung misi dan sikap mereka terhadap Timur, terutama Islam. Di antara sikap mereka tersebut menurut Ghurab adalah sikap-sikap lama yang pernah ditunjukkan kaum musyrikīn dan ahl al-kitāb terhadap Islam pada masa lalu, sikap tersebut antara lain:
(1) Menganggap bahwa al-Qur’an bukan merupakan wahyu dan Muhammad bukan Rasulullah.
(2) Menganggap bahwa Islam adalah ajaran yang penuh distorsi dan kekurangan, hingga secara spiritual sama sekali tidak sah. Bahkan ajaran Islam disebut sebagai Muhammadanisme (Agama Muhammad);
(3) Menuduh bahwa Nabi Muhammad adalah orang yang haus kekuasaan, dengan menyatakan bahwa tabiat yang ada pada Muhammad bukanlah sosok ahli pikir atau filosof agama, karena itu ia memusatkan pada kekuasaan dan sama sekali tidak mengarahkan perhatian pada pembentukan aqidah;
(4) Menganggap hadits sebagai hasil rekayasa sahabat dan bukan berasal dari Rasul.
Dengan demikian, menurut Zufran Rahman (1995, h. 148) –dengan mengutip Musthafa al-Siba’i dari al-Isyrāq wa al-Mustasyrikūn– bahwa jika diamati ternyata taktik dan methode penulisan buku-buku orientalisme ialah membuatnya seolah-olah ilmiah dan objektif,
di antara trik yang mereka lakukan adalah :
(1) Menentukan ide, kemudian mencari dalil-dalil yang dapat menguatkan ide tersebut walaupun secara dipaksakan dan tidak mengena, bahkan tanpa mempedulikan dari mana sumber pengambilannya (jika perlu buku-buku dongeng atau lelucon-lelucon yang sama sekali tidak ilmiah);
(2) Dalam tulisannya, mereka awalnya memuji Islam untuk menarik simpati para pembaca kemudian melancarkan tuduhan dan pandangan buruk yang dapat merusak kebaikan yang sebelumnya dipuji;
(3) Menonjolkan kesalahan dan kelemahan kaum muslimin sebagai kekeliruan ajaran Islam, bukan karena kebodohan dan kesalahan mereka terhadap nilai-nilai Islam;
(4) Membesar-besarkan kekeliruan dan kesalahan yang kecil dari umat Islam, sehingga memungkinkan untuk mencoreng lembaga sejarah dan peradaban Islam dan memupuskan segala kebaikan Islam.
* Maka yang digembar-gemborkan adalah isu naasikh-mansuukh, soal adanya surat tambahan versi kaum Shi’ah, isu “Gharaaniq” dan lain sebagainya.
* Ada pula yang apriori mau merombak susunan ayat dan surah Al-Qur’an secara kronologis, mau “mengoreksi” bahasa Al-Qur’an ataupun ingin merubah redaksi ayat-ayat tertentu.
* cerita-cerita dalam Al-Qur’an banyak yang keliru dan tidak sesuai dengan versi Bible yang mereka anggap lebih akurat.
8. Otentisitas Al-Qur’an
* Pada prinsipnya Al-Qur’an bukanlah ‘tulisan’ (rasm atau writing) tetapi merupakan ‘bacaan’ (qira’ah atau recitation) dalam arti ucapan dan sebutan.Baik proses turun-(pewahyuan)-nya maupun penyampaian, pengajaran dan periwayatan-(transmisi)-nya dilakukan melalui lisan dan hafalan, bukan tulisan.Dari dahulu, yang dimaksud dengan ‘membaca’ Al-Qur’an adalah “membaca dari ingatan (qara’a ‘an zhahri qalbin; to recite from memory).”
* Rasm atau Khatt berfungsi sebagai penunjang semata. Sebab ayat-ayat Al-Qur’an dicatat—yakni, dituangkan menjadi tulisan diatas tulang, kayu, kertas, daun, dan lain sebagainya—berdasarkan hafalan, bersandarkan apa yang sebelumnya telah tertera dalam ingatan sangqari’muqri
Syarat-SYarat: (1) Diriwayatkan secara mutawaatir, (2) Sesuai dengan rasm mushaf Utsmaani atau-lebih tepatnya-sesuai dengan salah satu dari 6 masaahif rasm Utsmaani (yakni yang dikirim ke Mekkah, Basrah, Kuufah, Damaskus, Madiinah, dan yang disimpan oleh Khaliifah Utsmaan r.a sendiri). (3) Sesuai dengan salah satu kaidah bahasa Arab).
Perlu ditegaskan bahwa dalam kaitannya dengan orthografi mushaf ini, secara umum qira’aat yang diterima karena telah memenuhi tiga syarat di atas dapat dikategorikan sebagai berikut:
1. Dua qira’at yang berbeda, tapi ditulis dengan salah satunya, seperti “s-r-t” (siraat), “y-b-s{-t{” (yabsutu), “m-s-y-t-r” (musaythir). Semuanya ditulis dengan shaad, padahal aslinya siin, maka dibaca dengan shaad sesuai rasm, dan juga dibaca dengan siin sesuai asal katanya.
2. Dua qira’aat atau lebih yang berbeda, tapi ditulis dengan satu bentuk rasm yang bisa menampung semuanya, seperti rasm “k-b/t-r” yang mewakili dua qira’aat “Qul fii-hima ithmun kabiir/kathiir” (QS. 2:219), sebab dalam rasm Utsmaani semuanya ditulis tanpa titik, baris atau harakat. Contoh lainnya dalam QS. Al-Hujuraat ayat 6 : rasm “f-t-b/th-y/b-n/t-w-” dapat menampung dua qiraat sekaligus : “fa-tabayyanuu” dan “fa-tathabbatuu.”
3. Kata atau kalimat dalam qira’aat yang mengandung tambahan atau pengurangan dan tidak mungkin ditulis dua kali atau lebih karena akan tercampur dan dapat mengacaukan. Misalnya (QS. 26 : 217) tersebut di atas. Contoh lainnya dalam QS. 2 : 132, di mana terdapat dua qira’aat : “wa wassaabihi” dan “wa awshaa.” Yang pertama dibaca oleh selain Nafi’, Ibnu ‘Amir dan Abu Ja’far, sehingga dalam mushaf yang dikirim ke Syaam dan Madiinah tertulis : “wa awshaa,” sementara dalam mushaf yang dikirim ke Kuufah dan Bashrah ditulis tanpa alif, “wa washshaa”.
* Yang masuk kategori ketiga cukup banyak. Sebagaimana ditegaskan oleh Prof. Dr. Sha’baan Muhammad Ismaaiil dari Universitas al-Azhar, jumlah qira’aat yang ditulis dengan rasm berbeda-beda dalam mushaf Utsmaan, tanpa pengulangan, mencapai 58 kata
* Proses transmisi dilakukan dengan isnaad secara mutawaatir dari generasi ke generasi.
* Kodifikasi Yang Jelas
* Lagu Yang Terpelihara
9. Asumsi Keliru
* Pada tahun 1927, Alphonse Mingana, pendeta Kristen asal Iraq dan guru besar di Universitas Birmingham Inggris, mengumumkan bahwa “sudah tiba saatnya sekarang untuk melakukan kritik teks terhadap Al-Qur’an sebagaimana yang telah kita lakukan terhadap kitab suci Yahudi yang berbahasa Ibrani-Arami dan kitab suci Kristen yang berbahasa Yunani
* Orientalis mengira Al-Qur’an dibaca berdasarkan tulisannya, sehingga ia boleh seenaknya berspekulasi tentang suatu bacaan.
Menganggap tulisan adalah segalanya, menganggap manuskrip sebagai patokan, sehingga suatu * bacaan harus disesuaikan dengan dan mengacu pada teks.
* Menyamakan Al-Qur’an dengan Bibel, di mana pembaca boleh mengubah dan mengutak-atik teks yang dibacanya bila dirasa tidak masuk akal atau sulit untuk difahami. Ketiga asumsi ini dijadikan titik-tolak dan fondasi argumen-argumennya taken for granted, tanpa terlebih dahulu dibuktikan kebenarannya.
* Nentuk kekecewaan terhadapBibel, di mana tulisan—manuscript evidence dalam bentuk papyrus, scroll, dan sebagainya—memegang peran utama dan berfungsi sebagai acuan dan landasan bagi Testamentum alias Gospel.
* Jeffery, Wansbrough dan Puin, misalnya, berangkat dari sebuah asumsi keliru, menganggap Al-Qur’an sebagai ‘dokumen tertulis’ atau teks, bukan sebagai ‘hafalan yang dibaca’ atau recitatio. Dengan asumsi keliru ini (taking “the Qur’an as Text”) mereka lantas mau menerapkan metode-metode filologi yang lazim digunakan dalam penelitian Bibel, seperti historical criticism, source criticism, form criticism, dan textual criticism.
* seorang orientalis bernama Gustav Fluegel menerbitkan ‘mushaf’ hasil kajian filologinya. Naskah yang dibuatnya itu ia namakan Corani Textus Arabicus. Naskah ini sempat dipakai “tadarrus” oleh aktivis Jaringan Islam Liberal (JIL). Selain Flegel, datang Theodor Noeldeke yang berusaha merekonstruksi sejarah Al-Quran dalam karyanya Geschichte des Qorans (1860), sebuah upaya yang belakangan ditiru oleh Taufik Adnan Amal, juga dari Jaringan Islam Liberal (JIL).
* Orientalis juga salah-faham mengenai rasm Al-Qur’an. Padahal ragam qira’aat telah ada lebih dahulu sebelum adanya rasm. Mereka juga tidak mengerti bahwa rasm Al-Qur’an telah disepakati dan didesain sedemikian rupa sehingga dapat mewakili dan menampung perbagai qira’aat yang diterima. Misalnya, dengan menyembunyikan (hadhf) alif pada kata-kata berikut :
1. “m-l-k” (QS. 1:4) demi mengakomodasi qira’at ‘Aasim, al-Kisa’i, Ya’qub dan Khalaf (“maaliki”-panjang), sekaligus qira’ast Abu ‘Amr, Ibnu Katsir, Nafi’, Abu Ja’far, dan Ibnu ‘Amir (“maliki”—pendek).
2- “y-kh-d-‘-w-n” (QS. 2:9) sehingga memungkinkan dibaca “yukhaadi’uuna” (berdasarkan qira’at Nafi’, Ibnu Katsir dan Abu ‘Amr) dan “yakhda’uuna” (mengikut qira’at ‘Ashim, al-Kisa’i, Ibnu ‘Amir dan Abu Ja’far)
3. “w-‘-d-n-‘ ” (QS. 2:51) ditulis demikian untuk menampung qira’at Abu ‘Amr, Abu Ja’far, Ya’qub (“wa’adnaa”–pendek, tanpa alif setelah waw) dan qira’aat Ibnu Katsir, ‘As{im, Al-Kisaa’i serta Ibnu ‘Amir (“waa’adnaa”-waw panjang, dengan alif).

10. Usaha Umat Islam dalam Menangkis Serangan Orientalisme
a.Defensif
Agar Ulama-ulama, Juru Da’wah, Muballigh serta pemimpin-pemimpin Islam aktif menangkis tuduhan-tuduhan, pemalsuan dan propaganda berbisa yang sengaja dilontarkan oleh Orientalis, supaya ummat Islam sadar, insaf dan lebih aktif membahas dan mempelajari ajaran agama Islam dan mengamalkannya.
Di samping ilmu dan kesungguhannya itu PERLU ADANYA IKATAN (ORGANISASI) Juru-juru Da’wah dan Organisasi Da’wah untuk menghimpun dan.mengatur kerjasama dan mengatur taktik dan strategi Islam.
b.Tabligh
Agar ummat Islam aktif menyiarkan dan menyebar luaskan ajaran Islam ke seluruh negeri yang belum beragama dan ke negeri-negeri yang belum sampai padanya ajaran Islam. Ini pun memerlukan adanya juru da’wah yang militan dan ulet, berilmu dan mengerti betul tentang Islam, cerdas, dan tergabung dalam kelompok mubaligh guna menghadapi lawan-lawan Islam dalam segala bentuk, nama dan tindakan serta serangannya seperti dijelaskan di atas.
Ingatlah firman Allah dalam surat Ali Imran ayat 104, yang artinya: “Hendaklah di antara kamu ada ummat yang menyeru kepada kebaikan, melakukan yang ma’ruf dan mencegah yang munkar mereka itulah orang yang menang.”
Surat As-Shaf ayat 14, yang artinya: “Wahai orang-orang beriman! Hendaklah kamu menjadi Pembela agama Allah, seperti yang dikatakan oleh Isa bin Maryam kepada pengikutnya: Siapa yang akan menolongku untuk menegakkan agama Allah? Dijawab oleh pengikutnya spontan (langsung): ‘Kami ansharullah’ (Pembela Agama Allah).”

Penutup
* “Kenali musuhmu!” (Know thy enemies!) merupakan motto sekaligus senjata orientalis dan missionaris Yahudi-Kristen dibalik semua kegiatan dan kegigihan mereka dalam mengkaji Islam dan seluk-beluknya dari segala aspek.
* Adalah “naive” kalau kita, umat Islam, bersangka baik terhadap orang yang “tidak akan pernah ridho” pada kita dan senantiasa memusuhi kita.
* Adalah tidak bijak kalau kita menelan mentah-mentah apa yang mereka katakan dan mereka tulis. Lebih naive lagi, kalau kita membeo dan ikut-ikutan apalagi melakukan apa yang mereka suruh, seperti merendahkan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa-sallam, menjelek-jelekkan para sahabat dan Taabi’iin, meremehkan para ulama salaf, meragukan otoritas dan otentisitas tradisi keilmuan Islam, lalu dengan arogan mau membuat edisi kritis Al-Qur’an, menolak hadiits secara total (inkarussunnah), membuat tafsir dan hukum tanpa metode yang bertanggung jawab dan jauh dari pedoman Al-Qur’an.

Sumber-Sumber
1. Islam.blog.re.or.id/orientalisme
2. ainuamri.wordpress.com/2007/11/01/orientalisme/
3. http://www.scribd.com/doc/2368567/Orientalisme
4. islamlib.com/id/artikel/alquran-dan-orientalisme/
5. http://www.gaulislam.com/sosok-orientalisme-dan-kiprahny
6. http://www.assyaukanie.com/articles/al-quran-dan-orientalisme
7.www.acehinstitute.org/index.php?…orientalisme
8. http://www.hidayatullah.com/…/2056-al-quran-orientalisme-dan-luxenberg-pertama

No comments yet»

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: