Tanggapan Terhadap Muhammad Guntur Ramli

Tanggapan terhadap tulisan Muhammad Guntur Romli
(Aktivis Jaringan Islam Liberal –JIL)
“Pewahyuan Al-Quran : Antara Budaya dan Sejarah”
(Koran Tempo, Edisi Jum;at, 4 Mei 2007)
Oleh : Irham Shidiq
(Mahasiswa Jurusan Tafsir Hadits Smester VI STAI Persis Bandung)
Semua yang sdr. Guntur tulis pada rubric tersebut mengundang permasalahan yang serius dan harus ditanggapi secara benar agar kita tidak ikut terbawa kepada pemikiran yang beliau dan kawan-kawannya gagas. Adapun permasalah yang dimaksud, saya bisa kemukakan secara garis besarnya sebagai berikut :
1. Lafadz نحن dalam Al-Quran terkait proses penurunan wahyu menurut pandangan beliau adalah merupakan proses kolektif (kolektif-kreatif/ keikut sertaan Nabi Muhammad saw., dan malaikat Jibril selain daripada Allah swt),
2. Al-Quran merupakan “saduran” dari sebuah keyakinan sekte Kristen : Ebyon.
3. Al-Quran tidak bisa melampau konteks (Al-Quran tidak bisa lepas dari dua factor
yang membentuknya : sejarah (al-Tarikh) dan konteks (al-Waqi’)
4. Kisah Nabi Isa disalib dan mukjizatnya membuat burung dari tananh kemudian menghidupkannya merupakan kisah dari Gnostik Kristen
5. Waroqoh bin Naufal adalah seorang Kristen sekte Ebyon, beliau yang menjadi wali Nabi saw., ketika menikah dengan Khodijah
6. Pernikahan Islam merupakan saduran dari pernikahan ala Kristen
Tanggapan :
Pertama, bahwa apa yang disampaikan oleh Sdr. Guntur Romli tidak sepenuhnya salah. Dalam tata bahasa Arab, ada kata ganti pertama singular ( misalnya ana ), dan ada kata ganti pertama plural ( misalnya nahnu ). Sama dengan tata bahasa lainnya seperti Inggris dengan kata ganti pertamanya “I” atau kata ganti pertama plural “We”. Akan tetapi, dalam bahasa Arab, kata ganti pertama plural dapat, dan sering, difungsikan sebagai singular. Dalam ilmu “nahwu-sharaf”, hal demikian ini disebut “al-Mutakallim al-Mu’adzdzim li Nafsih-i”, kata ganti pertama yang mengagungkan dirinya sendiri. Dalam kaitannya dengan penghormatan terhadap lawan bicara seperti yang dinyatakan oleh Sdr. Guntur Romli harusnya bukan merujuk pada diri sipembicara itu sendiri tetapi merujuk pada lawan bicara, seperti misalnya ketika kita menyebut kata “kamu” dengan “Antum” dan bukan “Anta” meskipun lawan bicara kita itu hanya satu orang.
Sehingga sama sekali tidak rancu apabila dipahami penggunaan kata “Kami” atau “NAHNU” dalam kaitannya kepada diri Tuhan yang dipakai pada al-Qur’an adalah bentuk jamak yang seringkali sifatnya menunjukkan penghormatan dan keagungan-Nya dan bukan sebagai bentuk jamak dari Dzat-Nya ataupun harus selalu berkonotasikan keterlibatan makhluk diluar Dia. Memang adakalanya kata “KAMI” melibatkan unsur makhluk (kerja kolektif) dalam prosesnya. Ini bisa kita lihat misalnya dalam ayat-ayat berikut

“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya”. (QS AL-Hijr (15) :9)
“Dan al-Qur’an itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian”. (QS AL-Israa (17) :106)
“Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan”. (QS AD-Dukhaan (44) :3)
“Allah mengakui al-Qur’an yang diturunkan-Nya kepadamu. Allah menurunkannya dengan ilmu-Nya dan malaikat-malaikat pun menjadi saksi”. (QS AN-Nisa’ (4) :166)
Secara tekstual ayat-ayat tersebut berbicara mengenai proses turunnya al-Qur’an pada Nabi Muhammad dan kontekstual dari ayat-ayat ini merujuk pada kejadian dimana Allah memang bekerja secara kolektif dengan melibatkan Jibril sebagai perantara diri-Nya kepada sang Nabi. Kita bisa mengambil persamaan sistem kerja kolektif Allah ini juga terhadap ayat berikut :
“Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah”. (QS AR-Ra’d (13) :11)
Sehingga apa yang menjadi argumentasi Sdr. Guntur Romli bahwa al-Qur’an itu secara maknawi bersumber dari Allah dan redaksionalnya hasil kompilasi Jibril dengan Muhammad tidak dapat dibenarkan. Malaikat dalam kasus-kasus ini adalah bertindak sebagai penyambung lidah dari Dzat Yang Maha Halus kepada hamba-Nya Muhammad.
“Tidaklah mungkin al-Qur’an ini dibuat oleh selain Allah … tidak ada keraguan di dalamnya, (diturunkan) dari Tuhan semesta alam”. (QS Yunus (10) :37)
“Bahkan mereka mengatakan: “Muhammad telah membuat-buat al-Qur’an itu”, Katakanlah:” (Kalau demikian), maka datangkanlah sepuluh surat-surat yang dibuat-buat yang menyamainya, dan panggillah orang-orang yang kamu sanggup (memanggilnya) selain Allah, jika kamu memang orang-orang yang benar”. (QS Huud (11) :13)
“Ruhul Qudus menurunkan al-Qur’an itu dari Tuhanmu dengan benar”. (QS AN-Nahl (16) :102)
“Dan sesungguhnya al-Qur’an itu dalam induk Al-Kitab (Lauh Mahfuzh) di sisi Kami, adalah benar-benar tinggi (nilainya) dan amat banyak mengandung hikmah”. (QS AZ-Zukhruf 43:4)
Kita tidak bisa mengelak dari kenyataan bahwa jika yang dimaksud sebagai originalitas wahyu itu terletak pada tulisannya, maka sejarah membuktikan bahwa penulisan al-Qur’an mengalami perubahan demi perubahan dalam menuju kesempurnaan tata bahasa yang ada pada peradaban manusia khususnya pada bahasa Arab, dimana huruf Arab mengalami perkembangan (ber-evolusi) dari sebelum ada tanda baca menjadi ada tanda bacanya, dari sebelum ada ditulis batas pemberhentian pembacaan menjadi ada batasnya dan seterusnya,misalnya, kata Ya’lamu dalam huruf Arab gundul, bisa dibaca Yu’limu, Yu’allimu, Yu’lamu maupun Yu’allamu yang membuatnya bisa berbeda arti. Karenanya yang dimaksud sebagai wahyu yang terjaga adalah isi, pesan keilmuan dan dan cara membaca dari al-Qur’an itu sendiri. Bila kemudian Sdr. Guntur menyatakan bahwa redaksi al-Qur’an merupakan sebuah kompilasi bersama antara Allah, Jibril dan Muhammad maka disinilah letak kelirunya.
Sebab secara umum yang diyakini oleh umat Islam, redaksi al-Qur’an yang berasal dari Allah tidak mengalami perubahan dalam proses konversi kepada Jibril dan juga kepada Muhammad. Misalnya secara sederhana adalah perkataan : Yaa Ayyuhannas maka Yaa Ayyuhannas itulah yang tetap dipertahankan redaksinya dari Jibril kepada Muhammad sampai kemudian dikonversi dalam bentuk tulisan al-Qur’an sampai jaman sekarang ini, tidak malah diubah dari Yaa Ayyuhannas menjadi Yaa Ayyunal-Insan meskipun keduanya memiliki arti yang serupa, atau dari kata Minal Jinnati Wannas diubah menjadi Minannas wal Jinni meskipun sekali lagi keduanya tidak berbeda dari sisi arti atau maknawi. Adapun penggunaan kata nahnu atau Kami dalam artian keterlibatan makhluk yang dirujuk oleh al-Qur’an bukan dalam hal peredaksiannya tetapi lebih kepada proses yang terjadi secara empiris terhadap redaksional itu sendiri. Sebagai contoh adalah ketika Allah merujuk penjagaan al-Qur’an dalam surah al-Hijr ayat 99 yang merupakan bentuk ataupun cara dari keterjagaan redaksional wahyu melalui usaha penghafalan umat Muslim dalam berbagai bentuknya termasuk disetiap pembacaan dan pengulangan ayat-ayat al-Qur’an disetiap salat, perlombaan musabaqoh tilawatil Qur’an yang menghasilkan Qori dan Qori’ah yang hafidz Qur’an dan sebagainya. Contoh lainnya bisa juga diambil dari cerita penciptaan manusia seperti dalam surah al-Hujurat ayat 13 yang merupakan mekanisme kerja Allah yang menggunakan proses dan hukum sebab-akibat dan seterusnya .
Kemudian yang menjadi sorotan sdr. Guntur adalah Qs. Al-Hijr ayat 9 :
  •    

Ketika mengembalikan tafsir tersebut kepada pendapat salah seorang pakar tafsir (bi al-Ra’yi) yaitu Imam al-Fakhru al-Razi beliau member tafsiran terhadap ayat tersebut :
المسألة الأولى : أن القوم إنما قالوا : { ياأيها الذي نُزِّلَ عَلَيْهِ الذكر } [ الحجر : 6 ] لأجل أنهم سمعوا النبي صلى الله عليه وسلم كان يقول : « إن الله تعالى نزل الذكر علي » ثم إنه تعالى حقق قوله في هذه الآية فقال : { إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذكر وَإِنَّا لَهُ لحافظون } .
فأما قوله : { إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذكر } فهذه الصيغة وإن كانت للجمع إلا أن هذا من كلام الملوك عند إظهار التعظيم فإن الواحد منهم إذا فعل فعلاً أو قال قولاً قال : إنا فعلنا كذا وقلنا كذا فكذا ههنا .

Menurut beliau pada awalnya ayat tersebut merupakan bantahan terhadap sekelompok kaum yahudi yang meragukan kenabian Nabi saw., dan al-Kitab yang dibawa oleh beliau. Maka allah menurunkan surat al-Hijr ayat 9. Adapun terkait lafadz “nahnu” sebagaimana dituduhkan oleh sdr,. Guntur sungguh sangat keliru menurut tradisi manusia sendiri (orang arab) sebagaimana yang dikutip oleh imam al-Fakhru al-Razi :
“apabila orang arab berbuat satu pekerjaan atau mengatakan satu perkataan mereka suka mengatakan ;’sesungguhnya kami mengerjakan pekerjaan ini. Sesungguhnya kami mengatakan perkataan ini’. Demikian pula ayat ini secara kebiasaan penggunaan bahasa orang arab sama pula demikian”.
Kemudian juga dalam bahasa komunikasi Al-Quran Allah menggunakan kata-kata jamak buka hanya pada lafadznahnu nazzalna saja, melainkan juga pada lafadz auhaina, nuuhi, qulna, alhamna yang tidak hanya tertuju pada manusia saja dan pada zaman Nabi Muhammad saja?a
Kedua, Ebyon meamang sebuah sekte dalam paham Kristen. Irenaeus menyebutnya dengan “kekristenan Yahudi Ebyon”. dalam bukunya Adversus Haereses atau Melawan Para Bidah I, 26. 1-2 menulis tentang sekte ini yang jika kita rangkum maka akan menghasilkan kesimpulan :
1. Monoteisme
2. Kristologi adopsionis
3. Menolak doktrin kelahiran Yesus dari perawan Maria
4. Menggunakan hanya Injil Matius (tanpa kisah kelahiran dan silsilah Yesus)
5. Mempraktekkan sunat
6. Memelihara Taurat
7. Menjalani gaya hidup sangat Yudaistik
8. Mengambil kiblat ke kota suci Yerusalem ketika berdoa
9. Memakai kitab para nabi dengan cara yang khas
10.Menolak Rasul Paulus dan mencapnya sebagai bidah
Dari data diatas tentang satu sekte dalam aliran faham Kristen tentu saja masih ada banyak penulis Kristen abad-abad pertama yang juga memberi laporan-laporan tentang kekristenan Yahudi yang mereka kenal secara langsung atau secara tidak langsung,. Gambaran tentang kekristenan Yahudi yang terungkap ternyata kompleks dan beraneka ragam, sebab setiap penulis Kristen, selain melaporkan fakta-fakta sejarah yang heterogen, juga memasukkan perspektif teologis masing-masing demi mempertahankan kepentingan-kepentingan ideologis gerejawi mereka. Bagimanapun juga, sepuluh ciri doktrinal religius ini dapat dikatakan berlaku secara universal bagi kebanyakan kekristenan Yahudi perdana. Tapi apakah benar Al-Quran memang merupakan kitab saduran dari sekte Ebyon? Mengingat berdasarkan data, sekte inipun masih terdapat penyimpangan disamping kita harus benar-benar yakin sesuai ajaran Islam terhadap persoalan ini.
Dalam buku Parasit Aqidah Selintas Perkembangan dan sisa-siasa Agama Kultur disebutkan mengenai firqoh-firqoh pertama dari sisa-sisa agama kultur pada agama bangsa Yahudi terbagi kepada :
a. Orang-orang yang mematuhi ajaran shalom ajaran nabi Isa as., secara murni, beri’tiqad tiada ilah kecuali Allah Yang Maha Esa dan Isa as., adalah Rasul-Nya khas untuk bani Israil. Dalam peribadatannya, mereka ruku dan sujud, mengharamkan pembuatan patung-patung. Dalam hal makanan mereka mengharamkan babi dan penyembelihan untuk berhala. Anak laki-laki mereka dikhitan. Golongan ini dikejar-kejar, sebagian mereka bermukim di Najran, sebagian pula pergi ke sekitar Bakkah, Yatsrib, lembah Yordan dan adapula yang bermukim di Persia
b. Firqoh Nashrani yang menamakan dirinya”kelompok Sophia (ahli hikmah)” menyebarkan Injil keluar Bani Israil, mereka tidak segan-segan mengambil peribadatan, upacara dan dongeng-dongeng agama lain dan disadur dan di Nashranikan
c. Firqoh Sauliyah, dibangsakan kepada Saul atau Paulus, seorang Yahudi Farisi, yang lahir sembilan tahun lebih muda dari Nabi Isa as., ZSaul adalah seorang anak yang kaya raya dari Tarsus. Ayahnya mencalonkan Saul menjadi rahib lalu berguru pada Gamalil. Semula ia menentang NAbi Isa as., tetapi akhirnya ia membentuk sebuah firqoh Nashrani baru yang ajarannya berupa ajaran pembaruan dari pelbagai agama yang disatukan dan disadur. I’tikadnya mengambil filsafat Yunani :
“Yesus adalah gambar Tuhan, makhluk awal, sinar Tuhan dan cermin wujud Tuhan itu”.
Dengan dalih wahyu dari Yesus, ia menghilangkan khitan, menghalalkan babi, menigakan Tuhan, membuat peribadatan baru dengan nyanyian pujian, diiringkan music. Firqoh Sauliyah itu pecah dalam beberapa aliran : a) Aliran Justinos Martyr (90-165), b) Aliran Basilides (120-165), c)ALiran Markion, d) Aliran Tertullianus, e) Aliran Ireneus, f) Aliran Clemens dari Iskandariyah, g)Aliran Origenens dari iskandariyah, h) Aliran Arius, i)Aliran Athanasius, j) Aliran Gregorius Nyssa (354-394), k) Aliran Nasturiyah, l) Aliran Kerajaan Malkani.

Dari pemaparan buku Parasit Aqidah Selintas Perkembangan dan sisa-siasa Agama Kultur diatas nampaknya memang ada firqoh/sekte faham Kristen yang benar-benar murninmerupakan ajaran Samawiy namun tidak disebutkan nama aliran firqoh atau sekte tersebut. Saya menghargai penulis buku tersebut ketiadaan disebut firqoh atau sekte dalam faham Kristen bukan lupa atau sengaja, melainkan memang tidak ada keterangan yang menyebutkan demikian. Adapun sekte Ebyon yang dituduhkan sdr. Guntur yang terkesan dipaksakan untuk dipersamakan dengan ajaran Islam nampaknya masih perlu dikaji ulang seperti memebaca kembali kisah tentang Waroqoh bin Naufal salah seorang yang memegang ajaran Nabi Isa yang masih murni dan karena dialah yang pernah dijadikan konsultan oleh Khodijah terkait peristiwa yang menimpa Nabi ketika menerima wahyu pada masa-masa awal selain mengingat penulis buku Parasit Aqidah Selintas Perkembangan dan sisa-siasa Agama Kultur adalah seorang pakar sejarah, jadi mana mungkin lupa atau bahkan sengaja tidak menyebutkan namanya. Toh nama-nama sekte yang lainpun disebut secara jelas.
Memang terdapat juga ayat yang tercantun dalam Qs. Al-maidah ayat 44 :
         •                  ••                
Terkait ayat ini imam al-jashsash menafsirkan
رُوِيَ عَنْ الْحَسَنِ وَقَتَادَةَ وَعِكْرِمَةَ وَالزُّهْرِيَّ وَالسُّدِّيِّ ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُرَادٌ بِقَوْلِهِ : { يَحْكُمُ بِهَا النَّبِيُّونَ الَّذِينَ أَسْلَمُوا لِلَّذِينَ هَادُوا } قَالَ أَبُو بَكْرٍ : وَذَلِكَ لِأَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَكَمَ عَلَى الزَّانِيَيْنِ مِنْهُمْ بِالرَّجْمِ وَقَالَ : { اللَّهُمَّ إنِّي أَوَّلُ مَنْ أَحْيَا سُنَّةً أَمَاتُوهَا } وَكَانَ ذَلِكَ فِي حُكْمِ التَّوْرَاةِ ؛ وَحَكَمَ فِيهِ بِتَسَاوِي الدِّيَاتِ وَكَانَ ذَلِكَ أَيْضًا حُكْمَ التَّوْرَاةِ ؛ وَهَذَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّهُ حَكَمَ عَلَيْهِمْ بِحُكْمِ التَّوْرَاةِ لَا بِحُكْمِ مُبْتَدَأِ شَرِيعَةٍ .
فَتَضَمَّنَتْ هَذِهِ الْآيَةُ مَعَانٍ : مِنْهَا الْإِخْبَارُ بِأَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ حَكَمَ عَلَى الْيَهُودِ بِحُكْمِ التَّوْرَاةِ .
وَمِنْهَا : أَنَّ حُكْمَ التَّوْرَاةِ كَانَ بَاقِيًا فِي زَمَانِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنَّ مَبْعَثَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمْ يُوجِبْ نَسْخَهُ ؛ وَدَلَّ ذَلِكَ عَلَى أَنَّ ذَلِكَ الْحُكْمَ كَانَ ثَابِتًا لَمْ يُنْسَخْ بِشَرِيعَةِ الرَّسُولِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ .
وَمِنْهَا إيجَابُ الْحُكْمِ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ تَعَالَى وَأَنْ لَا يَعْدِلَ عَنْهُ وَلَا يُحَابِي فِيهِ مَخَافَةَ النَّاسِ .
وَمِنْهَا : تَحْرِيمُ أَخْذِ الرُّشَا فِي الْأَحْكَامِ ، وَهُوَ قَوْله تَعَالَى : { وَلَا تَشْتَرُوا بِآيَاتِي ثَمَنًا قَلِيلًا }
Menurut keterangan diatas memang ada syari’at terdahulu (Nabi Musa) yang dipakai oleh Nabi Muhammad bahkan tidak dirubah sama sekali. Dan itupun dilakukan oleh para pemegang ajaran yang dibawa oleh Nabi Musa dan Isa as., Namun yang harus diperhatikan adalah bagaimana Nabi bisa mengetahui bahwa itu syari’at Nabi Musa terlebih syari’at tersebut adalah syari’at yang tercantum dalam kitab Tauret? Bukankah Nabi tidak ahli sejarah yang pandai membaca kitab-kitab klasik? Maka ini membuktikan Nabi semata-mata menetapkan sebuah syari’at tidak menyadur dari keyakinan agama lain atau bahkan menyadur dari skte salah satu dari faham Kristen : Ebyon seperti yang dituduhkan sdr. Guntur, melainkan benar-benar murni berdasarkan wahyu.
Jadi tegasnya Al-Quran adalah kitab suci yang diturunkan Allah swt kepada Nabi Muhammad saw melalui malaikat Jibril; tidak menghapus ajaran yang dibawa para Nabi sebelumnya melainkan menyempurnakannya.

Ketiga, dengan melihat seluruh isi al-Qur’an itu sendiri sebenarnya sudah cukup untuk membuktikan bahwa Al-Qur’an terbukti berlaku disemua zaman. Selain berlandaskan pada Qs. Al-Hijr : 9, baiklah dibawah ini akan disampaikan beberapa contoh terkait yang dituduhkan oleh saudara penulis :
Ketiga, dengan melihat seluruh isi al-Qur’an itu sendiri sebenarnya sudah cukup untuk membuktikan bahwa Al-Qur’an terbukti berlaku disemua zaman. Dalam sebuah hadits Nabi saw bersabda : “tiada seorang Nabipun dari Nabi-nabi terdahulu itu, kecuali mereka diberi mukjizat yang sesuai, agar manusia mempercayainya, tetapi (mukjizat) yang diberikan kepadaku adalah berupa wahyu (pengetahuan) yang disampaikan oleh Allah swt kepadaku. Aku mengharapkan agar aku menjadi Nabi yang paling banyak pengikutnya”. Imam Ali al-Shabuni mengatakan : “bila mukjizat-mukjizat Nabi dan Rasul terdahulu berupa mukjizat materi yang bersifat indrawi, maka mukjizat Muhammad ibnu ‘Abdullah adalah mukjizat berupa mukjizat ruhiyah yang bersifat rasional (pengetahuan)…..”. dengan kelebihan ini, sebenarnya memang kehendak mutlak Allah swt. Namun demikian, Allah swt Maha Tahu bahwa umat Muhammad saw akan lebih banyak menggunakan akal mereka dalam kehidupannya. Maka begitulah Al-Qur’an menghadapi mereka, dengan mendatangkan mukjizat yang kekal sebagai petunjuk serta membenarkan risalah dan kitab-kitab terdahulu. Bukti Al-Qur’an kitab I’jaz, berlaku sepanjang jaman, dan menginspirasi lahirnya ilmu-ilmu telah banyak diungkap dalam sejumlah ayatnya, seperti :

a. Dalam mengulas masalah wanita,
 seringkali dijadikan sasaran untuk menyudutkan Islam yang mendiskriminatif antara status laki-laki dan perempuan. seprti Dr. Robert Morey bersikap tidak tahu-menahu tentang sejarah Pra Islam dan sejarah setelah datangnya Islam. Setelah menyitir perkataan Ali Dashti tentang perlakuan masyarakat sebelum Islam terhadap wanita kemudian ia menampilkan ayat Al-Quran tentang kepemimpinan pria atas wanita dalam Surah 4:34. Sehingga gambaran perlakuan Islam terhadap wanita terlihat sampai pada puncak sadisme.
Padahal Islam tidak demikian. Hukum Islam tidak menunjukkan diskriminasi terhadap kaum wanita jika dibandingkan dengan kaum pria, selama apa yang sama diperlakukan sama. Dan inilah inti masalahnya: sebab teori Barat semata-mata menolak relevansi perbedaan hukum antara pria dan wanita, sementara Islam menolak untuk menuruti fiksi tersebut. Berbagai keterangan membuktikan :
 Sistem hukum di seluruh dunia dihadapkan pada masalah: apa yang harus dilakukan jika ada pasangan suami-istri tidak sepakat tentang cara mengatasi urusan keluarga dalam berbagai hal. Bagaimanapun juga, keputusan berdasarkan suara terbanyak mustahil diambil. Hanya ada dua solusi yang mungkin: Pertama, Islam memberikan solusi bahwa salah satu pihak secara umum, atau dalam kasus-kasus tertentu, menyerahkan keputusan kepada pasangannya (yang berarti memberinya hak veto). Kedua, bahwa masalah tersebut dibawa keluar dari lingkup keluarga untuk dicarikan pemecahan atau keputusannya dalam lingkup keluarga besar, kantor catatan sipil atau pengadilan. Inilah cara Barat, dengan hasil keputusan yang tidak masuk akal sehingga, pernah kejadian, para petugas kantor catatan sipil di Jerman secara harfiah melempar dadu untuk menentukan nama keluarga apa yang harus diberikan kepada istri jika pasangan itu berselisih paham.
Islam lebih cenderung pada pendapat bahwa urusan keluarga harus diputuskan oleh keluarga itu sendiri dan, secara umum, memberi hak veto kepada suami -yang biasanya merupakan pemberi nafkah dan pelindung. Sebagaimana firman tuhan:

“Kaum pria adalah pelindung bagi kaum wanita, sebab Allah telah melebihkan golongannya dari golongan perempuan, dan karena pihaknya adalah sebagai pemberi nafkah dengan hartanya. ”

Ayat ini tidak bisa ditafsirkan sebagai pernyataan bahwa pria lebih unggul daripada wanita. Ayat ini tidak mempermasalahkan status melainkan isu-isu praktis yang berkaitan dengan perawatan dan perlindungan. Namun hal ini merupakan penghormatan bagi kaum wanita. Bahkan Rasulullah sendiri mencontohkan pernah membantu istrinya memasak di dapur. Para pewaris nabi -yaitu Ulama- banyak yang lebih memilih memenuhi kewajiban sebagai suami ketimbang meminta haknya.
 Dalam Islam, seorang laki-laki jika hendak mempersunting wanita maka ia harus memiliki kesiapan mental menjadi penanggung jawab dan pemberi nafkah atas seluruh keluarga. kesiapan mental untuk mengayomi dan mendidik istri dan keluarga, serta kesiapan finansial, hal ini menjadi penetapan adanya persyaratan kufu’ dan ba’ah dalam Islam.
Perkawinan merupakan institusi penting yang dilindungi dalam Islam, sehingga perkawinanpun diharapkan bisa kekal. Tujuan ini menjelaskan adanya larangan mutlak terhadap hubungan seksual di luar pernikahan , celaan terhadap homoseksualitas, dan pencegahan perceraian.
Upaya melindungi perkawinan inilah merupakan alasan utama di balik aturan Al-Quran yang sering disalahgunakan dan paling banyak dipahami secara keliru, yang menyatakan bahwa seorang suami boleh “memukul” istrinya. Ayatnya berbunyi sebagai berikut:

“Sedangkan wanita-wanita yang kamu khawatirkan kedurhakaannya, berilah pengajaran yang baik, hukumlah dengan berpisah tidur, dan pukullah mereka. ”

Tradisi Islam menyepakati bahwa aturan ini dimaksudkan untuk menyelamatkan perkawinan yang bermasalah, dan dengan cara itu mencegah terjadinya perceraian yang tidak bisa diperbaiki lagi. Dengan mengingat ini, ada persetujuan umum di kalangan Muslim dari masa paling awal bahwa “memukul” hanya boleh dilakukan dalam gerakan isyarat saja, dan jelas tanpa maksud untuk melukai secara fisik. Jika reaksi yang diberikan lain justru akan sia-sia -menghancurkan, bukannya melestarikan ikatan perkawinan yang terancam. Nabi secara pribadi menolak hukuman badan apa pun terhadap istri-istrinya.
 Demikian juga ajaran Islam tentang kewajiban istri untuk izin kepada suami sebelum meninggalkan rumah, adalah untuk mengembalikan martabat sebagai seorang istri, yang mempersembahkan dirinya hanya untuk suaminya dan tidak ingin kelihatan seakan-akan dia masih mencari-cari suami. Dengan izin kepada suami maka akan terjaga dari kecurigaan¬kecurigaan, sehingga kesucian keluarga masih tetap terjaga. Jadi tujuan aturan ini bukan berarti merendahkan perempuan dan meniadakan hak-hak sipil kaum wanita.
 Dalam situasi perkawinan dimana tidak ada jalan keluar lain, perceraian tetap diizinkan sebagai pintu darurat yang dibutuhkan dan boleh dilakukan oleh suami maupun istri. Yang membedakan hanyalah prosedurnya. Perceraian yang diusulkan oleh pria (thalaq) lebih mudah prosedurnya. Perceraian sudah final jika secara sepihak diucapkan oleh suami dalam jangka waktu tiga bulan. Ini berarti bahwa dengan perceraian itu dia kehilangan seluruh uang yang mungkin jumlahnya sangat besar (al-mahr) yang harus diberikannya kepada istrinya sebelum perkawinan. Jika istri juga datang memutuslcan ikatan perkawinan dengan cara yang begittt mudah, itu dapat mendorong timbulnya penyalahgunaan hadiah perkawinan dengan cara sistematis. Karena alasan inilah maka pengadilanlah yang harus memutuskan perceraian yang dimintakan oleh pihak istri (khulu’). Jadi ajaran Islam tidak meniadakan hak wanita dalam perceraian.
 Hukum waris Al Quran menetapkan warisan diberikan kepada anak laki-laki maupun perempuan jika orang tua mereka meninggal, di mana anak perempuan mendapatkan warisan hanya separo bagian dari yang diterima anak laki-laki. Alasan di balik aturan ini adalah karena pewaris laki-laki merupakan satu-satunya penanggung jawab keuangan -pemberi nafkah- atas seluruh keluarga. Dengan kewajiban berbeda, maka berbeda pula hak yang diberikan.
 Secara umum, hukum Islam mensyaratkan bahwa suatu fakta harus didukung oleh kesaksian dua orang, tetapi kesaksian dari dua wanita nilainya sama dengan kesaksian dari satu pria. Murad Hofman menganggap bahwa alasan dibalik peraturan ini adalah hanya berakar pada kondisi fisik yang biasanya mempengaruhi wanita pada waktu-waktu tertentu, yaitu, siklus yang sering menimbulkan sindroma pra-menstruasi; depresi pasca-kelahiran; pengaruh menopouse). Mengakhiri bahasan ini, ada baiknya kita simak laporan sebuah majalah hukum di Perancis “LA VIE JURIDIQUE DES POYPLES”, menyatakan:

“Dalam hukurn Islam, hak-hak kaum warrita jauh lebih luas dari pada hak-hak kaum wanita dalam konsepsi hukum sekarang”.

Demikian pula dalam masalah kerudung, Dr. Robert Morey menguraikan bahwa kerudung dianggap sebagai memaksakan busana gurun kepada para wanita di manapun mereka berada, dan hal itu merupakan suatu bentuk imperialisme budaya.
 Pakaian pria dan wanita, termasuk apa yang dinamakan kerudung (hijab), mencerminkan ini; sebab dari sudut pandang Islam, logis saja bahwa kita tidak berusaha memancing sesuatu hal yang tidak kita inginkan untuk terjadi.
 Sepanjang menyangkut tubuh manusia, ada satu consensus dasar antara Timur dan Barat: kedua peradaban ini tidak mengizinkan orang, kecuali bayi, untuk berjalan telanjang ke Sana kemari dalam kehidupan sehari-hari. Tetapi, ada banyak perbedaan menyangkut sejauh mana pakaian dibutuhkan di muka umum.
 Di dalam al Quran, ini hanya protokoler yang diterapkan bagi istri-istri Nabi. Sedangkan untuk Perempuan Muslim di Mesir diartikan dengan pakaian dengan tangan dan muka saja yang terbuka, sedangkan di Iran diinterprestasikan dengan Chador (cadar). Sedangkan laki-laki diwajibkan untuk berpakaian pantas, namun perempuan tidak disuruh mencadari diri dari pandangan, atau memencilkan diri dari laki-laki dalam bagian terpisah di rumah. Ini merupakan perkembangan kemudian, dan tidak menyebar di kerajaan Islam sampai tiga atau empat generasi setelah kematian Rasulullah SAW Terlihat bahwa adat pencadaran dan pemisahan perempuan memasuki dunia Muslim dari Persia dan Byzantium, dimana perempuan sudah lama diperlakukan demikian.
 Kenyataannya, cadar atau hijab tidak dirancang untuk merendahkan istri-istri Rasulullah SAW melainkan sebagai symbol status tertinggi. Setelah kematian Rasulullah SAW, istri¬I strinya menjadi orang-orang yang amat berpengaruh. Mereka memiliki otoritas dalam hal agama dan kerap dimintai konsultasi tentang praktik (sunnah) dan pendapat-pendapat Rasulullah SAW Aisyah menjadi amat penting di dunia politik.
 Tampak bahwa kelak perempuan-perempuan lain iri akan status istri¬istri Rasulullah SAW dan menuntut agar mereka diizinkan memakai cadar juga. Kebudayaan Islam sangat egaliter dan tampak tidak pantas bahwa istri-istri Nabi harus dibedakan dan dihormati dengan cara ini. Maka banyak perempuan Muslim yang mula-mula memakai cadar memandangnya sebagai simbol kekuatan dan pengaruh, bukan sebagai tanda tekanan laki-laki.
 Jelas ketika para istri prajurit Perang Salib melihat penghormatan yang didapat oleh perempuan Muslim, mereka juga mengenakan cadar dengan harapan mengajari laki-laki mereka untuk memperlakukan mereka dengan lebih baik.
 Di Eropa, orang barat mulai menyadari bahwa mereka kerap salah interprestasi dan memandang rendah kebudayaan tradisi lain di koloni-koloni dan protektoriat mereka. Banyak perempuan Muslim hari ini, bahkan mereka yang dibesarkan di Barat, merasa tersinggung ketika kaum feminis Barat mengutuk kebudayaan mereka sebagai kebencian terhadap perempuan.
 Kebanyakan agama berisikan hal-hal (bersifat) laki-laki dan memiliki bias patriarki. Namun salah bila memandang Islam sebagai yang lebih buruk dalam hal ini dibanding dengan tradisi lainnya. Di Abad Pertengahan, posisinya adalah kebalikannya: pada masa itu kaum Muslim terperangah melihat cara-cara orang Kristen Barat memperlakukan perempuan-perempuan mereka di negara-negara Perang Salib. Kaum terpelajar Kristen mencela Islam karena memberikan terlalu banyak kekuatan kepada makhluk yang mereka pandang rendah seperti para budak dan perempuan. Kini ketika sebagian perempuan Muslim kembali pada busana tradisional mereka, ini tidak selalu berarti bahwa otak mereka telah dicuci oleh agama yang sovinis, melainkan karena mereka menemukan bahwa kembali ke akar budaya sangat memberikan kepuasan. Jika kita simak Bibel, ternyata ada kewajiban bagi umat Kristiani yang perempuan untuk berkerudung.

“Sebab jika perempuan tidak mau menudungi kepalanya, maka haruslah ia juga menggunting rambutnya. Tetapi jika bagi perempuan adalah penghinaan, bahwa rambutnya digunting atau dicukur, maka haruslah ia rnenudungi kepalanya.”

Dari keteragan diatas, adakah sisi Nabi mengambil keuntungan untuk dirinya, istrinya, keluarganya atau bahkan kabilahnya? Sebaiknya beragam tuduhan tentang Al-Qur’an tidak terlepas dari kebutuhan konteks perlu diluruskan dan dikaji berdasarkan analisis yang komprehensip. Mulai dari prinsip, metode serta nilai-nilai ilahiah dan insaniah. Al-qur’an sendiri banyak memerintahkan menggunakan akal untuk bisa memanfaatkan potensi yang terkecil sampai terbesar. Dibawah terdapat beberapa contoh lagi yang membuktikan Al-Qur’an adalah I’jaz dan petunjuk disepanjang jaman :

b. Tentang fungsi organ tubuh (panca indra)

 Dua peristiwa yang disebutkan Allah dalam Al Qur’an mungkin menunjukkan bahwa perbedaan-perbedaan indrawi tidaklah terbatas pada perbedaan-perbedaan kecil dalam mengenali warna atau rasa sakit. Yang pertama dari peristiwa ini merujuk pada Nabi Ibrahim AS yang merasakan api sebagai dingin. Allah yang Mahakuasa mengeluarkan perintah “Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim!” (QS. Al Anbiyaa’, 21:69), dan dengan kehendak-Nya Nabi Ibrahim tidak merasakan sedikit pun sifat membakar dari api. Demikianlah, Nabi Ibrahim merasakan api, yang dirasakan panas membakar oleh setiap orang, sebagai sesuatu yang sejuk. Pada peristiwa lainnya, Allah menampakkan golongan yang tengah berperang di pihak-Nya berjumlah dua kali lipat di mata para musuh mereka: “Sesungguhnya telah ada tanda bagi kamu pada dua golongan yang telah bertemu (bertempur). Segolongan berperang di jalan Allah dan (segolongan) yang lain kafir yang dengan mata kepala melihat (seakan-akan) orang-orang muslimin dua kali jumlah mereka. Allah menguatkan dengan bantuan-Nya siapa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai mata hati.” (QS. Al Qur’an, 3:13)
Pengungkapan bahwa satu orang digambarkan sedang terlihat sebagai dua orang “dengan mata kepala mereka sendiri“ sangatlah jelas, dan mengesankan bahwa para pengingkar Allah mungkin telah mengalami perbedaan pengindraan dengan melihat satu orang yang beriman berjumlah dua. (Wallaahu a’lam) Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa perbedaan-perbedaan indrawi telah ditetapkan sebelumnya oleh Allah dengan pengetahuan yang tidak mampu kita pahami.
 Para ahli pun telah mengamati keberagaman semacam ini pada berbagai percobaan terhadap indra lainnya. Terdapat sejumlah perbedaan penting pada tiap orang pada pengenalan tentang cahaya dan warna.“ Stephen Tsang dari Universitas Columbia di New York mengatakan, “Tanggapan kita terhadap cahaya beragam mulai dari mereka yang mampu mengenali satu foton tunggal sampai mereka yang memiliki penyakit yang dikenal sebagai rabun ayam, yang sangat mengganggu kemampuan mereka melihat dalam cahaya redup.”
 Samir Deeb, seorang peneliti tentang perbedaan-perbedaan dalam pengindraan warna di Universitas Washington, Seattle, menyimpulkan penemuannya dalam pernyataan berikut, “Bahkan antar-individu yang memiliki penglihatan normal, uji terhadap persepsi warna memperlihatkan rentang perbedaan yang besar dalam hal bagaimana warna-warna terlihat.”
 Subyek [yakni sejumlah orang yang diuji dalam penelitian ini] juga berbeda dalam hal tanggapan mereka dalam tes yang dirancang untuk mengukur ketahanan terhadap rasa sakit. Satu kelompok yang disentuhkan dengan air yang secara perlahan dipanaskan tidak tahan terhadap peningkatan suhu yang sangat kecil sekalipun, sementara kelompok lainnya terlihat sangat sedikit terpengaruhi. Satu orang bahkan berkata bahwa dia tidak merasa terganggu bahkan ketika suhu mencapai 49 derajat Celcius, batas tertinggi yang dapat diterima kulit manusia tanpa melepuh. Bob Coghill, dari Wake Forest Medical School [Sekolah Kedokteran Walke Forest], yang melakukan sejumlah percobaan tersebut, menyambungkan orang-orang yang menjadi subyek penelitian tersebut pada sebuah magnetic resonance imaging device [alat pencitra resonansi magnetis] dan menentukan sebuah hubungan yang jelas antara tingkat rasa sakit yang dialami dan jumlah aktifitas otak yang terjadi bersamaan di dalam cerebral cortex. “Persepsi terhadap rasa sakit memiliki keberagam yang sangat besar,” kata Jeffrey Mogil dari Universitas McGill di Montreal, “dan percobaan-percobaan ini menunjukkan bahwa perbedaan-perbedaan itu adalah nyata dan apa adanya.”

c. Tentang unta
“Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana ia diciptakan.” (QS. Al-Ghaasyiyah, 88:17)
 Lima puluh lima derajat celcius adalah suhu yang panas membakar. Itulah cuaca panas di gurun pasir, daerah yang tampak tak bertepi dan terhampar luas hingga di kejauhan. Di sini terdapat badai pasir yang menelan apa saja yang dilaluinya, dan yang sangat mengganggu pernafasan. Padang pasir berarti kematian yang tak terelakkan bagi seseorang tanpa pelindung yang terperangkap di dalamnya. Hanya kendaraan yang secara khusus dibuat untuk tujuan ini saja yang dapat bertahan dalam kondisi gurun ini. Kendaraan apapun yang berjalan di kondisi yang panas menyengat di gurun pasir, harus didisain untuk mampu menahan panas dan terpaan badai pasir. Selain itu, ia harus mampu berjalan jauh, dengan sedikit bahan bakar dan sedikit air. Mesin yang paling mampu menahan kondisi sulit ini bukanlah kendaraan bermesin, melainkan seekor binatang, yakni unta. Unta telah membantu manusia yang hidup di gurun pasir sepanjang sejarah, dan telah menjadi simbul bagi kehidupan di gurun pasir. Panas gurun pasir sungguh mematikan bagi makhluk lain. Selain sejumlah kecil serangga, reptil dan beberapa binatang kecil lainnya, tak ada binatang yang mampu hidup di sana. Unta adalah satu-satunya binatang besar yang dapat hidup di sana. Allah telah menciptakannya secara khusus untuk hidup di padang pasir, dan untuk melayani kehidupan manusia.
 Jika kita amati bagaimana unta diciptakan, kita akan menyaksikan bahwa setiap bagian terkecil darinya adalah keajaiban penciptaan. Yang sangat dibutuhkan pada kondisi panas membakar di gurun adalah minum, tapi sulit untuk menemukan air di sini. Menemukan sesuatu yang dapat dimakan di hamparan pasir tak bertepi juga tampak mustahil. Jadi, binatang yang hidup di sini harus mampu menahan lapar dan haus, dan unta telah diciptakan dengan kemampuan ini. Unta dapat bertahan hidup hingga delapan hari pada suhu lima puluh derajat tanpa makan atau minum. Ketika unta yang mampu berjalan tanpa minum dalam waktu lama ini menemukan sumber air, ia akan menyimpannya. Unta mampu meminum air sebanyak sepertiga berat badannya dalam waktu sepuluh menit. Ini berarti seratus tiga puluh liter dalam sekali minum; dan tempat penyimpanannya adalah punuk unta. Sekitar empat puluh kilogram lemak tersimpan di sini. Hal ini menjadikan unta mampu berjalan berhari-hari di gurun pasir tanpa makan apapun.
 Kebanyakan makanan di gurun pasir adalah kering dan berduri. Namun sistem pencernaan pada unta telah diciptakan sesuai dengan kondisi yang sulit ini. Gigi dan mulut binatang ini telah dirancang untuk memungkinkannya memakan duri tajam dengan mudah.
 Perutnya memiliki disain khusus tersendiri sehingga cukup kuat untuk mencerna hampir semua tumbuhan di gurun pasir.
 Angin gurun yang muncul tiba-tiba biasanya menjadi pertanda kedatangan badai pasir. Butiran pasir menyesakkan nafas dan membutakan mata. Tapi, Allah telah menciptakan sistem perlindungan khusus pada unta sehingga ia mampu bertahan terhadap kondisi sulit ini. Kelopak mata unta melindungi matanya dari dari debu dan butiran pasir. Namun, kelopak mata ini juga transparan atau tembus cahaya, sehingga unta tetap dapat melihat meskipun dengan mata tertutup. Bulu matanya yang panjang dan tebal khusus diciptakan untuk mencegah masuknya debu ke dalam mata.
 Terdapat pula disain khusus pada hidung unta. Ketika badai pasir menerpa, ia menutup hidungnya dengan penutup khusus.
 Salah satu bahaya terbesar bagi kendaraan yang berjalan di gurun pasir adalah terperosok ke dalam pasir. Tapi ini tidak terjadi pada unta, sekalipun ia membawa muatan seberat ratusan kilogram, karena kakinya diciptakan khusus untuk berjalan di atas pasir. Telapak kaki yang lebar menahannya dari tenggelam ke dalam pasir, dan berfungsi seperti pada sepatu salju. Kaki yang panjang menjauhkan tubuhnya dari permukaan pasir yang panas membakar di bawahnya.
 Tubuh unta tertutupi oleh rambut lebat dan tebal. Ini melindunginya dari sengatan sinar matahari dan suhu padang pasir yang dingin membeku setelah matahari terbenam. Beberapa bagian tubuhnya tertutupi sejumlah lapisan kulit pelindung yang tebal. Lapisan-lapisan tebal ini ditempatkan di bagian-bagian tertentu yang bersentuhan dengan permukaan tanah saat ia duduk di pasir yang amat panas. Ini mencegah kulit unta agar tidak terbakar. Lapisan tebal kulit ini tidaklah tumbuh dan terbentuk perlahan-lahan; tapi unta memang terlahir demikian. Disain khusus ini memperlihatkan kesempurnaan penciptaan unta.
 Marilah kita renungkan semua ciri unta yang telah kita saksikan. Sistem khusus yang memungkinkannya menahan haus, punuk yang memungkinkannya bepergian tanpa makan, struktur kaki yang menahannya dari tenggelam ke dalam pasir, kelopak mata yang tembus cahaya, bulu mata yang melindungi matanya dari pasir, hidung yang dilengkapi disain khusus anti badai pasir, struktur mulut, bibir dan gigi yang memungkinkannya memakan duri dan tumbuhan gurun pasir, sistem pencernaan yang dapat mencerna hampir semua benda apapun, lapisan tebal khusus yang melindungi kulitnya dari pasir panas membakar, serta rambut permukaan kulit yang khusus dirancang untuk melindunginya dari panas dan dingin.
d. Tentang gaaris-garis pada jari
 Firman Allah swt
            
“Apakah manusia mengira, bahwa Kami tidak akan mengumpulkan (kembali) tulang belulangnya?. bukan demikian, sebenarnya Kami Kuasa menyusun (kembali) jari jemarinya dengan sempurna”.
sangat bijak untuk disimak. Perhatikan ilmu yang baru berkembang dewasa ini, yaitu “ilmu al-Tahqiq al-Syakhsiyyah” (Ilmu Mengidentifikasi Diri), yang mengakui bahwa anggota badan manusia paling indah dan paling mengagumkan adalah garis jari-jemari. Bahkan tak mungkun dijumpai garis jari-jemari seseorang sama dengan garis jari-jemari orang lain sedikitpun. Dari pengakuan ini, manusia sampai pada praktek menggunakan garis jari-jemari dalam menangani kasus-kasus criminal dan berbagai persoalan lainnya. Akhirnya, hati kita akan segera tersadarkan begitu hebatnya Al-Qur’an dari segi kemukjizatan, petunjuk, serta menginspirasi untuk melahirkan ilmu-ilmu. Maka pantas jika kita bertasbih, bertahmid serta bertakbir seraya mengembaliklan semuanya pada Allah swt sseperti dalam firman-Nya :
…….    
“………Maka Maha sucilah Allah, Pencipta yang paling baik”.
Dan masih banyak lagi contoh-contoh bukti Al-Qur’an berlaku disetiap masa, bukti Al-Qur’an yang mendorong lahirnya ilmu yang member petunjuk untuk kemaslahatan hidup manusia. Seperti keajaiban binatang, keajaiban alam, keajaiban rahim, keajaiban langit, dst…..Dari sekian uraian diatas, manakah ayat Al-Qur’an seperti yang dituduhkan saudara penulis hanya berlaku pada masa turunnya saja dan kental akan kepentingan pada masanya pula? Ilmu mana yang sedikit terinspirasi dari potensi makhluk-makhluk Allah yang sengaja diciptakan untuk kebutuhan manusia? Hendaknya saudara penulis harus lebih banyak membaca Al-Qur’an yang telah dijamin kebaikannya dari pada banyak membaca karya orang-orang yang membenci Al-Qur’an yang jelas-jelas merugikan dunia akhirat.
Keempat, tentang keyakinan Waroqoh bin Naufal yang dikatgorikan saudara penulis kedalam sekte Ebyon perlu pengkajian ulang dan kritis. Sebab, dari sekian aqidah yang dianut sekte Ebyon ini kita dapati ajaran : Kristologi Adopsionis, menolak doktrin kelahiran Yesus dari perawan maria, serta menggunakan hanya Injil matius (tanpa kisah kelahiran dan silsilah Yesus . Keterangan yang kita dapati ini masih termasuk kedalam sekte Kristen yang sesat dan tergolong sekte kedua seperti yang ditulis oleh A.D. El Marzdedeq yang membagi sekte Kristen ini menjadi :
a. Orang-orang yang mematuhi Shalom ajaran Nabi Isa as secara murni, beri’tiqad tiada ilah kecuali Allah yang Maha Esa dan Isa adalah adalah Rasul-Nya khas untuk bani Israil. Dalam peribadatannya, mereka ruku dan sujud, mengharamkan pembuatan patung-patung. Dalam hal makanan mereka mengharamkan babi dan penyembelihan untuk berhala. Anak laki-laki mereka dikhitan. Golongan ini dikejar-kejar, sebagian mereka bermukim di Najran, sebagian pula pergi ke sekitar Bakkah, Yatsrib, lembah Yordan dan adapula yang bermukim di Persia
b. Firqoh Nashrani yang menamakan dirinya”kelompok Sophia (ahli hikmah)” menyebarkan Injil keluar Bani Israil, mereka tidak segan-segan mengambil peribadatan, upacara dan dongeng-dongeng agama lain dan disadur dan di Nashranikan
c. Firqoh Sauliyah, dibangsakan kepada Saul atau Paulus, seorang Yahudi Farisi, yang lahir sembilan tahun lebih muda dari Nabi Isa as., ZSaul adalah seorang anak yang kaya raya dari Tarsus. Ayahnya mencalonkan Saul menjadi rahib lalu berguru pada Gamalil. Semula ia menentang NAbi Isa as., tetapi akhirnya ia membentuk sebuah firqoh Nashrani baru yang ajarannya berupa ajaran pembaruan dari pelbagai agama yang disatukan dan disadur. I’tikadnya mengambil filsafat Yunani :
“Yesus adalah gambar Tuhan, makhluk awal, sinar Tuhan dan cermin wujud Tuhan itu”.
Dengan dalih wahyu dari Yesus, ia menghilangkan khitan, menghalalkan babi, menigakan Tuhan, membuat peribadatan baru dengan nyanyian pujian, diiringkan music. Firqoh Sauliyah itu pecah dalam beberapa aliran : a) Aliran Justinos Martyr (90-165), b) Aliran Basilides (120-165), c)ALiran Markion, d) Aliran Tertullianus, e) Aliran Ireneus, f) Aliran Clemens dari Iskandariyah, g)Aliran Origenens dari iskandariyah, h) Aliran Arius, i)Aliran Athanasius, j) Aliran Gregorius Nyssa (354-394), k) Aliran Nasturiyah, l) Aliran Kerajaan Malkani.

Dalam sejarah sendiri kita dapati bahwa Waroqoh adalah orang yang masuk /memeluk ajaran Nashrani (memelihara ajaran Nabi Isa as tetap murni) tidak seperti yang dituduhkan oleh saudara penulis. Seperti dalam pemaparan Ibnu Hajar dalam kitab Syarah Shahih Bukhari. Begitupun pengarang kitab “Ansab al-Asyrof dalam bab agama bangsa Arab Jahiliyah, beliau memaparkan bahwa waroqoh bin Naufal adalah orang yang memeluk ajaran Nashrani (minoritas) dari kalangan Quraisy yang masih murni. Kesalahan yang dipaparkan saudara penulis juga masih melekat ketika menyebutkan yang menjadi wali/menerima pinangan Nabi saw adalah Waraqah bin Naufal. Padahal jelas-jelas dalam beberapa catatan sejarah yang meminagkan Nabi untuk khadijah pada saat itu adalah pamannya Abu Thalib yang ditemani Hamzah Bin Abdul Muthalib dan yang menerima pinangan Nabi adalah ‘Amr bin Asad bin ‘Abd al-‘Uzza bin Qushai. Kasus pernikahan ini beliau angkat guna untuk menyalahgunakan prosesi pernikahan beliau dimana masih tetap menggunakan “lagu lama” yaitu pendangkalan aqidah.
Kelima, pernikahan dalam Islam merupakan pernikahan yang dari awal terpelihara dari perzinahan. Berbeda dengan pernikahan lainnya yang masih mengandung unsure perzinahan. Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Rasulullah saw dalam riwayat al-Bukhari : “Nikah pada masa jahiliyyah ada empat cara; a) nikah wali, b) nikah al-khidznu, c) nikah mut’ah, dan d) nikah badal. Namun semua jenis nikah ini dihapus, kecuali nikah wali. ‘Aisyah ra diakhir ceritanya menyebutkan :

فَلَمَّا بُعِثَ مُحَمَّدٌ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْحَقِّ هَدَمَ نِكَاحَ الْجَاهِلِيَّةِ كُلَّهُ إِلَّا نِكَاحَ النَّاسِ الْيَوْم Dengan keterangan ini dan keterangan bantahan yang keempat nampaknya terbantah lagi pernyataan saudara penulis.

MARAJI’
1. Al-Qur’an
2. Ali al-Shabuni Muhammad, al Tibyan fi ‘Ulum Al- Quran, (Makkah : 1985 M/1405 H), ‘Alim al-Kutub, Cet Ke-1.
3. ‘Abd al-‘Adzim al-Zarqani Muhammad, Manahil al-‘Urfan fi al-‘Ulum Al-Qur’an –edisi terjemah—(Jakarta : 2002), Gaya Media Pratama, Vol 1, cet ke 1
4. Al-Asqolani Ibnu Hajar, Fath al-Baari, maktabah syamilah CD
5. Ali al-Shabuniy, al-Tibyan Fi al-‘Ulum Al-Qur’an –alih bahasa, Drs. H. Aminuddin—(Bandung :1999), CP Pustaka Setia, cet ke 1
6. Al-Bukhari Bu ‘Abdullah, Shahih al-Bukhari, Maktabah Syamilah CD
7. Handono Irena, Islam dihujat; menjawab buku The Islamic Invasion (Robert Morey), PDF.
8. Marzdedeq A.D. EL, Parasit aqidah Selintas Perkembangan dan sisa-siasa Agama Kultur, (Bandung : tt), Yayasan Ibnu Ruman
9. Al-Razi ‘Alamah al-Syaikh Muhammad bin ‘Umar Quran (W 606 H) Ahkam Al-Quran, Maktabah Syamilah CD
10. http://www.pakdenono.com, Juni 2006, Kumpulan artikel Harun Yahya, Apakah mereka tidak memperhatikan unta? Bandung, 21. 55 WIB
11. http://ioanesrakhmat.blogspot.com/2009/08/kekristenan-yahudi-dalam-tulisan.html. Bandung, 20.47 WIB
12. ARMANSYAH.armansyah.skom@gmail.com Bandung, 20. 52 WIB

No comments yet»

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: