Semantiq

Nama : Irham Shidiq
Mata Kuliah : Ilmu Dalalah
Nomor Pokok : 08.0128
Fak/Jurusan : Ushuluddin/Tafsir Hadits
Smester : VI (Enam)
Dosen : A. Zaki Mubarak., M. Ag.

Pengertian makna dalam pemakaian sehari-hari
Paparan tentang cirri-ciri bahasa dan bahasa sebagai sistem semiotik memberikan gambaran keluasan ruang lingkup keberadaan makna. Keluasan ruang lingkup itu ditandai oleh keterkaitan makna dengan (1). Cirri-ciri atau unsur internal kebahasaan, (2). Sistem sosial budaya yang melatari, (3). Pemakai, baik sebagai penutur maupun sebagai penanggap, serta (4). Cirri informasi dan ragam tuturan yang disampaikan. Akibat keluasan ruang lingkup makna itu, lebih lanjut juga menimbulkan berbagai perbedaan dalam merumuskan pengertian maupun dasar pendekatan yang digunakannya.
Dalam pemakaian sehari-hari, kata makna digunakan dalam dalam berbagai bidang atau konteks pemakaian. Apakah pengertian khusus kata makna tersebut serta perbedaannya dengan ide, misalnya, tidak begitu diperhatikan. Sebab itu, sudah sewajarnya bila makna juga disejajarkan pengertiannya dengan arti, gagasan, konsep, pernyataan, pesan, informasi, maksud, firasat, isi, dan fikiran. Berbagai pengertian itu begitu saja disejajarkan dengan kata makna karena keaberadaannya memang tidak pernah dikenali secara cermat dan dipilahkan secara tepat.
Dari sekian banyak pengertian yang diberikan itu, hanya arti yang paling dekat pengertiannya dengan makna. Meskipun demikian, bukan berarti keduanya sinonim mutlak. Disebut demikian, karena arti adalah kata yang telah mencakup makna dan pengertian (cf. Kridalaksana, 1982 : 15). Pengertian gagasan pada dasarnya memiliki kesejajaran pengertian dengan fikiran maupun ide. Sebab itu, dalam bahasa Inggris ketiga kata itu tercakup dalam kata thought. Lebih lanjut, thought sebagai aktivitas mental meliputi baik konsep maupun pernyataan (Hudson, 1980 : 75). Apabila konsep berkaitan dengan olahan ingatan dan kesimpulan, maka istilah pernyataan berkaitan dengan proposisi dan statemen.
Proposisi sebagai istilah juga diberi pengertian berbeda-beda. Sebagai gejala kejiwaan, proposisi adalah isi konsep yang masih kasar yang akan melahirkan statemen. Sedangkan Lyons lebih cenderung mengartikan proposisi sebgai perwujudan ekspresi dalam bentuk kalimat, yang biasa benar atau salah (Lyons, 1979 : 38). Selain itu, Harimurti memberi pengertian batasan proposisi sebagai konfigurasi makna yang menjelasakakn isi komunikasi dari pembicaraan, terjadi dari predikator yang berkaitan dengan satu argumen atau lebih (Tridalaksana, 1982 : 139). Sehubungan dengan kajian ini, berbeda dengan beberapa rumusan diatas, proposisi diartikan sebagai pernyataan dasar yang masih berada dalam abstraksi fikiran penutur. Tatanan “saya lapar” yang masih berada dalam fikiran adalah contoh proposisi, sedangkan perwujudannya dalalm kalimat, misalnya, tadi pagi saya tidak sarapan, seharian saya belum makan, dan sjumlah wujud kalimat lain yang mewakili proposisi “saya lapar” adalah pernyataan atau statemen.
Baik pernyataan, proposisi, maupun gagasan yang mencakup pengertian fikiran dan ide, konsep, pesan, dan maksud pada dasarnya adalah aspek semantik yang harus dikembalikan dan berasal dari sender. Pesan atau massage disebut berada pada sender karena pesan adalah isi komunikasi dalam sender yang diwadahi oleh tatanan lambing kebahasaan secara individual (Cherry : 304; Lyons ; 1979 : 36). Apabila pesan itu sudah ditransmisikan lewat signal atau tanda, maka isi pesan itu disebut informasi. Pemahaman informasi pada diri penerima,biasa disebut dengan isi atau konten. Menurut Lyons, kegiatan penyususnan pesan tidak dapat dilepaskan dari enkoding, sedangkan usaha memahami pesan yang dilakukan oleh penerima pesan disebut dekoding. Apabila dekoding gagal, informasi dan isi tetap tinggal jadi pesan yang ada pada sipenutur. Dengan demikian komunikasi itupun belum berhasil.
Orang tua yang kesal melihat anaknya sering pulang tengah malam, mungkin akan bilang, kok tidak pulan gpagi saja? Maksud orang tua tersebut tentu tidak demikian. Lewat pernyataan itu dia justru ingin menyampaikan imbauan. Penyampaian suatu pesan yang disertai unsur subjektif pembicara itulah yang disebut maksud. Keberadaan tutran sebagai “tidak ekspresif” memang tidak dapat dilepaskan dari bahasa itu sendiri yang memiliki fungsi konatif atau fungsi memberikan “ imbauan” yang dalam kajian semiotika Buchler disebut fungsi appell (Lyons, 1979 : 52).
Kaliamat ko tidak pulang pagi saja, sebenarnya memiliki kesejajaran semantis dengan kalimat kok tidak pulang dari tadi? Dengan kata lain, kata pagi dan saja memiliki kesejajaran semantis dengan dari tadi meskipun didalam kamus, masing-masing kata itu meiliki makna yang berbeda. Situasi demikian terjadi karena makna kata lepas baru merupakan potensi, baru menjadi bakal. Disebut bakal karena makna kata-kata lepas ditentukan oleh konteks pemakaiannya. Hal itu sesuai dengan sifat kebergantungan konteks serta cirri produktifitas bahasa yang mampu memberikan makna berbeda-beda sesuai denga bentuk relasio dan kombinasinya.
Sejumlah pengertian lain yang diacukan pada kata makna diatas, tentunya belum mampu memberikan batasan pengertian pada kata makna itu sendiri sebagai istilah. Makna yang bermula dari kata ternyata juga memiliki hubungan erat dengan (1). System sosial budaya maupun realitas luar yang di acu, (2). Pemakai, maupun (3). Konteks sosial situasional dalam pemakaian. Menyadari keterbatasan dari “pengertian batasan” itulah, uraian tentang pengertian makna sebagai istilah juga diikuti kajian tentang pandangan filosofis sehubungan dengan masalah makna dan hubungannya dengan dunia luar.

No comments yet»

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: