Masjid

Irham Shidiq
Ushuludin (Tafsir Hadits)
STAI Persis Bandung

BAB II
PEMBAHASAN
A. HADITS-HADITS
1. Hadits Pertama
حدثنا محمد بن عبد الله الخز عى حدثنا حماد بن سلمة عن ايوب عن ابى قلابة عن انس وقتادة عن انس ان النبي ص. :”لا تقوم الساعة حتى يتبا هى الناس فى المساجد”.
2. Hadits Kedua
حدفنا سويد بن نصر قال انبأنا عبد الله بن المبارك عن حماد بن سلمة عن ايوب عن ابى قلابة عن انس ان النبي ص. :”من اشرط الساعة ان يتبا هى الناس فى المساجد”.
3. Hadits Ketiga
حدثنا عبد الله بن معاوية الجمحى ثنا حماد بن سلمة عن ايوب عن ابى قلابة عن انس بن مالك قال, قال رسول الله ص. :” لا تقوم الساعة حتى يتبا هى الناس فى المساجد”.
B. Terjemah Matan Hadits
1. pada riwayat Abu Daud :
“Tidak akan terjadi qiyamat sehingga manusia berbangga-bangga/sombong dalam mesjid-mesjid”
2. Pada riwayat al-Nasai :
“Termasuk tanda-tanda sudah dekatnya waktu qiyamat yaitu manusia berbangga-bangga/sombong dalaml membangun mesjid-mesjid”

C. TAKHRIJ
Hadits tersebut diriwayatkan oleh imam yang lima kecuali al-Tirmidzi dan disahihkan oleh imam Ibnu Khuzaimah. Hadits pertama diriwayatkan oleh imam Abu Daud dalam bab “fi bina’i al-masjid”, hadits kedua diriwayatkan oleh imam al-Nasai dalam bab “al-mubahatu fi al-masajid”dan hadits ketiga diriwayatkan oleh imam Ibnu Majah dalam bab “tasyidu al-masajid”. Susunan struktur sanad hadits-hadits diatas lengkapnya sebagai berikut :
Riwayat Abu Daud Riwayat al Nasai Riwayat Ibnu Majah
النبي النبي النبي

انس و قتادة انس انس

ابو قلابة ابو قلابة ابو قلابة

ايوب ايوب ايوب

حما بن سلمة حما بن سلمة حما بن سلمة

محمد بن عبد الله الخزعى عبد الله بن المبارك عبد الله بن معاوية الجمحى

ابو داود سويد بن نصر ابن ماجة

النسأى

D. KOREKSI
Dari susunan struktur sanad diatas dari ketiga riwayat Nampak terdapat kesamaan empat orang rawi dimulai dari Hammad bin Salamah sampai kepada sahabat Anas ra. Namun ada sedikit tambahan dalam riwayat Abu Daud yang merupakan syahid untuk riwayatnya sendiri, yaitu diterima dari sahabat Qotadah. Ketiga riwayat diatas jika kita gabungkan maka akan didapat :

النبي

انس ……………….. قتادة

ابو قلابة

ايوب

حماد بن سلمة

محمد بن عبد الله الخزعى عبد الله بن المبارك عبد الله بن المبارك

ابو داود سويد بن نصر ابن ماجة

النساءى
Ketiga riwayat diatas terputus (berdiri sendiri-sendiri) mulai dari rowi yang bernama Hamad bin Salamah. Pada riwayat alNasai rowi yang digunakan lebih banyak ketimbang dua riwayat yang lainnya, ketika Ibnu Majah dan Abu Daud dalalm meriwayatkan hadits ini hanya menggunakan lima orang rowi saja, justru imam alNasai menggunakan enam orang rowi. Hal ini ada kemungkinan mengundang tanda tanya, setidaknya akan muncul pertanyaan apakah kurang cukup kuat para perowi yang digunakan alNasai sehingga beliau menggunakan banyak rowi dengan tujuan memperkuat periwayatannya?
Jawaban atas kemungkinan seperti itu bisa kita paparkan mengenai penilaian para ulama jarah ta’dil. Diantara komentar yang dilontarkan kepada kedua rowi yang menyendiri imam alNasai tersebut adalah sebagai berikut
-Abdullah bin al Mubarak : beliau seorang yang shaduq
-abdullah bin alMubarak : beliau termasuk pada thobaqoh tiga. Dalam bidang fiqih Sufyan alTsauri member penilaian “ kalaulah aku mengkerahkan segala upayaku untuk mengkaji sunnah seperti apa yang dilakukan oleh ibnu alMubarak, tentu pasti aku tidak akan sanggup”. Dalam penukilan hadits atau atsar Nu’aim bin Hammad mennjelaskan “adalah ibnu al Mubarak tidak meninggalkan satu hadits yang diterimanya kecuali benar-benar merasa yakin untuk ditinggalkan (berdasarkan ilmu)”.
Dari keterangan diatas nampaknya akan memeperkuat asumsi bahwa hadits pada riwayat al Nasai diatas memang layak untuk dikatakan shahih dan dapat diterima dengan memperhatikan ta’dil yang dilontarkan kepada kedua rowi yang terdapat dalam riwayat beliau. Adapun mengenai dua riwayat yang lainnyapun sama yakni shahih; dengan memeperhatikan bahwa riwayat-riwayat diatas satu sama lain shahih dan tidak saling menggugurkan.
E. Biografi rowi awal
Anas bin Malik
Nama lengkap beliau adalah Abu Hamzah al anshari al Anjari al Khojroji. Beliau mendampingi Nabi saw sejak tinggal di Madinah sampai beliau wafat. Tatkala Nabi tinggal diMadinah beliau berusia 10 tahun, ada yang mengatakan 9 tahun dan adapula yang mengatakan 8 tahun. Beliau tinggal diBashrah pada kepemimpinan umar untuk member pengajaran fiqih kepada masayarakat setempat. Beliau termasuk sahabat yang paling panjang usianya, hingga mencapai 136 tahun tapi ada yang mengatakan lebih pendek dari itu. Ibnu Abdil Bar berkata “riwwayat yang paling sahih tentang riwayat beliau adalah 99 tahun”. Beliau adalah sahabat yang paling akhir wafatnya di Bashrah yaitu pada tahun 11/12/13 H pada usia 90 tahun.

F. Syarah Mufrodat
* Kata اشراط dalam bentuk fi’il madli yang mashdarnya شرطا maknanya ; kejadian pada urusan yang besar. Sedangkan dalam bentuk isimnya الشرط yang jamaknya اشراط maknanya : tanda, awal daripada sesuatu. Kata اشراط dalam Al Quran dapat ditemukan satu kali yaitu pada surat Muhammad ayat 18 dan itupun bergandengan dengan kata الساعة. Kata ini jika dilihat dari maknanya kohern ketika digandengkan dengan kata الساعة yang memiliki makna waktu, sebab kata اشراط menunjukan pada aawal mula terjadinya sesuatu dari sebuah peristiwa yan g kemudian disambut dengan kata الساعة yang aspek penggunaannya menunjukan waktu sudah dekat. Jadi dua kata tersebut ketika digandengakan maka maknanya menunjukan sebuah tanda bagi suatu peristiwa dalam tempo yang sudah dekat.
Dalam riwayat bukhori misalnya, kata اشراط dapat juga kita temui dalam kitab al Ilmu, hanya disana objek yang menjadi tandanya berbeda dengan riwayat diatas. Dalam riwayat alBukhori disebutkan bahwa yang menjadi tanda-tanda suidah dekatnya hari qiamat adalah “diminumnya khomer, maraknya perjudian, nampaknya perzinahan ……”.
Dari kedua redaksi hadits diatas nampak kontras apa yang menjadi tanda-tanda sudah dekatnya hari qiamat. Hal tersebut tidak bisa kita pertentangkan begitu saja, karna dibalik semua itu kita pun mesti mengetahui maqosid dari yang empunya pembicaraan yaitu Nabi saw,. Secara garis besarnya kita bisa mengambil sedikit asumsi bahwa pada riwayat al Bukhori Nabi saw hendak menyebutkan bahwa waktu qiamat makin mendekat tatkala ilmu agama sudah tidak lagi dipelajari, diamalkan dan diajarkan. Orang-orang sudah memburu ilmu keduniaan dan dunianya itu sendiri tanpa menghiraukan ilmu agama yang menjuadi alat untuk mendapat mardhotillah. Apa jadinya kalau ilmu Allah sudah dihiraukan atau sudah tidak lagi dikaji? Kita pun akan sedikit “nyeleneh”dengan ungkapan apa gunanya Allah mempertahankan manusia yang membangkang setelah diberi petunjuk yang kekal?
الساعة * : yang bentuk jama’nya سياع و ساعات dan bentuk tasghirnya سويعة memiliki beberapa makna; a). waktu yang menunjukan 60 menit, b). waktu sekarang (yang sedang dihadapi), c). alat yang digunakan untuk mengetahui waktu, seperti anak panah (diwaktu siang, dengan mengambil posisi bayang-bayang anak panah tersebut dari sinar matahari), d). hari qiyamat atau waktu terjadinya qiyamat. Seperti diungkap diatas kata ini jikadigunakan untuk menunjukan hari qiyamat, maka lebih khusus akan menunjuk pada kedekatan waktu pada prosesi qiyamat itu sendiri. Dalam Al-Quran sendiri kata ini digunakan untuk menunjukan hal tersebut diatas seperti tercantum dalam Qs. Muhammad ayat 18 dan al Nazi’at ayat 42.
يتباهى adalah bentuk mudhari’ dari kata بهي بهاء yang bermakna baik atau cantik. Masih terdapat pecahan kata lainnya yang memiliki makna yang tidak sama pula seperti بهي artinya “bahiyun” ابهي artinya baik/rupawan wajahnya, ابتهي به artinya berbangga diri, تباهوا artinya saling berbangga diri. Sedikit sekali dalam hadits kita temukan kata ini. Misalkan kita bisa bisa melihat dalam Mu’jam Mufrodat li Alfadzil Hadits kita hanya mendapati pecahan kata dari باهى dan تباهى saja. Lebih lengkapnya kita bisa mengelompokannya kedalam bagan sebagai berikut :

No Kata asal Lafadz Hadits Riwayat Bab No Hdits
1 باهى …ان الله …… يباهى بكم الملءكة……. alNasai AdabulQodo 27
Hajji 194
Muslim Hajji 436
Ibnu Majah Masajid 19
Manasik 56, ….
لا تعلموا العلم لتباهوا به العلماء Ibnu Majah Muqoddimah intifa’ bil’ilmi wal amal 23
2 تباهى ثم تباهى الناس بعد فصارت مباهة alThabrani Dhohaya 10
alTirmidzi Udhahi 10
Ibnu Majah Udhahi 10
من اشراط الساعة ان يتباهى الناس فى المساجد alNasai Masajid 2

Abu Daud Shalat 12
Ibnu Majah Masajid 2
يتباهون بها ثم لا يعمرونه الا قليلا alBukhori Shalat 62
وانهم يتباهون اكثر واردة alTirmidzi Qiyamah 14

Dari data diatas kita mendapatkan sampel terkait penggaunaan kata تباهى yakni ; pujian, seperti yang ditujukan dalam riwayat ibnu Majah pada bab Masajid no19, menunjukan sesuatu perbuatan yang negative seperti dalam riwayat yang sama pada Muqoddimahnya pada bab al intifa’ bil ‘ilmi wal ‘amal no 254, dan menunjukan kesenangan seperti pada riwayat yang masih sama pada bab Udhahi no 10.
*المساجد adalah bentuk jama’ yang mufrodnya مسجد maknanya tempat sujud. Kemudia kata ini dijadikan sebuah nama untuk tempat yang padanya disembah Allah Yang Esa seperti pada Qs. Jin ayat 18. Kata عمارة المسجد kadang-kadang digunakan untuk sesuatu kemestian dan mendirikan ibadah atau berkhidmat didalamnya seperti membersihkan mesjid dan lain sebagainya. Kadang-kadang juga kata tersebut digunakan untuk berziarah semata-mata beribadah pada-Nya, maka dari sini lahir tatacara ibadah manasik makhsush dalam ibadah umroh. Ayat-ayat yang berkaitan dengan kata ini dapat ditemukan dalam Qs. alTaubah ayat : 17,18, 107 dan 108, juga alKahfi ayat 21.
Dari ketiga riwayat diatas matan hadits menunjukan kepada khabariyah yang secara langsung disampaikan oleh Nabi saw. Sementara terdapat dalam riwayat ibnu Hibban dalam bab almasajid: dzikru alzajru ‘an tabahi almuslimina fi bina-i almasajid dengan menggunakan kata larangan.

E. Syarah Hadits
Yang dimaksud dengan حتى يتباهى الناس فى المساجد adalah sombong dan berbangga-bangga dengan fisik bangunan mesjid. Setiap orang yang membuat mesjid merasa bangga dan sombong dengan mesjid yang dibangunnya seraya berkata :” ini adalah masjid saya yang saya bangun, hias, percantik…..”. mereka melakukan hal semacam itu karena ingin dilihat dan ditanggapi orang (riya) juga ingin didengar dan diperdengarkan oranag (sum’ah). Berkata ibnu Ruslan :”dzohir hadits ini menerangkan tentang kemukjizatan Nabi saw tentang akan datangnya suatu masa setelah beliau wafat dimana mesjid-mesjid akan dibangun atas dasar kesombongan (hanya memperhatikan aspek fisik belaka); mereka menjejalinya dengan ornament-ornamen yang berlebihan, terutama para penguasa mereka akan bersikap seperti apa yang telah menimpa Mesir, Syam dan Baitul Maqdis; yaitu dengan cara merampas harta rakyat dengan jalan kedzoliman.

f. Terjemah Matan Hadits
1. pada riwayat Abu Daud dan Ibnu Majah :
“Tidak akan terjadi qiyamat sehingga manusia berbangga-bangga/sombong dalam membangun mesjid-mesjid”
2. Pada riwayat alNasai
“Termasuk tanda-tanda sudah dekatnya waktu qiyamat yaitu manusia berbangga-bangga/sombong dalaml membangun mesjid-mesjid”
G. Resonansi
Manusia dituntut untuk beribadah semata-mata ikhlas karena Allah dan hanya mengikuti sunnah Nabi Muhammad saw. Dengan segala potensi baik buruknya manusia telah diwanti-wanti supaya tetap berpegang teguh kepada dua sumber hidup yaitu Al-Quran dan as Sunnah. Segala penanganan penyakit telah ada jawabannya dalam kedua sumber tersebut; baik penyakit aqidah, ibadah maupun mu’amalah timgaal kemauan, kesanggupan dan keistiqomahan manusia untuk mempertahankannya. Terkait pembangunan mesjid dalam hadits tersebut, bukan salah dalam perbuatan membangun mesjidnya, melainkan motif yang melatarbelakangi pembangunan mesjid itu sendiri. Dalam Islam perbuatan yang bersifat mu’amalah pada dasarnya sah-sah saja apalagi bermaksud untuk memotivasi ibadah, maka akan naik derajatnya menjadi ibadah termasuk memfasilitasi orang beribadah dengan nyaman kepada Allah swt. Karena dalam masalah memebangun mesjid yang menjadi tinjauan bukan hanya sekedar membangun mesjid secara hissi (fisik) namun juga secara maknawi (mendirikan dengan ibadah-ibadah). Hadits tersebut bisa saja dalam tekstual tersurat makna laranagan memiliki motivasi selain karena Allah, namun secara umum dapat dipetik asumsi juga termasuk larangan pada setiap amal.
Ucapan Nabi diatas bukan bermaksud untuk menakut-nakuti manusia atau bahkan memebuat manusia menjadi fatalism dengan ungkapan telah dekatnya waktu qiyamat, melainkan sebagai sebuah suplemen/mudzakarah agar manusia sadar tentang eksistensi, tujuan, orientasi dan yang paling penting pertanggungan jawab mereka kelak di akhirat. Sungguh terdapat beberapa riwayat yang menyatakan sudah dekatnya waktu qiyamat namun semuanya diarahkan kepada aspek energisitas muslimin agar tetap beramal sesuai ilmu agama.
Tidak hanya satu tema rosul mengungkapkan tanda-tanda sudah dekatnya hari qiayamat, namun beragam varian. Semuanya disesuaikan berdasarkan proporsi yang dianggap urgen dalam aspek keberlangsungan kemaslahatan hidup dan kehidupan manusia. Seperti masalah ilmu (sebagai dasar dalam beramal), perjudiandan minuman keras (symbol terhadap kesehatan, social dan ekonomi), perzinahan (symbol marginalisasi dan penindasan perempuan) dan lain sebagainya.
Dengan nada hadits pada riwayat diatas semestinya member pengertian kepada manusia bahwa hidup didunia harus mengupayakan agar tetap ikhlas dan ittiba sebelum tiba hari dimana semua amal dimintai pertanggung jawaban yang kedatangannya itu telah Allah dan Nabi-Nya isyaratkan dalam Al-Quran dan as Sunnah.
Wallahu ‘alam bisshowab

Maraji’
1. Al-Quranul Karim
2. Muhammad Syamsul Haq al ‘Adzim Abadi. Abu al Tib, ‘Aunu al Ma’bud Syarhu Sunan Abu Daud, (Libanon: 1979) Dar al Fikr, Cet ke-3
3. Sunan Abu Daud Bi syarhi al Hafidz Jalal al Din al Suyuthi bi hasiyati al Imam al Jalil al Sindi, (Lebanon : tt) Dar al Qolam
4. Ibnu ‘Abdullah Muhammad bin Yazid al Qoznawi Ibnu Majah. Al Hafidz, Sunan Ibnu Majah Huququ Nususihi Wa Roqqoma Kutubihi Wa Abwabihi Wa Ahaditsihi WA ‘Allaqo ‘Alaihi Muhammad Fuad ‘Abdul Baqi, (Semarang : tt) Toha Putra
5. Imam Muhammad bin Ismail al Kulalani al Shon’ani al MA’ruf al Amir. Al Sayid, Subulu al Salam, (Semarang : tt), Toha Putra
6. Ma’luf. Lowis, Almunjid Fi al Lughoh Wal A’lam, (Lebanon : 1960), Dar al Masyrik, Cet ke-23
7. A.J. Wensink, Mu’jam Mufahros Li Alfadzil Haditsi Nabawiyyah, (Leiden : 1936), jilid Ke-1.
8. Abdu al Rahman bin Abi Hatim Muhammad bin Idris bin Mundzir al Tamimi al Handzoli al Rozi. Abu Muhammad, Aljarhu Wa al Ta’dilu, (Mesir : 1952), Dar al Fikr Cet ke-1.
9. Musthafa alMaraghi. Ahmad, Tafsir al Maraghi, (Makkah : tt) Maktabah al TIjariyah, Jilid Ke-4

No comments yet»

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: