khawarij

Nama : Irham Shidiq
Nomor Pokok : 08.0128
Fak/Jurusan : Ushuluddin/Tafsir Hadits
Smester : VI (Enam)

KHAWARIJ
1. Prinsip-prinsipnya :
• Orang berdosa besar adalah kafir (murtad) wajib dibunuh
• Masalah dalam politik dan ketata negaraan (Basri, M.Ag. Hasan Drs. Hasan dkk, Ilmu kalam; Sejarah dan Pokok Pikiran Aliran-aliran, Azkia Pustaka Utama, Cet ke-3, Bandung 2007, hlm13) : demokratis
MURJIAH
1. Prinsip-prinsipnya :
• Orang berdosa besar masih mukmin, adapun dosanya tergantung kepada Allah apakah mau diampuni atau tidak diampuni
• Yang penting iman. Amal nomor dua
MU’TAZILAH
1. Prinsip-prinsipnya :
• Orang berdosa besar bukan kafir bukan juga mukmin akan tetapi berada pada dua posisi (almanzilah bainal manzilataini)
• Tuhan qodim (meniadakan sifat-sifat Allah; untuk mensucikan Allah)
• Adil (mensucikan perbuatan Allah); Allah hanya menghendaki berbuat baik tidak menghendaki /bisa berbuat salah
• Wa’ad wal Wa’id (orang jahat dibalas neraka dan orang baik dibalas surge); menolak syafa’at
QODARIAH
1. Prinsip-prinsipnya :
• Manusia mempunyai kemerdekaan dalam berkehendak dan perbuatannya ( free will free act)
• Al-Kahfi : 29—Fusilat : 40—al Ra’du : 11
JABARIAH
1. Prinsip-prinsipnya :
• Manusia tidak punya kemerdekaan berkehendak dalam perbuatannya (predestination/fatalisme)
• Al An’am : 112—al Shafat : 96—al Anfal : 17—al Insan : 30
ASY’ARIYAH
1. Prinsip-prinsipnya :
• Sifat allah, (mengakui sifat Allah bukan dengan dzat-Nya) dan berbeda denga sifat makhluk
• Kekuasaan Allah dan perbuatan manusia; perbuatan manusia diciptakan (kekuasaan) Allah, akan tetapi manusia juga memiliki kemampuan untuk melakukan kasab/perbuatan
• Melihat Allah pada hari qiyamat : Allah dpat dilihat pada hari qiyamat (bukan berarti allah –karena terlihat—adalah makhluk)
• Kedudukan al-Quran ; al-Quran sebagai manifestasi (prwujudan) kalamullah yang qodim, tidak diciptakan
• Keadilan Allah mutlaq (untuk memebalas dan member adzab tidak dibebankan kewajiban atau dinilai dzalim)
MATURIDIYAH
1. Prinsip-prinsipnya :
• Sifat-sifat Allah : mengetahui dan berkuasa dengan sifat bukan dengan dzat-Nya (sama dengan Asy’ariah)
• Perbuatan manusia : manusia yang menciptakan perbuatan-perbuatannya (sama dengan Mu’tazilah)
• Kedudukan Al-Quran : dia adalah qodim alias tidak
• Perbuatan Allah : adalah semata-mata irodahnya, tidak sia-sia dan itu adalah tujuannya; tidak dikenai kewajiban (sama dengan Asy’ariah)
• Pelaku dosa besar : tetap mu’min, balasannya diserahkan kepada Allah. Dan mereka menolak faham almanzilah bainal manzilataini
• Janji dan ancaman : kelak pasti akan terjadi
• Tajassum : tangan, wajah Allah dan sebagainya mesti diberi arti majazi atau kiasan bukan dalam arti ta’wil
• Kebaikan dan keburukan : ada yang dapat diketahui oleh akal kebaikannya, keburukannya dan ada yang kebaikan dan keburukannya tidak diketahui oleh akal

SEPUTAR BEBERAPA OBJEK PEMAHAMAN
BERBAGAI ALIRAN TEOLOGI

AKAL DAN WAHYU
1. Asy’ariyah
• Segala kewajiban manusia hanya dapat diketahui melalui wahyu, akal tak dapat membuat sesuatu menjadi wajib dan tidak dapat mengetahui, bahwa mengerjakan yang baik dan menjauhi yang buruk adalah wajib bagi manusia. Dengan demikian, akal dapat mengetahui Tuhan, tetapi akal tidak dapat untuk mengetahui kewajiban-kewajiban manusia. Untuk itulah wahyu diperlukan.
• Perbuatan baik dan buruk adalah sesuai dengan tujuan sipembuat, yang sudah tentu ukurannya adalah masa yang akan dating yaitu akhirat. Dan itu bisa diketahui oleh wahyu.
• Mengetahui Tuhan, ada yang bisa diketahui dengan akal saja; oleh wahyu saja dan oleh kedua-duanya. Yang bisa diketahui oleh akal saja hanya wujud tuhan yaitu dari ciptaan-Nya. Sementara wahyu untuk mengatur segalanya.
2. Mu’tazilah
• Segala pengetahuan dapat diperoleh melalui perantara akal, kewajiban-kewajiban dapat diketahui melalui akal dengan pemikiran yang mendalam. Dengan demikian, berterimakasih kepada Tuhan sebelum turunnya wahyu adalah wajib.
• Perbuatan baik dan buruk, akal dapat mengetahuinya tapi secara garis besarnya saja sementara wahyu/Rosul yang merincikannya (wahyu penyempurna akal)
• Fungsi wahyu, (konfirmasi dan informasi) mengingatkan manusia dan untuk memperpendek jalan mengetahui Tuhan, karna akal dapat mengetahui Tuhan tapi dengan jalan yang panjang.
3. Maturidiah
• Segala pengetahuan dapat diperoleh melalui perantara akal, kewajiban-kewajiban dapat diketahui melalui akal dengan pemikiran yang mendalam. Dengan demikian, berterimakasih kepada Tuhan sebelum turunnya wahyu adalah wajib.
• Perbuatan baik dan buruk, akal dapat mengetahui sebab-sebab kebaikan dan keburukan sementara yang mewajibkannya adalah Tuhan, sebelum turun wahyu berterima kasih kepada Tuhan, berbuat baik tidaklah wajib.
• Fungsi wahyu, untuk mengetahui kewajiban-kewajiban manusia

Perbandingan
Aliran Mengetahui Tuhan Mengetahui Baik, Jahat Kewajiban Mengetahui Tuhan Kewajiban Mengetahui Baik, Buruk
Asy’ariah Akal Wahyu Wahyu Wahyu
Mu’tazilah Akal Akal Akal Akal
Maturidiah Samarkand Akal Akal Akal Wahyu
Maturidiah Bukhoro Akal Akal Wahyu Wahyu

KONSEP IMAN
1. Asy’ariyah
• Iman adalah tashdiq (batasan Iman tashdiqun billah)
• Pengakuan dalam hati tentang ke-Esaan Tuhan dan tentang kebenaran rosul dan apa yang dibawanya.
• Mengucapkan dengan lisan dan mengerjakan rukun-rukun islam adalah cabang dari iman
• Pelaku dosa besar (fasiq), jika meninggal sebelum bertobat maka nasibnya diserahkan kepada Allah
2. Mu’tazilah
• Iman bukan tashdiq (pasif), sebab dengan akalnya harus sampai kepada kewajiban mengetahui Tuhan; oaring yang tahu Tuhan tetapi melawan kepada-Nya, bukanlah orang mu’min. tegasnya iman menurut mereka adalah pelaksanaanperintah-perintah Tuhan.
• Pelaku dosa besar, tidaklah beriman dan pantas masuk neraka.tetapi siksaannya tidak sama besar dengan orang kafir
3. Maturidiyah Bukhoro
• Iman adalah tashdiq (tidak bisa mengambil bentukk ma’rifah atau amal), kepatuhan kepada Tuhan merupakan akibat dari kepercayaan atau iman.
• Pelaku dosa besar bukanlah kafir. Jika meninggal dunia sungguhpun sebelum bertaubat maka hasilnya dikembalikan kepada Tuhan. iman adalah kunci untuk masuk surge sedangkan amal akan menentukan tingkatan yang akan dimasuki seseorang dalam surge.
4. Maturidiyah Samarkand
• Iman tidak hanya sekedar tashdiq, tapi juga harus dinyatakan dalam bentuk ma’rifah atau amal.
KEBEBASAN DAN KETERIKATAN MANUSIA
1. Asy’ariyah
• Sesuatu terjadi dengan perantara daya yang menciptakan. Manusia menggunakan daya (kasab) dan timbul dari al-muktasib (yang menciptakan daya); manusia mempunyai keterikatan dengan Tuhan (Qs. Ash Shafat : 96). Jad kasab pada hakikatnya adalah perbuatan Tuhan sendiri
• Dalam perbuatan terdapat dua unsure; penggerak yang mewujudkan gerak (Tuhan), dan badan yang bergerak (manusia). Tegasnya, dalam prbuatan-perbuatan, Tuhan mengambil tempat dalam diri manusia. Dengan demikian al-kasab, merupakan perbuatan paksaan, dengan kata lain manusia tidak memiliki kebebasan, tetapi terikat oleh perbuatan-perbuatan Tuhan.
2. Mu’tazilah
• Manusia sendirilah yang menciptakan perbuatan-perbuatannya (istitho’ah telah ada dalam diri manusia sebelum adanya perbuatan). Tuhan tidak mempunyai bagian dalam perwujudan perbuatan-perbuatan manusia.

3. Maturidiyah Bukhoro
• Tuhan adalah yang menciptakan perbuatan (contoh ; menciptakan perbuatan duduk) dan manusia yang melakukan perbuatan (contoh ; manusia yang melakukan duduk). Perbuatan manusia terikat dengan perbuatan Tuhan.
4. Maturidiyah Samarkand
• Perbuatan manusia adalah perbutan Tuhan. perbuatan diciptakan lebih dulu. Perbuatan mesti dikerjakan sesuai daya yang telah dibekali kapada manusia; manusialah yang menentukan pemakaian daya. Manusia mempunyai kebebasan memilih yang terbatas pada kemauan memilih pemakaian daya yang telah diciptakan Tuhan pada diri manusia. Manusia memiliki wujud atas kehendak Tuhan, bukan kehendak manusia
• Prinsip masyiah (kemauan) dan Ridho (kerelaan). Manusia melakukan perbuatan baik dan buruk atas kehendak Tuhan dan kerelaan-Nya, tetapi tidak dengan kerelaan manusia yang mengerjakan perbuatan buruk.
KEADILA TUHAN
1. Asy’ariyah
• Tuhan tidak didorong oleh sebab-sebab untuk berbuat sesuatu (kekuasaan dan kehendak mutlaq-Nya)
• Keadila Tuhan; Tuhan dapat berbuat sekehndak-Nya terhadap makhluk-Nya. Meskipun di katakan memberi pahala atau hukuman, Tuhan tetap bersifat adil
2. Mu’tazilah
• Keadilan Tuhan erat kaitan dengan hak. Tuhan berbuat menurut semestinya serta sesuai dengan kepentingan manusia
• Tuhan dengan perbuatan-Nya mesti memegangi prinsip keadilan dan anugrah.
3. Maturidiyah Bukhara
• Tuhan berbuat adil karena sesuai dengan kehendak-Nya dan mustahil berbuat dzalim
4. Maturidiyah Samarkand
• Tuhan dengan perbuatan-Nya mesti memegangi prinsip keadilan dan anugrah.

2 Komentar»

  ts 74 wrote @

kalo pandangan khawarij atas sifat allah seperti apa? dan bagai,mana kedudukan akal dan quran menurut mereka? mohon jawabanya. jzklh

  free dating singles wrote @

Good information. Lucky me I discovered your site by accident (stumbleupon).
I’ve bookmarked it for later!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: