Kaidah-Kaidah dalam Ilmu Hadits

KAIDAH-KAIDAH ILMU AL-HADITS (‘ULUMUL HADITS)
Pengantar Ilmu Hadits
1. Keharusan berpedoman kepada Al-Quran dan al-Hadits
2. Fungsi al-Hadits terhadap al-Quran
3. Sejarah singkat perkembangan hadits
4. Pembagian ilmu hadits
Ilmu Musthalah Hadits
1. Devinisi dan istilah-istilah dasar ilmu musthalah hadits
2. Klasifikasi ilmu musthalah hadits
3. Hadits-hadits ditinjau dari segi sanad
4. Hadits ahad
5. Hadits ditinjau dari segi periwayatan

I. PENGANTAR ILMU HADITS

1. KEHARUSAN BERPEDOMAN KEPADA AL-QURAN DAN AL-HADITS

•                                 •   •    
Apa saja harta rampasan (fai-i) yang diberikan Allah kepada RasulNya (dari harta benda) yang berasal dari penduduk kota-kota Maka adalah untuk Allah, untuk rasul, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang Kaya saja di antara kamu. apa yang diberikan Rasul kepadamu, Maka terimalah. dan apa yang dilarangnya bagimu, Maka tinggalkanlah. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Amat keras hukumannya. (Qs. Al Hasyr, 59 : 7)

     
Dan taatilah Allah dan rasul, supaya kamu diberi rahmat. (Qs. Ali Imra, 3 : 132)

            
Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul diantara kamu seperti panggilan sebahagian kamu kepada sebahagian (yang lain). Sesungguhnya Allah telah mengetahui orang-orang yang berangsur- angsur pergi di antara kamu dengan berlindung (kepada kawannya), Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih. |(Qs. An Nur, 24 : 63)

       •     
Katakanlah: “Ta’atilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, Maka Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir”. (Qs. Ali Imran, 3 : 32)
         •             •   
Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. dan Barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya Maka sungguhlah Dia telah sesat, sesat yang nyata. (Qs. AL Ahzab, 33 : 36)

     
Dan Tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. (Qs. AL Anbiya, 21 : 107)

2. FUNGSI AL-QURAN TERHADAP AL-HADITS

ما كان موافقا للكثاب موْيد وموْكدا ما جا ء فيه. كاْ حديث الاْمر با الصلاة
Hadits sebagai penyesuaian terhadap Al-Quran dari segi penguat . seperti hadits perintah shalat

ما كان مبينا ومفسرا لما جا ء مجملا في القران الكريم. كبيان كيفية الصلاة

Hadits sebagai penjelas dan penafsir bagi Al-Quran yang masih global. Seperti penjelasan tentang tata cara shalat

ما سن رسول الله ص. فيما ليس فيه نص كثاب. كثحريم اكل الحمر الاهلية
Hadits sebagai penentu hokum yang tidak eksplisit dalam Al-quran. Seperti pengharaman daging keledai merah

DALIL-DALIL YANG MENUNJUKAN KEHUJJAHAN HADITS

a. Iman
      . 
Allah lebih mengetahui di mana Dia menempatkan tugas kerasulan. (Qs. Al an’am, 6 : 124)

b. Al-Quranul karim
•             
Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, Sesungguhnya ia telah mentaati Allah. dan Barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), Maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka. (Qs. An Nisa, 4 : 80)
             •    
Ya Tuhan Kami, utuslah untuk mereka sesorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al kitab (Al Quran) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana. (Qs. Albaqoroh, 2 : 129)
                         
sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus diantara mereka seorang Rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al kitab dan Al hikmah. dan Sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata. (Qs. Ali IMran, 3 : 164)

c. Hadits

عن ابي هريرة عن رسول الله ص قال : ثركث فبكم امرين لن ثضلوا ما ثمسكثم بهما : كثا ب الله وسنثي (رواه الحاكم)
Hadits diterima dari Abu Hurairah ra. dari Nabi saw. Beliau bersabda : “ Telah aku tinggalkan dua urusan yang apabila kalian berpegang teguh kepada keduanya tidak akan tersesat selama-lamanya; Al-Quran dan As Sunnah “. (HR. Abu Al HAkim)

عن المقادم بن معد يكرب ض عن رسول الله ص انه قال : الا انى اوثيث الكثاب ومثله معه (رواه ابو داود)
Hadits diterima dari Muqodam bin Ma’di Yakrib ra. Dari Nabi saw. Beliau bersabda : “ Ketahuilah sesungguhnya aku telah diwahyukan Al-Quran dan yang semisalnya (As Sunnah)”. ( HR. Abu Daud)
عن العرباد بن سارية ض عن الرسول الله ص انه قال : عليكم بسنثى وسنة الخلفاء الراشدين المهديين ثمسكوا بها, وعضوا عليها با النواجد (رواه ابو داود)
Hadits diterima dari ‘Irbad bin Ssariyah ra. Dari NAbi saw. Beliau bersabda :” Wajib atas kalian memegang sunnahku dan sunnah khulafa urrasyidin almahdiyin, dan gigit (peganglah sunnah tersebut) walau dengan graham”. (HR. Abu Daud)

3. SEJARAH SINGKAT PERKEMBANGAN HADITS

Mengingat pentingnya kedudukan serta fungsi hadits dalam amal seorang muslim, maka tak kalah penting pula ilmu periwayatan dan penukilan khabar yang bersumber dari nabi saw. Ini dimaksudkan lantaran keberadaan sabda nabi saw selalu mendapat ancaman dari para perombak sunnah ataupun inkarussunnah (mengingkari eksistensi sunnah –hadits-). Hal ini berdasarkan kepada ayat :
       •          
Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang Fasik membawa suatu berita, Maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu. (Qs. Al Hujurat, 49 : 6)
Dan juga berdasarkan hadits nabi saw :

نضر الله امرأَسمع منا شياً فبلغه كما سمع منه فرب مبلغ اوعى من سامع (رواه الثرمدى)
“Allah akan memberikan yang hijau-hijau (balasan surga) bagi siapa saja yang mendengar sunnahku (Muhammad saw) kemudian dia menyampaikanya kembali sama seperti yang dia dengar dariku. Sedikit orang yang menyampaikan lebih faham daripada orang yang mendengaarkan (tapi tidak hadir)”. (HR. Al Tirmidzi)
Dua dalil diatas menjadi landasan tentang aturan didalam menerima khobar atau hadits, cara menghafal dan menjaganya sehingga bisa tersampaikan kembali sama persis seprti yang didengar.
Secara garis besar, sejarah ilmu hadits dibagi menjadi ; masa kemunculan, masa perkembangan, masa kodifikasi, masa penyebaran dan masa kejumudan.
Dalam kaitan menerima dan menyampaikan hadits, didapti bahwa sahabat pernah melakukan telusur sanad (orang yang menyampaikan hadits) untuk meyakinkan kebenaran apa yang dibawanya itu. Secara eksplisit bahwa ilmu hadits telah lahir (terutama yang berkaitan dengan ilmu sanad – urutan orang dalam menyampaikan hadits dan penilaian pribadi yang membawa hadits-), namun hanya bersifat umum, sahabat melakukan hal demikian dalam rangka mengindentifikasi antara hadits yang layak diterima atau ditolak. Dalam muqodimah kitab shohih Muslim yang dinukil dari perkataan seorang tabi’in yang bernama ibnu sirin disebutkan : para sahabat tidak menanyakan terkait isnad (urutan orang yang menyampaikan hadits) namun setelah peristiwa fitnah (kasus tahkim dimasa kekholifahan Ali ra) maka mereka merasa penting untuk menginvestigasi isnad dimaksud. Mereka hanya menerima hadits yang disampaikan oleh ahli sunnah dan menolak hadits yang dibawa oleh ahli bid’ah atau syi’ah.
Sejak saat itulah mulai ditetapkan bahwa ketentuan hadits dapat diterima manakala telah diketahui sanadnya. Dari sini pula muncul ketentuan ilmu jarah ta’dil (ilmu yang membahas tentang metode penilaian rawi), sifat-sifat dan syarat-syarat rawi dalam menerima dan menyampaikan hadits, aspek ketersambungan dan keterputusan sanad, dan pengkajian aspek matan (redaksi) hadits. Kemudian ulama mengekspolasi terkait ilmu hadits -karena dianggap perlu untuk menyelamatkan hadits- sehingga berkembanglah ilmu hadits dan lahir sfesifikasi ilmu-ilmu hadits, seperti aspek hafalan rawi, kaifiyah menerima dan menyampaikan haditsdan ilmu nasikh mansukh.
Tumbuh kembangnya ilmu-ilmu hadits seiring dengan bermunculannya ilmu-ilmu perangkat keagamaan lain, seperti ilmu ushul, fiqih dan lain sebagainya. Peristiwa ini terjadi sekitar abad 4 hijrah. Ulama yang mula-mula membukukan ilmu mushthalah hadits secara sederhana yaitu Al qodhi Abu Muhammad Al hasan bin Abdurrohman bin khilad Al Romahurmudzi (W. 360 H). karyanya tersebut diberi nama Al Muhaddits Al Fashil Baina Al Rawi Wal Wa’i

4. PEMBAGIAN ILMU HADITS
Ilmu hadist dibagi menjadai dua bagian :
1. Ilmu Riwayah
Ilmu yang mangetahui perkataan, perbuatan takrir dansifat-sifat Nabi. Dengan kata lain ilmu hadist riwayah adalah ilmu yang membahas segala sesuatu yang datang dari Nabi baik perkataan, perbuatan, ataupun takrir.
2. Ilmu Dirayah
Ilmu yang mempelajari tentang kaidah-kaidah untuk mengetahui hal ihwal sanad, matan, cara-cara menerima dan menyampaikan hadist dan sifat-sifat rawi. Oleh karena itu yang menjadi objek pembahasan dari ilmu hadist dirayah adalah keadaan matan, sanad dan rawi hadist.

II. ILMU MUSTHOLAH HADITS
1. DEVINISI DAN ISTILAH-ISTILAH ILMU MUSTHOLAH HADITS
a. Ilmu mustholah hadits : yaitu ilmu yang paling mendasar serta kaidah-kaidah untuk mengetahui hal ihwal sanad dan matan ditinjau dari segi diterima dan ditolaknya.
b. Pokok pembahasannya : yaitu sanad dan matan ditinjau dari segi diterima dan ditolaknya
c. Kegunaannya : untuk menjelaskan hadits yang kedudukannya shahih dan dha’if
d. Hadits :
• Menurut bahasa : yaitu baru
• Menurut istilah : apa-apa yang disandarkan kepada nabi saw berupa perkataan, perbuatan, persetujuan atau sifatnya
e. Khobar :
• Menurut bahasa : yaitu berita
• Menurut istilah : terdapat tiga makna; a) persamaan hadits, b) kebalikan dari hadits, c) lebih umum daripada hadits
f. Atsar :
• Menurut bahasa : yaitu bekas atau jejak sesuatu
• Menurut istilah : terdapat dua makna; a) persamaan hadits, b) kebalikan dar hadits
g. Sanad :
• Menyandarkan sebuah berita kepada yang mengucapkannya langsung
• Silsilah rijal atau rowi yang menyampaikan redaksi hadits
h. Matan :
• Menurut bahasa : apa-apa yang menonjol atau meninggi dari permukaan tanah
• Menurut istilah : ucapan atau redaksi hadits yang disampaikan oleh para perowi berdasarkan sanad
i. Muhaddits : yaitu orang yang sibuk dengan mengkaji ilmu hadits baik riwayat ataupun diroyat
j. Alhafidz ; yaitu orang yang hafal 100.000 Hdits lengkap dengan sanad dan matannya serta ilmu haditsnya
k. Alhakim : yaitu orang yang hafal 300.000 Hdits lengkap dengan sanad dan matannya serta ilmu haditsnya
l. Amirul mukminin fil hadits : yaitu orang yang paling tinggi derajatnya dalam dunia hadits dan ilmu hadits, seperti imam al-Bukhori.

2. KLASIFIKASI ILMU MUSTHOLAH HADITS
1. Ilmu Riwayah ;
a. Adab dalam belajar hadits
b. Adab bagi para muhaddits
c. Metode mendengar (menerima), dan menjaga keaslian hadits
d. Sifat perowi hadits dan syarat-syarat menyampaikannya
e. Metode mencatat (kodifikasi) hadits dan menjaganya
2. Ilmu Diroyah ;
a. Ilmu Matan
 Matan hadits ditinjau dari segi yang berkatanya ; Hadits Qudsi, Hadits Marfu’, Hadits Mauquf dan Hadits Maqtu’.
 Matan hadits ditinjau dari segi ilmunya ; Gharib Hadits, Sebab turunnya hadits, nasikh mansukh, mukhtalif hadits, muhkam hadits
b. Ilmu Sanad
 Sanad ditinjau dari segi ketersambungan ; Hadits Musalsal, Hadits Muttashil, Hadits Musnad, Hadits Mu’an‘an, Hadits Muannan, Hadits ‘Aliy, Hadits Nazil, Mazid Fi Muttashilil Asanid
 Sanad ditinjau dari segi keterputusan ; Hadits Munqothi’, HaditsMursal, HaditsMu’dhal, Hadits Mu’allaq, Hadits Mursal Khofi, Hadits Mudallas
c. Ilmu yang berserikat antara sanad dan matan
 Kesendirian hadits ; Gharib, Afrod
 Keterbilangan hadits beserta sepakatnya atas keterbilangan tersebut ; hadits Mutawatir, Hadits Masyhur, Hadits Mustafid, Hadits ‘Aziz, Hadits Tabi’, Hadits Syahid
 Pertentangan dalam periwayatan hadits ; Hadits Mu’allal, Ziyadatu Tsiqoh, Hadits Syadz dan Mahfudz, Hadits Munkar dan Ma’ruf, Hadits Mudhthorib, hadits Maqlub, Hadits Mudroj, Hadits Musohaf
d. Ilmu Rowi
 Ilmu yang berkaitan dengan hal ihwal rowi ; Sifat rowi yang diterima dan ditolak periwayatannya, ilmu jarah (kritik) dan ta’dil (pambelaan) rawi, Ilmu tentang sahabat, ilmu yang berkaitan dengan rowi yang tsiqoh (kuat) dan rowi yang dhoif (lemah), ilmu tentang rowi yang diperkirakan kabur hafalannya di akhir hayatnya, ilmu wihdan, ilmu rowi-rowi yang mudallas
 Ilmu yang membahas tentang pribadi rowi ;
pertama, ilmu sejarah rowi ; sejarah para perawi, sejarah para tabi’in, riwayat sesama saudara/i, riwayat rowi yang besar kepada rowi kecil, riwayat anak kepada bapaknya, thobaqoh rowi, para atba’u (pengikut) tabi’in, riwayat mudabbaj dan aqron, riwayat lahiq dan sabiq, dan riwayat anak dari bapak
Kedua ; Ilmu tentang nama-nama rowi ; Mubhamat, Mu’talif dan Mukhtalif, Muttafiq dan Muftariq, Nama (saja) dan kunyah, Laqob-laqob, Keterbilangan nama rowi, Nama-nama dan Kunyah, Nisbah selain kepada bapak, Nisbah kepada yang bukan dzahirnya, penyerupaan awal dan akhir nama, Negara dan kampong rowi.
e. Ilmu hadits ditinjau dari segi diterima dan ditolak
 Macam-macam hadits yang diterima periwayatannya ; hadits Sohih, Hadits Hasan, hadits Sohih Lighairihi, Hadits hasan Lighairihi
 Macam-macam hadits yang ditolak periwayatannya ;Hadits Shaif dan macam-macamnya, Hadits Musohaf, Hadits matruk, Hadits matruh, hadits maudu’
To be Contiue..

No comments yet»

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: