Akar Bencana

Oleh: DEDE.QS

Climate change & Global Warming, perubahan iklim dan pemanasan global, kalimat tersebut dengan cepat memasyarakat, setelah 189 para pakar dan wakil negara mewakili negaranya masing-masing berkumpul di Bali untuk mendiskusikan persoalan yang sangat menghawatirkan masyarakat bumi. Yaitu naiknya suhu bumi. Yang diperkirakan sejak 1990 sampai 2100 nanti suhu udara bumi akan meningkat dari kisaran 1,1 sampai 6,4 derajat celcius disebabkan rusaknya lingkungan hidup. Organisasi para astronot dunia yang dikenal dengan nama NASA, melaporkan bahwa sekarang saja ketebalan es dikutub utara 40% lebih tipis daripada tahun 60-an. Akibatnya banyak pulau-pulau kecil tenggelam, karena naiknya air laut yang di sebabkan sedikit demi sedikit gunung-gunung dan benua es di kutub utara dan selatan mencair. Diperkirakan permukaan air laut akan naik sampai 95 cm. Bahkan seorang fisikawan barat yang bernama Stephen Hawking mengatakan bahwa kemungkinan terjadinya kiamat itu karena pemanasan global, sebab pemanasan global lebih dahsyat daripada perang nuklir. Memang perkiraan hanyalah perkiraan, ilmu manusia tidak akan melampaui ilmu Allah tentang kiamat, tapi apakah pemanasan global seperti yang terjadi saat ini adalah yang dimaksud oleh Rasulullah bahwa diantara tanda kiamat adalah api yang mengumpulkan manusia dari timur ke barat? sebab apa yang dikatakan oleh Rasulullah kadang bersifat tekstual atau kontekstual, atau dhohir atau ma’nawi, kita kembalikan kepada Allah, wallahu a’lam. Apakah mungkin mencairnya gunung-gunung es yang mengakibatkan naiknya air laut akan menenggelamkan Indonesia dan yang lainnya?. Sebagai umat muslim hendaknya kita menyadari akan hal itu, kenapa itu bisa terjadi?. Mungkin cukup menjadi jawaban bahkan peringatan bagi kita didalam Al-Qur’an surat Ar-rum ayat 41, Allah Swt berfirman: Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (Qs. Ar-rum: 41) Climate change dan global warming terjadi bukan tanpa sebab, bahkan ada hal yang menyebabkan bencana-bencana (termasuk climate change & global warming) itu terjadi yang tidak secara nampak dengan peledakan atau pemanfaatan sumber daya alam yang berlebihan. Membuat kerusakan di muka bumi memang hobi manusia, yang terdiri dari membuat kerusakan secara dhohir dan secara ma’nawi. Secara dhohir dapat dilihat misalkan dari penebangan pohon-pohon dengan buas. Yang menjadi penyebab paling utama datangnya bencana sebenarnya adalah kerusakan secara ma’nawi yang di lakukan oleh anak, cucu, sampai cicit Adam. Yaitu dekadensi moral yang sedang naik daun. Allah semakin disekutukan dengan thagut-thagut zaman modern maupun tradisional, kemusrykan seolah menjadi akidah, minuman keras seakan menjadi kebutuhan primer, perzinaan menjadi sesuatu yang lazim didengar, hamil diluar nikah seolah menjadi bagian dari politik etis, perjudian seakan menjadi bagian dari ekonomi, dan akhlak para remaja terus di suplay dengan produk-produk Zionis dari mulai pakaian, bahasa, sampai pembentukan konsep diri. Yang menjadikan para kader penghuni negeri yang kabarnya mayoritas muslim ini tidak taat hukum. Suhu nafsu umat muslim terus mengalami pemanasan karena terus disuluti oleh setan dari golongan jin juga para setan manusia perorangan maupun yang terorganisir (kaum kufar misionaris/ zionis), agar menjauh dari kebaikan-kebaikan. Namun para pengklaim “orang beriman” sendirilah sebenarnya yang menyebabkan semakin berubahnya iklim kehidupan di muka bumi yang berdampak berubahnya iklim bumi secara geografis dan mengundang bencana, artinya orang muslim sendiri. Sebab orang-orang kafir tidak memiliki kuasa untuk menghancurkan islam, hanya saja karena rendahnya imanmeter orang-orang islam sendiri maka mereka dengan mudah disesatkan. Memang zaman yang semakin buruk merupakan sunatullah, yang sebagaimana dikatakan oleh Anas bin Malik kepada Zubair Ibnu Addiy: اصْبِرُوا فَإِنَّهُ لَا يَأْتِي عَلَيْكُمْ زَمَانٌ إِلَّا الَّذِي بَعْدَهُ شَرٌّ مِنْهُ حَتَّى تَلْقَوْا رَبَّكُمْ سَمِعْتُهُ مِنْ نَبِيِّكُمْ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ Bersabarlah, karena sesungguhnya tidak datang atas kamu zaman kecuali yang datang sesudahnya lebih jelek dari sebelumnya, sampai kalian bertemu Rabb kalian. Aku mendengarnya dari Nabi kalian. (صحيح البخاري, كتاب الفتن ) Tapi hadits ini tidak mengindikasikan untuk bersikap pasif dan mewajarkan kekacauan di tubuh umat muslim, melainkan pegangan yang harus kita ambil ialah harusnya bersikap istiqomah dizaman yang serba jauh dari konsep agama islam ini. Terutama para penjuru da’wah, haruslah bersikap semangat dan tidak berputus asa. Memang dunia semakin maju, kekayaan semakin melimpah, dan kemudahan semakin dapat dirasakan oleh warga dunia karena berkembangnya teknologi. Tapi bukan itulah yang dimaksud oleh Rasulullah. Melainkan semakin buruknya akhlak manusia, semakin di marjinalkannya Al-Qur’an dan Sunnah, dan semakin murahnya agama. Dari mulai ma’shiyat kelas “pepetek” sampai kelas “paus” seakan menjadi sesuatu yang tak berhukum dan disepelekan. Maka bencana-bencana itu datang, karena kerusakan-kerusakan yang dilakukan oleh manusia, baik kerusakan terhadap fasilitas bumi secara langsung (dhahir) maupun kerusakan secara tersembunyi dengan ma’shiyat (ma’nawi), ma’shiyat secara perorangan (munkar) maupun bersama-sama (fahisyah), misalkan zina. Sudah selayaknya kita berintrospeksi diri dan meluruskannya, bukan menakuti diri dengan prediksi gempa bumi atau tsunami. Climate change dan global warming tentu menjadi kabar yang menghawatirkan masyarakat bumi. Tapi perubahan iklim akhlaq dan pemanasan konflik antara nafsu ammarah bi tsu dengan ajaran agama harus lebih menghawatirkan lagi masyarakat bumi yang semuanya calon imigran masyarakat akhirat. Dengan berjamaah dan menegakan kalimah amar ma’ruf dan nahyi munkar, insya Allah dosa-dosa yang dilakukan bersama-sama akan bisa dihindarkan secara bersama-sama pula. Pada umumnya masjid hanya dijadikan tempat pengungsian setelah bencana datang. Akan tetapi hendaklah kita jadikan tempat menyelamatkan diri setiap hari dari azab Allah, baik didunia maupun diakhirat nanti. Bahkan bumi pun hakikatnya adalah masjid, tempat manusia bersujud dan berserah diri, hanya saja tidak untuk diinterpretasikan (ditafsirkan) dimana saja kita boleh menegakan shalat, ada tempat-tempat tertentu yang tidak dibenarkan dijadikan tempat shalat, misalkan makam. Semoga Allah menjadikan kita umat yang istiqomah dizaman yang serba mundur ini. Wallahu a’lam bishowab

No comments yet»

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: