Dua Manifestasi Cinta Kepada Allah

Oleh: Dede Komarudin Sholeh

Mendengar kata cinta, dibenak kita akan tergambar sebuah ketenangan, kedamaian, ketentraman, perkenalan, dan rasa simpati. Karena begitulah fungsi cinta, selalu menjadi inspirasi akan terjalinnya sebuah silaturahmi. Persaudaraan, persahabatan, dan pernikahan. Semua itu disadari atau tidak tak terlepas dari adanya rasa cinta. Lalu apakah cinta itu untuk manusia saja? Tentu saja tidak, karena ada yang lebih berhak untuk dicintai, Dialah Allah Yang Maha Sejati cinta-Nya. Sudahkah kita mencintai-Nya? Sejauhmana bukti kecintaan kita kepada-Nya? begitulah diantara pertanyaan yang harus kita jawab dengan penuh kejujuran. Sekelompok orang atau dua insan yang saling mencintai, mereka akan selalu saling menjadikan tempat peneduh, tempat mengadu, dan saling memberikan ketentraman. Misal seorang istri, dia akan menjadikan suaminya sebagai tempat berteduh baginya dan sebagai tempat untuk mengadukan segala kebutuhannya, karena suamilah yang mencari nafkah baginya. Begitupun suaminya, dia akan menjadikan istrinya sebagai tempat berteduh dan sebagai tempat untuk mengadukan segala permasalahannya karena stereotipnya yang lemah lembut, seorang istri akan mampu mengajarkan untuk bersikap tenang dalam menghadapi masalah. Hal ini bisa terjadi karena adanya rasa cinta. Lalu ketika kita menyatakan cinta kepada Allah Swt, sudahkah kita jadikan Dia sebagai tempat berteduh dan mengadu dengan sesungguhnya?. Ini adalah tuntutan bagi kita apabila kita benar-benar cinta kepada Allah. Karena Dia lebih layak untuk dijadikan penaung dalam menjalani kehidupan, dan dia Maha Kaya sehingga Dia lebih mampu menutupi kebutuhan kita. Dalam hal ini kita bisa merealisasikannya dengan cara selalu berdoa kepada-Nya. Bahkan wajib hukumnya.

Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina”. (Al-Mu’min:60) Terkadang kita lebih menyimpan harapan yang besar terhadap manusia, ini sebenarnya salah, karena sampai kapanpun manusia itu terbatas, tidak akan mampu untuk menutupi segala kebutuhan kita. Sedangkan Allah dengan kekayaan-Nya, Dia bisa memberikan apa saja yang kita minta selama Dia mengehendaki, tanpa mengenal kata “stock rizki habis”. Hal ini sebagaimana dalam sabda Nabi Saw, يد الله ملأى لا يغيضها نفقة سحاء الليل والنهار . وقال أرأيتم ما أنفق منذ خلق السماوات والأرض فإنه لم يغض ما في يده “Kekayaan Allah akan selalu penuh, tidak akan berkurang karena dikeluarkan malam dan siang. Tidakkah kalian melihat Dia telah mengeluarkan (kekayaan-Nya) sejak diciptakan langit dan bumi, sungguh tidak berkurang sedikitpun apa yang ada ditangan-Nya” (HR, Bukhary- Kitabut Tauhid, باب قول الله تعالى لما خلقت بيدي} Subhanallah, jarang sekali kita mentafakuri kekayaan Allah Swt sebagaimana dalam sabda Rasul diatas. Dia Maha Kaya dan Dia-pun Maha Pemurah, apabila kita meminta kepada manusia, manusia akan marah apabila dipinta, sedangkan Allah Swt Dia akan marah apabila kita tidak meminta kepada-Nya, Rasulullah Saw bersabda. من لا يدعو الله يغضب عليه “Barangsiapa yang tidak berdoa (meminta) kepada Allah, maka Dia akan marah kepadanya” (HR. Hakim, Al-Mustadrak كتاب الدعاء و التكبير و التهليل و التسبيح و الذكر) Inilah salah satu cara untuk membuktikan kecintaan kita kepada Allah Swt, kita jadikan Dia sebagai tempat berteduh dan meminta segala kebutuhan kita, juga untuk memohon untuk senantiasa dijauhkan dari kemadlaratan dan didekatkan dengan segala kemanfaatan. Apabila kita meminta kepada manusia, dalam bahasa sunda “mun teu dibere teh heunteu we” namun apabila kita meminta dan memohon kepada Allah, maka Salah satu dari tiga hal: Adakalanya akan segera dikabulkan permohonannya, atau disimpan untuk diakhirat nanti, atau dihindarkan dari kejelekan (HR. Hakim) dan dalam riwayat Malik “atau diampuni dosa”. Allah tidak akan menyia-nyiakan hamba yang meminta kepada-Nya, selama dia yakin akan dikabulkan, berendah diri dalam meminta, tidak tergesah-gesah, jauh dari makanan yang haram, tidak mengandung dosa dan memutuskan silaturahmi, melaksanakan perintah-Nya Dan selalu disertai dengan mendekatkan diri kepada-Nya, jika kita mendekat Allah akan membalas mendekati kita, kita mendekatinya satu jengkal Dia akan membalas satu hasta, kita dekati satu hasta Dia akan balas dekati kita satu depa, kita berjalan dalam mendekatinya Dia akan balas dengan berlari (Lihat: Kitab Shohih. Muslim) dalam keadaan seperti itu maka kita akan lebih mudah dalam mengajukan permohonan kepada-Nya. Selain menjadikan tempat berteduh dan mengadu, apabila seorang istri ditinggalkan merantau untuk mencari nafkah oleh suaminya, maka si istri akan selalu ingat kepada suaminya, begitupun si suami dia akan ingat kepada istrinya, dengan kata lain saling merindukan. Inipun terjadi karena adanya rasa cinta. Lalu sudahkah kita senantiasa ingat (dzikir) kepada Allah apabila kita benar mencintai-Nya? Allah Swt berfirman: Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu,, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku. (Al-Baqoroh:152) Mengingat Allah berarti kita berdzikir kepada-Nya, dimanapun kita berada seharusnya kita selalu mengingat-Nya, dalam senang maupun sedih. Bahkan Allah menjanjikan ketentraman apabila kita senantiasa ingat kepada-Nya dengan cara membaca kalam-Nya, ya’ni Al-Qur’an, Allah Swt berfirman:  (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, Hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram. (Ar-rad:28) Maksudnya orang-orang yang beriman kepada Nabi Muhamad dan Alqur’an hatinya menjadi tentram, merasa ridla, dan tenang dengan membaca ayat-ayat Al-Qur’an (Lihat: Tanwiyrul miqbas, tafsir Qs. Ar-rad: 28). Membaca Al-Qur’an termasuk kedalam dzikir. Dzikir bisa juga dilakukan dengan banyak memuji kepada-Nya, dengan segera mengingat-Nya apabila hendak melakukan kemaksiatan, dsb. Dengan berdzikir hati akan menjadi damai, merasa ridla terhadap kenyataan apapun, dan dzikir bisa mengantarkan kepada sifat muraqabah, yang selanjutnya menjadikan kita sebagai orang yang ihsan. Mengenai arti ihsan itu sendiri berikut kutipan percakapan antara Nabi Muhamad dengan Malaikat Jibril. قال ما الإحسان ؟ قال أن تعبد الله كأنك تراه فإن لم تكن تراه فإنه يراك “Jibril bertanya, apa ihsan itu?, Rasul menjawab, engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, jika engkau tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu” (HR.Bukhary, Kitabul Iyman باب سؤال جبريل النبي صلى الله عليه وسلم عن الإيمان والإسلام والإحسان وعلم الساعة ). Ihsan disini adalah ihsan dalam ibadah, dan bentuknya adalah ikhlas, khusyu, dan berkonsentrasi dalam melaksanakannya (Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqolani dalam redaksi Terjemah Fathul Baari halaman: 218, Pustaka Azzam). Akan tetapi mengingat bahwa dalam menjalani kehidupan segalanya harus dijadikan ibadah, maka arti ibadah itu luas, sehingga bersifat ihsan tidak harus selalu dalam keadaan shalat saja (ibadah fardu), dalam hal apapun kita harus bersifat ihsan, karena bagi kita bernafas-pun itu ibadah selama digunakan dalam mencari ridho-Nya, begitu juga dengan mencari nafkah dan yang lainnya, apabila kita ihsan dalam berdagang maka insya Allah kita terhindar dari perilaku curang. Maka bisa diartikan ihsan itu merasa diawasi oleh Allah. Mengenai kata “melihat Allah” selama kita didunia mungkin itu mustahil, tapi ada cara lain untuk melihatnya, cukup dengan mentafakuiri ayat-ayat Allah yang ada dibumi dan dilangit, maka akan terlihat kekuasan-Nya, setiap ada kekuasaan berarti disitu ada yang berkuasa. Mustahil bumi, manusia, dan mahluk lainnya ada karena kebetulan, karena hukum kebetulan hanya terjadi satu kali. Lihat saja sudah bermiliyaran manusia sejak diciptakan bumi, semuanya sama tercipta dari tanah, nutfah, alaqah, dan mudgah. Bagaimana dengan Nabi Adam dan Siti Hawa yang diciptakan tanpa ibu dan ayah? juga Nabi Isa yang diciptakan tanpa ayah? sedangkan berawal dari nutfah seorang ayah yang bertemu dengan nutfah seorang ibu, yang kemudian menjadi alaqah, lalu menjadi mudgah lah manusia terbentuk. Nah justru disitulah ke-MahaKuasaan Allah semakin nampak, Dia bisa saja menciptakan sesuatu sekehendak-Nya. Begitulah diantara banyak cara untuk kita membuktikan kecintaan kita kepada Allah Swt. Kita jadikan Dia sebagai tempat bersandar dan mengajukan segala permohonan kita, dan kita selalu mengingatnya dimanapun kita berada. Berawal dari iman yang kita tanam, kita sirami dengan melebihi cinta kita kepada-Nya daripada kepada keduniaan, maka kelak diakhrat buah dari keimanan akan terasa manisnya. Sebagaimana seorang yang berpenyakit, pada dasarnya dia malas untuk minum obat, akan tetapi dengan adanya cinta pada kesehatan, maka dia yakin bahwa meminum obat bisa bermanfaat bagi kesehatannya. Begitupun kita, yang pada dasarnya nafsu kita malas untuk beribadah, dengan adanya cinta kepada Allah, maka akan kita yakini bahwa menjauhi larangan dan melaksanakan perintah-Nya akan memberikan manfaat bagi kehidupan kita didunia dan diakhirat. Wallhu ‘alam bhisowwab

No comments yet»

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: