UJIAN ITU AKAN SELALU ADA

Oleh: Dede Komarudin Sholeh

Setiap detik yang kita lalui, itu adalah masa lalu. Betapa indahnya jika kita menggoreskan sejarah yang manis dalam detik-detik itu. Sehingga detik-detik itu menjadi teladan bagi detik-detik selanjutnya. Karena kebaikanlah yang telah kita perbuat. Tak ada dosa yang disengaja, tak ada iman dalam kepuraaan, dan tak ada amal yang sia-sia. Namun pada kenyataannya, kita hanya bisa menjadi sejarawan yang mempelajari kisah-kisah teladan orang-orang terdahulu, tanpa menjadi pemeran.

Pada hari ini kita tak pernah tahu apa yang akan kita lalui esok hari, begitupun hari kemarin. Kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi pada hari ini. Akan tetapi, kita harus selalu tahu bahwa Allah Swt. selalu mengawasi setiap langkah-langkah kita disetiap waktu yang kita jalani. Dia tak pernah tertidur sekejappun, Dia tak pernah malas untuk senantiasa menjadi pengawas, dan Dia tak pernah lalai menjadi sutradara yang menilai aksi-aksi kita. Kita tak akan pernah bisa menghindar dari sorotan kamera kekuasaan-Nya, dan kita tak akan bisa untuk mengundurkan diri sebagai pemeran skenario-skenario-Nya. Kita terikat dengan-Nya selama-lama-Nya, karna Dia-lah yang menciptakan kita, Dia-lah yang menguasai kita, dan Dia-lah yang mengatur segala kebutuhan kita.

Sebagai makhluk yang telah mengakui keberadaan dan mengimani ke-Tuhanan-Nya, maka hendaklah kita senantiasa bersiap siaga dengan ilmu dan amal yang mendekatkan antara kita dengan-Nya. Karena, kata iman yang tertulis dalam hati kita, bukanlah akhir segalanya. Keimanan kita akan senantiasa diuji oleh-Nya, Dia akan senantiasa menurunkan ujian dalam rupa kenikmatan dan kesedihan. Ketika nikmat yang kita rasakan, disitu terdapat untaian soal ujian bagi kita. Bersyukurkah, atau bahkan kufur akan nikmat dari-Nya. Pada kenyataannya, mengapa tak pernah tersirat satu senyuman saja yang dihiasi kata pujian untuk-Nya ketika kebahagiaan menghiasi detik-detik kita. Ketika kepedihan menutupi senyuman kita, disitupun ada soal ujian yang harus kita jawab dengan arif dan bijaksana. Bisakah kita untuk bersabar dalam menghadapinya, atau bahkan kelemahan iman yang kita tunjukan.

Selama ini kita selalu berebut untuk menggapai satu rahmat yang Dia turunkan didunia ini, namun tak pernah terlintas dalam benak kita, bagaimana agar kita bisa menggapai sembilan puluh sembilan rahmat-Nya di akhirat kelak. Beribu-ribu nikmat yang telah kita rasakan, seolah begitu mudah hilang hanya dengan satu kesedihan saja. Seolah-olah kita tak pernah merasakan nikmat-nikmat itu. Maka hendaklah kita senantiasa mengingat-Nya. Dengan mengingat-Nya, betapa kecil dunia ini dengan berbagai permasalahannya, karna hanya Dia-lah yang Maha Besar. Dengan mengingat-Nya, betapa kecil masalah yang kita hadapi di bandingkan nikmat-nikmat yang Dia berikan. Dan dengan mengingat-Nya hidup ini akan terasa tentram.

 Untuk menggapai suatu kebahagiaan didunia, mengapa selalu ada yang terluka. Ketika kita tersenyum, diluar sana selalu ada yang menangis, ketika mata kita menatap kebahagiaan yang kita gapai, disebrang sana selalu ada mata yang berkaca seri kecewa. Inilah soal ujian lain yang harus kita jawab. Tak ada jawaban yang paling tepat selain karena semua itu adalah kehendak Allah Yang Maha Kuasa. Namun kita sebagai hamba yang diberi hati dan akal oleh-Nya, maka hendaklah kita merasa bahwa mereka adalah saudara kita, mereka adalah cermin kita, dan mereka menunggu kita untuk berbagi.

Namun pada kenyataannya, kita telah kehilangan cermin persaudaraan antara kita dengan mereka saudara seiman kita yang dilanda cobaan. Kita tak pernah merasa bahwa mereka adalah kita, dan kita adalah mereka. Sehingga kita tak pernah bisa ikut merasakan kepedihan yang mereka derita. Sehingga kita tak pernah bisa menatap mereka yang ada dibawah kita. Malah kita selalu melihat kepada mereka yang ada di atas kita, yang akhirnya menjadikan kita hamba-hamba yang kufur akan nikmat-Nya tatkala melihat mereka lebih bahagia dari kita. Namun ketika kita menatap mereka yang ada dibawah kita, kita hanya bisa menjadi hamba-hamba yang merasa bangga. Rasulullah tidak pernah mengajarkan demikian, beliau dengan kerasulannya mengajarkan kita untuk selalu menatap kebawah agar kita bersyukur, bukan menjadi hamba yang takabur.

Semoga kita selalu ingat bahwa ujian itu akan selalu ada, maka persiapkanlah diri kita untuk menjawab soal-soal ujian itu, agar kita bisa menjawab dengan jawaban-jawaban yang diridhoi oleh Allah Sang Maha Penguji. Ketika langit mendung, burung-burung menangis karna tak bisa mengepakan sayapnya. Tanpa ia sangka ternyata dengan hujan itu Allah bermaksud hendak memberinya pelangi. Artinya, dengan berbagai ujian yang diberikan oleh Allah Swt terhadap kita, semua itu tiada lain untuk kebahagiaan kita didunia dan diakhirat. Penutup, Imam Ar-Raghib Al-Asfahani didalam Kitab Mu’jamnya menjelaskan asal arti daripada fitnah (ujian), yakni mutiara yang dimasukan kedalam api, agar hilang kotorannya. Maka bisa kita fahami, dengan berbagai fitnah (ujian) yang Allah berikan kepada kita, semua itu sebagai sarana untuk kita membersihkan diri. Agar kita menjadi yang terindah diakhirat kelak, seumpama indahnya mutiara. Wallahu a’lam bishowab.

No comments yet»

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: