TAFSIR IBNU KATSIR

Dede Komarudin Soleh
A. Biografi Penyusun
Nama lengkapnya adalah Ismail bin Amr al-Qurasyi bin Kasir al-Basri ad-Dimasyqi . Beliau dilahirkan di Bushra tahun 700 H . Keluasaan ilmunya di bidang hadis, fiqih, sejarah, dan tafsir telah menempatkan dirinya sebagai ulama yang diperhitungkan dalam kancah keilmuan Islam. Ibnu Kasir kecil memulai belajar agama didampingi oleh kakaknya bernama Abdul Wahab – diusianya yang ke 3 tahun beliau telah ditinggalkan wafat oleh ayahnya yang juga seorang ulama. Diusianya yang ke 11 tahun beliau telah rampung menghafal al-Qur’an. Pada tahun 707 H, beliau pindah ke Damaskus dan berguru kepada ulama-ulama besar setempat, seperti Syekh Burhanuddin Ibrahim Abdurrahman al-Fazzari (w.729) dan Syekh Kamaluddin bin Qodi Syuhbah. Selanjutnya beliau berguru kepada Isa bin Muth’im, Syekh Ahmad bin Abi Thalib al-Muammari (w. 730), Ibn Asakir (w. 723), Ibn Syayrazi, Syekh Syamsuddin al-Dzahabi (w. 748), Syekh Abu Musa al-Qurafi, Abu al-Fatah al-Dabusi, Syekh Ishaq bin al-Amadi (w. 725), Syekh Muhamad bin Zurad. Dalam bidang hadis beliau belajar kepada para ulama Hijaz, selain itu beliau pun menimba ilmu kepada seorang pakar hadis asal Suriah yang kemudian menjadi mertuanya, yakni Syekh Jamaluddin al-Mazzi . Dan masih banyak lagi ulama yang beliau timba ilmunya. Diantara sekian ulama yang mana beliau berguru pada mereka, Ibnu Taimiyyah lah ulama yang paling berpengaruh terhadap Ibnu Katsir. Manna al-Qattan menuturkan: اخذ عن ابن تيميه, واتبعه في كثير من ارائه (Ia belajar kepada Ibnu Taimiyah, dan mengikuti banyak pendapatnya). Sehingga tidak mengherankan jika dalam berfatwa, dalam cara berfikir, dan dalam metode karya-karyanya cenderung seperti Ibnu Taimiyah. Meskipun ada beberapa fatwa beliau yang berbeda dengan Ibnu Taimiyah. Pada tahun 774 H, akhirnya ulama besar ini di panggil oleh Yang Kuasa dalam usia 74 tahun di Damaskus.
A. Metode dan Corak Tafsir Ibnu Katsir
Al-Farmawi membagi metode tafsir yang digunakan oleh para mufasir kepada empat klasifikasi, yakni tahlili, ijmali, muqaran, dan mawdu’i. Adapun pengertiannya, secara garis besar, pertama, metode tahlili ialah menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an dengan memaparkan segala aspek yang terkandung didalamnya. Kedua, metode ijmali, ialah suatu metode penafsiran al-Qur’an dengan cara menafsirkan ayat-ayat secara garis besarnya saja, atau secara global. Ketiga, metode muqaran, ialah suatu metode dengan melakukan upaya komparasi, antara ayat dengan ayat yang nampak ada kemiripan redaksi, antara ayat dengan hadis yang mana antara keduanya seakan ada kontradiksi, dan membandingkan pendapat para ulama dalam menafsirkan suatu ayat. Keempat, metode mawdu’i, yaitu penafsiran al-Qur’an secara tematis, dengan cara mengumpulkan ayat-ayat dibawah topik tertentu.
Jika melihat uraian metode-metode diatas, dari segi metode, Imam Ibnu Kasir menyusun kitab tafsirnya –Tafsir al-Qur’an al-Azhim —dengan menempuh metode tahlili. Hal ini dapat dilihat dari kecenderungan penafsiran ayat dengan cara analitis atau menafsirkan ayat-ayat di dalam al-Qur’an dengan mengemukakan segala aspek yang terkandung di dalam ayat-ayat yang di tafsirkannya. Adapun dari segi corak, tafsir Ibnu Kasir tergolong kepada tafsir yang bercorak bil ma’sur, karena dalam upaya menafsirkan suatu ayat beliau sangat dominan dalam menafsirkannya menggunakan riwayat, pendapat sahabat, serta tabi’in, meskipun sebagian kecilnya beliau menggunakan ro’yu. Secara umum, langkah-langkah penafsirannya dapat dibagi sebagai berikut:
a. Menafsirkan ayat dengan ayat, yaitu beliau menjelaskan maksud suatu ayat dengan ayat yang lain. Sebagai contoh, ketika menjelaskan al-Qur’an surat al-Baqarah ayat 104, beliau menjelaskan ayat tersebut dengan al-Qur’an surat an-Nisa ayat 46. Di dalam al-Qur’an surat al-Baqarah ayat 104 Allah Swt. berfirman:

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu katakan (kepada Muhammad): “Raa’ina”, tetapi Katakanlah: “Unzhurna”, dan “dengarlah”. dan bagi orang-orang yang kafir siksaan yang pedih
Dalam menafsirkan ayat ini, Imam Ibnu Kasir menjelaskan bahwa Allah Swt. melarang hamba-Nya menyerupai orang-orang kafir, baik dengan perbuatan maupun perkataan. Dalam penjelasan ini beliau mencantumkan sebuah ayat di dalam al-Qur’an surat an-Nisa ayat 46, yang isinya:

Yaitu orang-orang Yahudi, mereka mengubah perkataan dari tempat-tempatnya, mereka berkata : “Kami mendengar”, tetapi kami tidak mau menurutinyadan (mereka mengatakan pula) : “Dengarlah” sedang kamu Sebenarnya tidak mendengar apa-apa dan (mereka mengatakan) : “Raa’ina”, dengan memutar-mutar lidahnya dan mencela agama. sekiranya mereka mengatakan : “Kami mendengar dan menurut, dan dengarlah, dan perhatikanlah kami”, tentulah itu lebih baik bagi mereka dan lebih tepat, akan tetapi Allah mengutuk mereka, Karena kekafiran mereka. mereka tidak beriman kecuali iman yang sangat tipis.
Maka dapat difahami mengapa Allah Swt. melarang para sahabat agar tidak berkata “راعنا”.
b. Menafsirkan ayat dengan riwayat atau hadis, yaitu ketika beliau tidak menemukan ayat yang mempunyai keterkaitan dengan ayat yang sedang di tafsirkan, maka beliau mencari riwayat yang menjelaskan ayat tersebut. Akan tetapi, sekalipun beliau menemukan ayat lain yang berhubungan dengan ayat yang sedang beliau tafsirkan, beliau tetap mencantumkan hadis atau riwayat. Namun hanya berfungsi untuk melengkapi penjelasan. Sebagai contoh:
- Ayat dengan riwayat

Katakanlah kepada orang-orang Badwi yang tertinggal: “Kamu akan diajak untuk (memerangi) kaum yang mempunyai kekuatan yang besar, kamu akan memerangi mereka atau mereka menyerah (masuk Islam). Maka jika kamu patuhi (ajakan itu) niscaya Allah akan memberikan kepadamu pahala yang baik dan jika kamu berpaling sebagaimana kamu Telah berpaling sebelumnya, niscaya dia akan mengazab kamu dengan azab yang pedih” .

Dalam menjelaskan ayat ini, Imam Ibnu Kasir mencantumkan sebuah riwayat/ hadis yang bersumber dari Abu Hurairoh. Yang mana riwayat itu disandarkan kepada Nabi Muhammad Saw. Nabi Saw. bersabda:
لا تقوم السّاعة حتىّ تقاتلوا صغار الأعين ذلف الأنوف كأنّ وجوههم المجانّ المطرقة
“Tidak akan datang hari Kiamat sehingga kalian memerangi suatu kaum yang bermata sipit, berhidung pesek, seolah-olah wajah mereka seperti perisai”

- Ayat dengan ayat dan dilengkapi oleh riwayat

Telah dekat datangnya saat itu dan Telah terbelah bulan

Ayat ini ditafsirkan oleh Imam Ibnu Kasir dengan cara mengkorelasikannya dengan al-Qur’an surat an-Nahl ayat 1, yang berbunyi “ أتى أمر الله فلا تستعجلوه “ (Telah pasti datangnya ketetapan Allah, maka janganlah kamu meminta agar di segerakan) dan al-Qur’an surat al-Anbiya ayat 1, yang mana Allah Swt. berfirman:
“اقترب للنّاس حسا بهم وهم في غفلة معرضون ” (Telah dekat kepada manusia hari menghisab segala amal mereka, sedang mereka dalam kelalaian lagi berpaling). Kemudian penafsiran ini dilengkapi dengan sabda Nabi Muhammad Saw yang bersumber dari Ibnu Umar. Nabi Saw. bersabda:
ما أعماركم في أعمار من مضى الاّ كما بقي من النّهار فيما مضى
“Umur kalian dibandingkan dengan umur orang-orang terdahulu seperti yang tersisa dari siang yang telah berlalu ini”

c. Menafsirkan ayat dengan perkataan sahabat, yakni dalam menafsirkan suatu ayat terkadang Imam Ibnu Kasir menukil perkataan sahabat yang berkenaan dengan ayat tersebut. Diantara sahabat yang beliau nukil perkataannya adalah Ibnu Abbas. Salah satu contoh ayat yang beliau tafsirkan dengan menukil perkataan Ibnu Abbas adalah firman Allah Swt. didalam al-Qur’an surat al-Mu’min ayat 19. Allah Swt. berfirman:

Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati.
Dalam penafsiran ayat ini, Imam Ibnu Kasir menukil perkataan Ibnu Abbas, sebagaimana dipaparkan oleh beliau didalam tafsirnya:

قا ل ابن عباس رضي الله عنهما في قوله تعالى (يعلم خا ئنة الأعين وما تخفى الصّدور) هو الرجل يدخل على اهل البيت بيتهم و فيهم المرأة الحسناء أو تمربه و بهم المرأة الحسناء فاذا غفلوا لحظ إليها فإذا فطنوا غض بصره عنها فإذا غفلوا لحظ فإذا فطنوا غض, وقد اطلع الله تعالى من قلبه أنه ود أن لو اطلع على فرجها. رواه ابن أبي حاتمز

Ibnu Abbas –semoga Allah meridoi keduanya—berkata tentang firman Allah ta’ala (Dia mengetahui mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati) yaitu seorang laki-laki yang masuk ke sebuah penghuni rumah yang didalamnya ada seorang wanita cantik, atau wanita cantik itu melewatinya. Apabila mereka lengah, laki-laki itu menoleh kepada wanita itu. Apabila mereka mengawasi, laki-laki itu menahan pandangannya terhadap wanita itu. Apabila mereka lengah, ia menoleh, apabila mereka mengawasi, ia menahan. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui hatinya yang berkeinginan, seandainya ia melihat auratnya. (Diriwayatkan oleh Abi Hatim)

d. Menafsirkan ayat dengan perkataan tabi’in. Dalam corak tafsir bi al-ma’sur penafsiran al-Qur’an dengan menukil perkataan tabi’in adalah cara yang paling akhir. Adapun contoh penafsiran Ibnu Kasir dengan langkah ini misalkan firman Allah Swt. : “فات صفّا والصا ” (Demi yang bershaff-shaff dengan sebenar-benarnya). Dalam menjelaskan ayat ini Imam Ibnu Kasir menukil beberapa keterangan tabi’in, seperti Qatadah. Qatadah berkata: “ الملائكة صفوف في السماء “ (Para Malaikat bershaff-shaff di langit).
e. Menafsirkan ayat dengan ro’yu. Sebenarnya ini adalah cara yang tidak disenangi oleh Ibnu Kasir, namun beliau membolehkannya asal memenuhi syarat-syarat tertentu.

No comments yet»

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: