Sejarah Perkembangan Tafsir

PENDAHULUAN
Sejarah penafsiran al-Qur’an telah melewati berbagai fase yang panjang, rumit dan kompleks. Awalnya, penafsiran merupakan usaha menemukan maksud yang sesuai dengan teks, namun pada tahap selanjutnya proyeksi penafsiran terkontaminasi dengan usaha menundukkan al-Qur’an demi kepentingan kelompok keagamaan dan individu.
Jika diteliti, produk-produk penafsiran al-Qur’an dari generasi ke generasi memiliki corak dan karakteristik yang berbeda-beda. Hal ini disebabkan oleh banyak faktor, antara lain adalah adanya perbedaan situasi sosio-historis di mana seorang mufassir hidup. Bahkan situasi politik yang terjadi ketika mufassir melakukan kerja penafsiran juga sangat kental mewarnai produk-produk penafsirannya. Tidak berlebihan jika Micheil Fucoult pernah menyatakan suatu tesa bahwa perkembangan ilmu pengetahuan tidak bisa dipisahkan dari adanya relasi kekuasaan/politik.
Di samping cakupan makna yang dikandung oleh al-Qur’an memang sangat luas, perbedaan dan corak penafsiran itu juga disebabkan perbedaan keahlian yang dimiliki oleh masing-masing mufassir. Al-Qur’an itu memang merupakan kitab yang yahtamil wujuh al-ma’na (mengandung kemungkinan banyak penafsiran). Sehingga adanya pluralitas penafsiran al-Qur’an adalah sah-sah saja, sepanjang dapat dipertanggung-jawabkan secara moral dan ilmiah. Penafsiran itu dapat diibaratkan sebuah “organisme” yang selalu tumbuh dan berkembang. Ia akan selalu mengalami perubahan dan perkembangan seiring dan senafas dengan kemajuan tantangan yang dihadapi manusia.
Disinilah kelebihan Ignaz Goldziher, dengan kritis dan objektif menjelaskan berbagai upaya kelompok-kelompok keagamaan atau individu untuk menafsirkan al-Qur’an, sejak jaman klasik sampai jaman awal kedatangan dunia modern, serta membongkar motif-motif kepentingan yang tertuang dalam penafsiran mereka.
Dalam setiap sirkulasi sejarah Islam, pemikiran yang muncul senantiasa cenderung mencari justifikasi kebenaran bagi dirinya untuk menunjukkan kesesuaian pemikirannya dengan Islam dan dengan apa yang dibawa oleh Rasulallah. Sebab dengan begitu, maka pemikiran tersebut akan mendapat posisi yang kuat di hati para pengikutnya dalam sistem keberagamaan mereka.
Kecenderungan ini dan interaksinya dengan penafsiran secara otomatis merupakan wadah bagi tumbuhnya penulisan tafsir aliran yang kemudian pada episode selanjutnya menjadi persaingan dengan penafsiran yang panjang lebar, baik dalam uraian maupun cakupannya.
Munculnya Madzahib al-Tafsir, sesungguhnya merupakan sebuah keniscayaan sejarah, sebab setiap generasi selalu menjadikan al-Qur’an sebagai pedoman hidup, bahkan kadang-kadang sebagai legitimasi bagi tindakan dan kepentingannya.
Al-Qur’an sendiri memang sangat terbuka untuk ditafsirkan (multi interpretable), dan masing-masing mufassir ketika menafsirkan al-Qur’an biasanya juga dipengaruhi oleh kondisi sosio-kultural di mana ia tinggal, bahkan situasi politik yang melingkupinya juga sangat berpengaruh baginya. Di samping itu, ada kecenderungan dalam diri seorang mufassir untuk memahami al-Qur’an sesuai dengan disiplin ilmu yang ia tekuni, sehingga meskipun objek kajiannya tunggal, yaitu teks al-Qur’an, namun hasil penafsiran al-Qur’an tidaklah tunggal, melainkan plural. Oleh karenanya, munculnya Madzahib al-Tafsir tidak dapat dihindari dalam sejarah pemikiran umat Islam. Ia merupakan keniscayaan sejarah.

SEJARAH TAFSIR DAN MAZHAB
Perkembangan tafsir tidak lepas dari perkembangan ilmu fiqih, usul fiqih dan perkembangan mazhab. Di zaman Rasulullah saw., sumber hukum Islam hanya ada dua, yaitu Al-Qur’an dan sunnah. Apabila muncul suatu peristiwa yang membutuhkan keputusan hukum, keputusan dapat langsug diperoleh dari Rasulullah saw. sebagai pemegang otoritas sunnah. Dalam menetapkan hukum yang tidak ada ketentuannya dalam Al-Qur’an, Rasulullah saw. menetapkannya melalui ijtihad. Cara-cara Rasulullah saw. berijtihad inilah yang menjadi bibit munculnya ilmu usul fiqih. Para ulama usul fiqih berpendapat bahwa usul fiqih ada bersamaan dengan hadirnya fiqih, yaitu sejak zaman Rasulullah saw.
Pada era sahabat bibit tersebut semakin jelas, karena wahyu telah terhenti dan Rasulullah saw. telah wafat, sementara persoalan-persoalan yang dihadapi terus berkembang. Tokoh-tokoh mujtahid yang termasyhur di zaman sahabat di antaranya adalah Umar bin Khaththab, Ali bin Abi Thalib dan Abdullah bin Mas’ud. Persebaran sahabat ke berbagai daerah yang berbeda budaya dan kondisi geografisnya berpengaruh terhadap ijtihad dan penetapan hukum yang mereka lakukan. Konsekuensinya, dalam kasus yang sama, hukum di suatu daerah dapat berbeda dengan daerah lainnya. Perbedaan ini berawal dari perbedaan cara pandang dalam menetapkan hukum pada kasus tersebut.
Di antara penafsiran yang diriwayatkan oleh para sahabat ada yang bersumber dari Rasulullah saw. dan ada yang bersumber dari pendapat mereka sendiri. Namun demikian, dalam memahami Al-Qur’an mereka senantiasa berpegang pada penafsiran yang diberikan oleh Rasulullah yang diterima secara langsung ataupun tidak langsung, melalui asbab an-nuzul dan dengan penalaran serta ijtihad.
Di zaman tabi’in, terdapat sekelompok ulama yang menaruh perhatian khusus terhadap tafsir. Mereka meriwayatkan tafsir dari Rasulullah saw dan sahabat di samping dengan ijtihad mereka sendiri. Pada era ini permasalahan yang muncul semakin kompleks. Para tabi’in yang berada di daerah-daerah yang berbeda melakukan ijtihad dan menghasilkan keputusan yang terkadang juga berbeda. Di Madinah tampil Sa’id bin al-Musayyab sebagai mujtahid. Di Irak Alqamah bin Waqqas, al-Laits dan Ibrahim al-Nakha’i. di Bashrah muncul Hasan al-Bashry.
Gejolak politik dan perkembangan pemikiran keagamaan telah mendorong munculnya mazhab-mazhab yang mencakup berbagai aspek keagamaan. Di awal perkembangan Islam, gejolak politik dan konflik keagamaan melahirkan tiga kekuatan utama, yaitu kekuatan Alawiyyin (pendukung Ali) vis a vis kekuatan Umayyah (pendukung Mu’awiyah), dan kelompok Murji’ah yang mengisolasi diri dari konflik. Peristiwa tahkim dinilai sebagai titik tolak perpecahan kekuatan di belakang Ali, dan munculnya aliran Syi’ah dan Khawarij.
Kelanjutan konflik dan keberhasilan Muawiyah menjadi khalifah, suksesi kekhalifahan Bani Umayyah dan kesewenang-wenangan birokrasi pemerintahan khalifah dalam menjalankan roda pemerintahan telah mengantarkan umat Islam dan para pemikir, dengan paradigmanya, kepada perdebatan teologis yang pada gilirannya melahirkan mazhab-mazhab kalam. Perbedaan persepsi tentang orang yang melakukan dosa besar merupakan penyebab utama munculnya mazhab Mu’tazilah dan Asy’ariyyah.
Pada perkembangannya, perbedaan mendasar antara Mu’tazilah dan Asy’ariyyah terletak pada persoalan akal, apakah ia lebih dahulu daripada syari’at ataukah akal mengikuti ketetapan syari’at. Kalangan Asy’ariyyah berpendapat
Ignaz Goldziher membagi sejarah dan perkembangan tafsir menjadi tiga periode.
1. Tafsir pada masa perkembangan madzhab-madzhab yang terbatas pada tempat berpijak Tafsir bi al-Ma’tsur.
Pada masa awal Islam, para sahabat menafsirkan al-Qur’an dengan pemahaman mereka tentang bahasa Arab dan pengetahuan mereka tentang Azbabun Nuzul. Jika terjadi kemusykilan berkaitan dengan makna al-Qur’an, mereka merujuk langsung kepada nabi. Begitu pula para tabi’in, mereka belajar kepada para sahabat dan mengambil banyak tentang tafsir disamping pengetahuan mereka akan bahasa Arab, kemampuan mereka sangat baik dalam memahami bahasa Arab.
Pada mulanya tafsir diriwayatkan dari seorang kepada seorang lainnya. Para sahabat meriwayatkan tafsir dari nabi, kemudian para tabi’in meriwayatkan dari sahabat dan meriwayatkannya kepada generasi selanjutnya dan begitulah seterusnya.
Menurut Ignaz Goldziher, disyaratkannya bagan (sanad) Hadits merupakan poin yang cukup diperhitungkan dalam wilayah ilmu-ilmu keagamaan dan secara khusus untuk memberikan parameter dalam bidang tafsir. Tafsir bi al-Ma’tsur adalah tafsir yang dapat disaksikan keshahihannya, yakni tafsir yang didasarkan pada “ilmu” atau tafsir yang dapat ditetapkan bahwa nabi sendiri atau para sahabatnya bersentuhan langsung dalam wilayah pengajaran hal itu dan telah menjelaskannya dengan penjelasan makna al-Qur’an dan dalalahnya. Karena sudah sangat jelas, nabi sendiri sering ditanya tentang makna kosakata dan ayat al-Qur’an, lantas beliau menjelaskan itu semua. Demikianlah beliau tidak menafsirkan ayat-ayat tersebut dengan pendapatnya sendiri, tetapi beliau menerima tafsirnya dari malaikat Jibril yang mengajarkan kepada beliau dengan nama Allah (dengan riwayat dari Allah).
Disini Ignaz Goldziher secara eksplisit membatasi Tafsir bi al-Ma’tsur hanyalah tafsir pada masa nabi dan masa sahabat. Hal ini sepaham dengan apa yang disampaikan oleh al-Zarqani yang membatasi pada tafsir yang diberikan oleh ayat-ayat al-Qur’an, sunnah dan para sahabat. Namun sebagian ulama tidak sepakat dengan batasan tersebut. Para ulama ada yang memasukkan tafsir generasi Tabi’in dalam cakupan Tafsir bi al-Ma’tsur.
Pada fase ini yang paling mengemuka adalah mengenai perdebatan seputar tata cara bacaan al-Qur’an. Dimana banyaknya ragam bacaan al-Qur’an merupakan topik yang sangat panas pada saat itu. Pertarungan argumen tentang cara baca yang benar membentuk mazhab-mazhab yang saling klaim bahwa bacaan merekalah yang paling benar.
Munculnya perdebatan seputar bacaan al-Qur’an pada masa ini menurut Ignaz Goldziher tidak lain merupakan usaha untuk menjaga, melestarikan dan menegakkan kitab suci ini. Ragam bacaan mencerminkan usaha untuk menafsirkan firman Tuhan, karena pada tahap selanjutnya memiliki implikasi yang sangat jauh dalam memahami dan memaknai teks al-Qur’an.
2. Tafsir pada masa perkembangannya menuju madzhab-madzhab ahli ra’yi yang meliputi aliran akidah (teologis), aliran tasawuf, dan aliran politik keagamaan.
Pada fase ini orientasinya tidak lagi untuk menjaga keotentikan dan penafsiran yang sesuai dengan apa yang dicita-citakan al-Qur’an, tetapi lebih berorientasi pada bagaimana penafsiran al-Qur’an ini dapat melegitimasi kelompok-kelompok tertentu, seperti aliran akidah (teologis), aliran tasawuf, bahkan penafsiran al-Qur’an ini menjadi tunggangan aliran politik keagamaan tertentu.
Dalam pandangan Ignaz Goldziher pada generasi terdahulu telah terjadi perpecahan dalam tafsir al-Qur’an bi al-Ma’tsur. Perpecahan ini pada awalnya tidak dimaksudkan agar penafsiran mereka menyimpang dari karakter riwayat dan naql. Perpecahan ini pertama kali terjadi dari kaum rasionalis yaitu sekelompok orang pemeluk suatu mazhab keagamaan yang hendak menafikan segala bentuk konsepsi seorang muslim dalam keyakinannya tentang uluhiyah (ketuhanan), baik itu hakikatnya atau tatanan ketuhanan lainnya, dan semua hal yang menyingkirkan peran akal. Karena kalau tidak demikian, maka posisi ketuhanan akan turun drastis sampai pada wilayah material yang sangat tidak layak. Kelompok ini juga berusaha menghilangkan semua ikhtiar yang bertentangan dengan tuntutan hikmah dan keadilan. Tentu dapat ditebak bahwa kelompok ini adalah adalah kaum Mu’tazilah.
Tafsir bi Ra’yi adalah tafsir yang didalam menjelaskan maknanya atau maksudnya, mufassir hanya berpegang pada pemahamannya sendiri, pengambilan kesimpulan (istinbath) pun didasarkan pada logikanya semata. Kategori penafsiran seperti ini di dalam memahami al-Qur’an tidak sesuai dengan ruh syari’at yang didasarkan pada nash-nashnya. Rasio semata yang tidak disertai bukti-bukti akan berakibat pada penyimpangan terhadap Kitabullah.
Selain itu, pemahaman akan al-Qur’an terutama didekatkan pada pendekatan filologis-gramatikal. Pendekatan ayat per ayat atau kata per kata ini tentunya menghasilkan pemahaman yang parsial (sepotong) tentang pesan al-Qur’an. Bahkan, sering terjadi penafsiran semacam ini secara keterlaluan menanggalkan ayat dari konteks dan aspek kesejarahannya untuk membela sudut pandang tertentu. Dalam kasus-kasus tertentu seperti dalam pandangan akidah (teologis), filosofis dan sufistis, gagasan-gagasan asing sering dipaksakan ke dalam al-Qur’an tanpa memperhatikan konteks kesejarahan dan kesusastraan al-Qur’an.
3. Tafsir pada masa perkembangan kebudayaan/keilmuan Islam yang ditandai dengan timbulnya pemikiran baru dalam keislaman oleh Ahmad Khan, Jamalauddin al-Afghani, Muhammad Abduh, dan Muhammad Rasyid Ridha.
Menurut kacamata Ignaz Goldziher, permasalahan antara kebudayaan dan Islam merupakan permasalahan yang bertolak belakang, dan jawaban dari keduanya sudah diupayakan sejak lama oleh kebanyakan tradisi keilmuan yang beragam dalam dunia Islam, baik secara teoritis maupan ilmiah. Islam selama ini tidak dianggap sebagai ajaran yang mengabaikan tujuan dasar untuk kemajuan rasional dan kemajuan sosial, kecuali disebabkan karena adanya pengaruh keagamaan yang keliru dan bentuk-bentuk penafsiran yang salah dari para ulama mutakhir.
Penyelewengan ajaran Islam itulah yang selama ini menjadi penyebab utama adanya paradoks bagi makna dan hakikat Islam berupa tidak adanya mobilisasi Islam ke arah paradigma kebudayaan modern. Nilai-nilai etis secara final ditetapkan bagi segala urusan yang tidak memiliki relevansi kecuali hanya sebatas temporal-relatif; sementara kewajiban-kewajiban dicanangkan, dengan kebenaran syari’at (legitimasi agama) yang tidak bisa menerima perubahan dan pergantian. Inilah yang menyebabkan kejumudan kehidupan dalam Islam, dan kekhurafatan (mitos) menampakkan diri hadapan dunia nyata yang asing, yaitu bahwa klaim tentang kesempurnaan Islam barangkali menyerupai sebuah wilayah empat persegi (terbatas). Seandainya masalah-masalah yang memiliki nilai relatif-temporal di dalam Islam itu dipahami secara proporsional, artinya didasarkan pada nilai-nilai relatif-temporalnya – begitu juga segala sesuatu itu tidak harus selalu dikembalikan kepada akidah dan moralitas, tetapi kepada prinsip-prinsip dasar sosial, ekonomi dan konstitusional, sebagaimana ia dikembalikan kepada pengetahuan ilimiah – tentu umat Islam tidak akan menjadi batu sandungan bagi sistem sosial yang selalu menuntut adanya dinamisasi dan kesinambungan zaman yang selalu berubah, bukan sekedar menawarkan produk-produk pemikiran belaka.
Secara spesifik, menurut Ignaz Goldziher, Islam tidak bertolak belakang dengan kemajuan ilmu, karena jika bertolak belakang maka berarti Islam itu bertentangan dengan semangat pembawanya. Padahal Muhammad adalah nabi yang sangat menghargai pentingnya pola pemikiran dengan akal, sebagai karya manusia yang paling tinggi dan mulia.
-Pandangan Para Ulama
Para ulama berbeda-beda dalam memetakan mazhab tafsir. Ada yang membagi perkembangan tafsir menjadi empat periode, yaitu pertama, periode Rasulullah SAW.; kedua, periode mutaqaddimin; ketiga, periode mutaakhirin; dan keempat, periode modern (al-‘Asri).
Ada juga yang membagi berdasarkan periodesasinya atau kronologis waktunya, sehingga menjadi mazhab tafsir periode klasik, pertengahan, modern atau kontemporer. Ada pula yang berdasarkan kecenderungannya, sehingga muncul mazhab teologi mufassiranya, sehingga muncul istilah tafsir Sunni, Mu’tazili, Syi’i, dan lain sebagainya. Ada pula yang melihat dari sisi perspektif atau pendekatan yang dipakainya, sehingga muncul istilah tafsir sufi, falsafi, fiqhi, ‘ilmi, adabi ijtimai’ dan lain sebagainya. Bahkan ada pula yang melihat dari perkembangan pemikiran manusia, sehingga mazhab tafsir itu dapat dipetakan menjadi mazhab tafsir yang periode mitologis, ideologis, dan ilmiah.
M. Quraish Shihab menjelaskan bahwa pemahaman terhadap ayat-ayat al-Qur’an melalui penafsiran-penafsirannya mempunyai peranan yang sangat besar bagi maju mundurnya umat. Sekaligus penafsiran-penafsiran tersebut dapat mencerminkan perkembangan serta corak pemikiran mereka.
KESIMPULAN
Dalam disiplin keilmuan apapun, mulai dari ilmu Tafsir, Tasawuf, Filsafat, dan ilmu-ilmu umum lainnya, selalu ada yang namanya mazhab atau aliran. Munculnya Madzahib al-Tafsir atau aliran-aliran dalam penafsiran al-Qur’an sesunguhnya merupakan salah satu bentuk pluralitas dalam memahami al-Qur’an yang disebabkan oleh adanya dialektika antara teks yang terbatas dan konteks yang tak terbatas.
Mengkaji Madzahib al-Tafsir secara baik akan menjadikan kita lebih dewasa dalam menyikapi perbedaan-perbedaan penafsiran yang ada, sehingga kita tidak perlu menganggap final suatu penafsiran, apalagi memutlakkan kebenaran dari hasil penafsiran seseorang, sebab yang mutlak dan absolut sesungguhnya hanya Allah. Apapun hasil penafsiran adalah relatif kebenarannya.
Ignaz Goldziher membagi fase sejarah dan perkembangan tafsir menjadi tiga periode. Dimana tiga fase ini merupakan kesimpulan dari karyanya yang berjudul Mazhab Tafsir yang diterjemahkan dari bukunya yang berbahasa Arab Madzahib al-Tafsir al-Islami, yaitu: Periode pertama, Tafsir pada masa perkembangan madzhab-madzhab yang terbatas pada tempat berpijak Tafsir bi al-Ma’tsur. Periode kedua, Tafsir pada masa perkembangannya menuju madzhab-madzhab ahli ra’yi yang meliputi aliran akidah (teologis), aliran tasawuf, dan aliran politik keagamaan. Dan periode ketiga, Tafsir pada masa perkembangan kebudayaan/keilmuan Islam yang ditandai dengan timbulnya pemikiran baru dalam keislaman oleh Ahmad Khan, Jamalauddin al-Afghani, Muhammad Abduh, dan Muhammad Rasyid Ridha.
Pada periode ini juga munculnya karya-karya tafsir di Nusantara tidak lepas dari unsur-unsur kepentingan yang mewarnai sedikit banyaknya tafsir yang ditafsirkan. Islah Gusmian membagi penafsiran dlihat dari unsure kepentingan menjadi kepada 4 tema; a). Tafsir di tengah rezim islam klasik, b). Tafsir di tengah kampanye kesetaraan gender, c). Tafsir di tengah rezim orde baru dan d). Tafsir di tengah keragaman agama.
Dibaeah akan dipaparkan sedikit tentang pengaruh kepentingan-kepentingan tersebut dalam khazanah tafsir di Indonesia;
a. Tafsir ditengah rezim teologi islam klasik
Pertentangan yang terjadi dikalangan umat islam pada generasi pasca Nabi Muhammad saw., telah melahirkan banyak aliran dalam tubuh unat islam. Al-Syahratsani, dalam al-milal wa nuhal, dengan telah cukup baik merekam sejarah perpecahan sekaligus pertentangan itu .
Hingga saat ini, tema-tema teologis masih saja menjadi bahan diskusi sebagian intelektual muslim. Dua corak teologi islam; Jabariyah dan Qodariiyah adalah salah satu diskursus dalam teologi islam klasik yang menyeruak dalam pemikiran umat islam Indonesia. Bahkan, faham Jabriyah—diduga karena pengaruh paham teori kasb Al-‘Asy’ari—sering dituduh sebagai faham domonan disebagian umat islam Indonesia, meskipun tuduhan ini sepenuhnya benar.
Lepas dari fenimena itu, klaim-klaim teologis yang berkembang pada era islam klasik memang menarik dibicarakan. Ada tiga karya tafsir yang secara khusus menelisik tema dalam teologi islam klasik islam itu, yaitu; menyelami kebebasan manusia, konsep perbuatan manusia menurut Al-quran dan konsep kufr dalam Al-Quran.
b. Di tengah kampanye kesetaraan gender
Pada masa ini telah muncul pengaruh yang mendorong lahirnya tafsir dengan tema-tema yang actual seputar kesetaraan gender. Diantara yang dapat terekam dalam Islah Gusmian yaitu; a). Perempuan : dicipta dari jenis Adam atau dari tulang rusukny?, b). Gerak perempuan, dari ruang domestic hingga ruang public, c). Prempuan : dari objek yang diwariskan hingga kewarisan berkesetaraan, dan d). Poligami : melindungi perempuan atau melampiaskan libido laki-laki?

c. Tafsir di tengah rezim orde baru

1. Yang mengkritik dan melawan
Ada dua karya tafsir yang nyata memberikan kritik dan perlawanan kepada sikap rezim orde baru;
Pertama, Memasuki Makna Cinta. Mulanya adalah skripsi yang di tulis oleh Abdurrasyid Ridha ketika ia menjadi mahasiswa IAIN Yogyakarta. Topic utama yang dianalisis adalah konsep cinta dalam Al-Quran dengan memanfaatkan metode Hasan Hanafi. Cinta dalam Al-Quran, menurutnya mengandung sifat-sifat etis ideal yang mupakan pengejawantahan dari sifat-sifat Tuhan. Mencintai berarti menginternalisasikan sifat-sifat Tuhan dalam diri, lalu mewujudkannya dalam berinteraksi, baik terhadap diri sendiri, orang lain maupun realitas di sekelilinngnya. Untuk menegakan sifat-sifat tersebut, tidak bisa hanya dengan sifat pasif, tetapi dengan tindakan kongkrit.
Dari episteme demikian itu, Abdurrasid lalu mengarahkan gerak tafsirnya dalam konteks suatu rezim yang menindas—meskipun dia tidak secara eksplisit menunjukan rezim orde baru sebagai rezim penindas pada saat ia menulis karya tafsirnya itu. Bagi dai, cinta bisa dijadikan sebagai suatu elan vital bagi timbulnya gerakan dan perunahan dalam realitas social.
Arah gerakan kaarya tafsirnya ini tak lain sebagai salah satu bentuk perlawanan terhadap rezim orde baru yang otoriter dibawah kendali Soeharto saat itu—meskupun Abdurasyid melakukanya dengan sembunyi. Tapi, dari narasi yang ditulis diatas jelas ada kosa kata yang akrab dalam wacana politik yang ada pada saat itu. Misalnya “kekuasaan yang korup dan tiranik”, “status quo yang penuh dengan ketidak adilan” dan seterusnya, yang semua itu jelas bicara realitas politik yang terjadi pada saat itu. Ketidakfulgarannya dalam mengidentifikasi kekuasaan yang korup itu, karena suasana politik pada saat itu tidak ramah tergadap kritik.
Kedua, Dalam Cahaya Al-Quran. Dari segi tema dan bahasa yang digunakan, karya tafsir ini lebih lugas dan tegas dalam melakukan kritik. Hal ini terjadi, karena sejak semula penulisnya, Syu’baj, merancang tafsirnya ini dengan pendekatan kontekstual, dimana realitas dan ruang sejarah tempat dia ada, menjadi salah satu medan gerak tafsir.
Model gaya bahasa dan istilah yang lugas yang dipakai syu’bah di atas jelas mencerminkan semangat perlawanan terhadap suatu rezim yang diklaimnya zalim. Kata-kata “kegemaran berkomplot”, “mental pengemis”, “semangat aji mumpung”, :ngawur”, dan seterusnya meupakan bahasa lugas. Kelugasan bahasa yang dipakai syu’bah ini, tidak hanya sebagai salah satu sikap kritis, tetapi juga gerakan penyingkapan realitas – yang dalam komunikasi Orde baru sering diselubungi dengan bahasa-bahasa eufemestik; orang diculik dikatakan diamankan, korupsi dikatakan kesalahan prosedur, dana pinjaman dikatakan dana sumbangan, dan seterusnya.
Arah dan wacana yang dikembangkan dalam dua karya tafsir diatas telah memberikan semangat kritis sekaligus perlawanan terhadap rezim otoriter. Semua itu tidak lepas dari ruan gkognisi social pada saat karya tafsir itu ditulis. Ruang kognisi social pada saat itu (tahun 1997-1999) telah merefleksikan titik nadir kemarahan masyarakat terhadap Orde Baru. Euphoria politik dengan grakan reformasi yang dipelopori mahasiswa telah menumbuhkan keberanian disertiap orang untuk melakukan politik terhadap penguasa. Suara kritis yang sekian lama dibungkam menemukan salurannya lewat media, orasi dikampus, demonstrasi dan yang lain. Tafsirnya yang ditulis syu’bah ini adalah salah satu dari sekian refresentasi kognisi social saat itu yang tersalurkan lewat media. Dan eksistensi syu’bah yang dikenal sebagai budayawan dan wartawan telah menjadi jalan yang memperlancar proses pemproduksian dari penggelembungan kognisi social saat itu.
2. Yang Bungkam
Pertama, karya yang bias diajukan dalam kasus ini adalah wawasan Al-quran karya Quraish. Dalam karya ini terdapat 33 tama yang dianalisis, beberapa tema diantaranya tentang persoalan social ekonomi kemasyarakatan. Dalam tema keadilan misalnya, Quraish dengan baik menguraikan devinisi keadilan dan macam-macam maknanya dalam Al-Quran. Lau, dia menjelaskan dua macam keadilan: keadilan Tuhan dan keadilan social yang dianggapnya akan melahirkan keadilan social. Dalam keadilan social, Quraish mengakui bahwa prinsip keadilan social adalah memberikan ruang dan kesempatan yang sama kepada setiap orang untuk melakukan aktifitasnya dalam rangka mengukir prestasi .
Dalam konteks suasana rezim Orde Baru yang otoriter itu, Quraish menarik dari realitas social dan berlindung dibalik uraiannya yang abstrak tersebut. Dari bahasa yang dipakai, tampak bahwa Quraish sedang melakukan nominalisasi, yang mempunyai efek penghilangan pelaku. Ketika disebut “memberikan peluang kepada setiap orang untuk mendapatkan ruang-ruang aktivitas ekonomi” misalnya, subyek dari peristiwa yang dituntut sebagai syarat terjadinya keadilan social tersebut menjadi tidak kelihatan. Implikasinya, sikap kritis terhadap penguasa, orang kaya, dan kelompok yang menguasai sentra-sentra ekonomi, tidak dijadikan arah politik dari perlunya diberlakukan pemberian peluang yang sama.
Mengapa ini terjadi? Ada beberapa asumsi yang bias diajukan. Pertama, asal-usul dan komunitas yang menjadi audiensi karya tafsir ini. Seperti kita tahu, secara historis karya tafsir ini pada mulanya diceramahkan Quraish pada acara pengajian di Mesjid Istiqlal Jakarta, tahun 1990-an. Secara khusus, pengajian itu diselenggarakan oleh Departemen Agama bekerjasama dengan Mesjid Istiqlal. Pesertanya oun khusus: para eksekutif perusahaan, baik milik Negara maupun milik swasta, dan pejabat tinggi Negara. Ceramah itu bertujuan sebagai peningkatan rohani para pejabat tinggi Negara dan eksekutif muda.
Kedua, eksistensi dan latar belakang Quraish. Sejarah intelektual Quraish muncul dan dibesarkan di Mesir. Setelah meraih gelar doctor ilmu tafsir di Mesir, pada 1982, dia aktif dipelbagai bidang: dikampus menjadi dosen IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, diluar kampus menjadi ketua Majlis Ulama Indonesia (MUI) pusat, Anggota Badan Pertimbangan Pendidikan Nasional dan ketua umum Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI). Ruang-ruang social semacam ini memperlihatkan betapa dia cukup dekat dengan birokrasi kekuasaan pada saat itu. Dan, aroma ruang social semacam itu, sedikit banyak, telah ikut mewarnai ceramah-ceramahnya dalam pengajian elit di tahun 1990-an tersebut.
Karya tafsir kedua yang termasuk kedalam bagian ini adalah Ensiklopedi Al-Quran karya Dawam Rahardjo. Dawam menyebutkan karya tafsirnya ini sebagai karya tafsir yang menggunakan analisis social yang berdasarkan kepada konsep kunci. Denganklaim itu dia ingin menggerakan suatu bentuk eksplorasi tafsir dalam konteks social-politik Indonesia. Dan kita tahu Dawam dikenal sebagai seorang ekonom dan analis terhadap tema social ekonomi di Indonesia. Namun sejauh pada tema terkait persoalan social-politik ini, sulit ditemukan praktek tafsirnya yang menelisik pada aspek itu secara meyakinkan.
Penyembunyian terhadap actor social ini bertujuan untuk melindungi dirinya. Dawam memang dengan tegas mengatakan bahwa penindasan dan kezaliman penguasa harus ditentang dan dilawan.tetapi, ujungnya penguasa yang dimaksud ternyata bukan penguasa di Indonesia, tetapi penguasa di Uni Soviet. Dari arah ini tampak bahwa Dawam menghindari gerakan kritis terhadap rezim Suharto. Atau bias jadi, pada saat dia menulis tafsirnya ini menganggap bahwa rezim Orde baru bukanlah rezim penindas, sehingga tak termasuk subyek yang harus dikritik.
Dilihat dari presfektif metode social, dalam dalam kasus ini tidak melakukan eksplorasi social dengan menarik semangat moral Al-Quran dalam konteks kesejarahannya, lalu menariknya dalam konteks kekinian dimana dia (penafsir) berada, sebagai salah satu bentuk kritik. Realitas social-politik dimana penafsir dan audiens berada, tidak menjadi dasar hermeneutic dari visi dan gerakan tafsirnya.
Posisi structural Dawam di ICMI dan di Muhammadiyah, pada saat tafsir itu ditulis, tampaknya mempunyai peran penting dalam proses pembentukan gerakan yang ditampilkannya dalam karya tafsirnya ini. Kita tahu bahwa pada awal-awal pembentukannya,ICMI cenderung sebagai organisasi umat islam yang melakukan kolaborasi dengan kekuasaan Soeharto. Keterlibatan beberapa tokoh kunci ICMI dalam kekuasaan struktur rezim Orde baru, setidaknya menjadi salahsatu variable yang memunculkan kesan itu. Sedangkan posisi Muhammadiyah, sebagaimana pernah dianalisis Bahtiar Efendi, adalah ormas islam yang sangat dekat dengan rezim Soeharto –itu sebabnya, wacana civil society lambat atau bahkan tidak berkembang dalam tubuh Muhammadiyah pada saat itu. Fenomena ini juga menjadi variable dalam mmnculkan model visi dan arah gerak karya tafsir Dawam ini.
3. Yang Memuji
Mari kita lihat fenomena itu dari eksplorasi Quraish ketika menafsirkan ayat kelima surah Al-Fatihah. Dalam kasus ini, dia menjelaskan tentang perbedaan pengertian sunnatullah dengan inayatullah. Yang pertama didefinisikan ssebagai hukum-hukum alam dan masyarakat,seperti hokum sebab akibat, sedangkan yang kedua merupakan pertolongan Allah yang berada diluar logika hokum alam. Uniknya, ketika menjelaskan tentang pengertian inayatullah, Quraish menampilkan keberhasilan presiden Soeharto dalam aksi penumpasa gerakan PKI pada 30 September 1965 sebagai salah satu bentuk inayatullah.
Yang menjadi persoalan dalam konteks ini, bukan pada masalah pengertian inayatullah, tetapi pengajuan kasus penumpasa PKI yang oleh Quraish dijadikan sebagai contoh. Padahal, seperti yang kita tahu, sejarah tentang gerakan 30 September di Indonesia, ada banyak versi. Dan dalam versi-versi itu, tidak serta merta mengangkat Soeharto sebagai pahlawan dalam penumpasan pemberontakan yang dituduh dilakukan PKI itu. Sebab, kalau toh PKI itu memang salah, karena dianggap memberontak, seorang pahlawan tentulah tidak menyelesaikan persoalan dengan jalan pembantaian tanpa proses pengadilan, seperti yang dialami orang-orang yang dituduh PKI.
Masih dalam kasus karya tafsir yang sama. Ketika menguraikan pengertian Al-Rahman dan Al-Rahim dalam surah Al-Fatihah ayat pertama, Quraish juga tidak melakukan eksplorasi dalam konteks dimana manusia juga dituntut untuk melakukan peniruan sifat-sifat Tuhan, sehingga, tema tentang kasih sayag dan rahmat hanya berhenti sebatas keagungan Tuhan, bukan bagaimana keagungan tersebut di internalisasikan dalam setiap diri, sehingga orang bias menabur damai dan kasih saying di bumi.
Dalam kasus hidangan ilahi ini terlihat, Quraish tidak saja melakukan aksi, diam di tengah rezim Orde baru, bahkan telah terperangkap dalam pola perselingkuhan dengan penguasa yang hegemonic saat itu. Dominasi wacana rexim Orde baru telah menutup Quraish dalam melihat realitas, sehingga dia tidak sempat melihat wacana yang tidak dominan dan dipinggirkan oleh penguasa.
Semua itu terjadi, bias diidentifikasikan melalui asal-usul kemunculan karya tafsir ini, sebagaimana telah dijelaskan pada bab dua, karya tafsir ini berasal dari hasil ceramahsaat acara tahlilan memperingati kematian Ibu Tien Soeharto. Dan pada masa-masa itu, Quraish dikenal sebagai ulama yang sangat dekat dengan keluarga Cendana. Situasi semacam itulah yang membentuk kognisi social Quraish untuk memuji Soeharto.
Fenomena serupa dialami Dawam. Bila dalam suatu kesempata dalam Ensiklopedi Al-Quran dia tidak mengarahkan kritiknya kea rah rezim Soeharto, seperti telah diuraikan dimuka, dalam kesempatan lain dia sangat telanjang bahkan memujinya. Ini dapat dilihat ketika menguraikan tema rahmah dalam Al-Quran. Secara topika, dalam tema ini, dia sangat baik memberikan penjelasan pada aspek-aspek linguistic, keragaman tema-tema yang dipakai Al-Quran dalam kaitan soal rahmah, serta frekuensi pemakaiannya. Diantara konteks-konteks makna yang dia ungkap adalah kasih saying (rahim) kepada semua manusia. Kasih saying macam ini, dengan menyintir Qs. Ali Imran (3) : 143, menurutnya bersumber dari kasih saying Allah yang diberika kepada mereka yang bertqwa.
Hal itu menurut Dawam akan melahirkan beberapa sikap penting : (1) menafkah harta kepada orang lain yang membutuhkan, tidak saja diwaktu lapang bahkan diwaktu sempit, (2) menahan amarah, dan (3) memaafkan kesalahan orang lain. Dalam konteks pengertian menahan amarah dan memaafkan kesalahan inilah Dawam memuji prilaku Soeharto.
…. Kita bias marah atau jengkel terhadap orang yang berbuat kesalahan kepada kita. Seringkali sulit bagi kita untuk bias memaafkannya. Misalnya rasa marah kita kepada Dr. Subandrio yang pada waktu menjadi Perdana Mentri, memeainkan politik revolusioner terhadap sesame bangsa, mengikuti PKI. Demikian pula terhadap novelis Pramudya Ananta Toer yang ikut melakukan terror terhadap para pekerja kreatif yang tidak sealiran, yakni aliran rasialisme sosialis. Sampai sekarang, banyak orang yang tidak bias memaafkan mereka. Tetapi presiden Soeharto, baru-baru ini memutuskan untuk mengabulkan permohonan garasi mereka bertiga, bersama Oemar Dhani dan Soeterto. Ini menunjukan bahwa pak Harto masih menyimpan rasa kasih kepada sesame manusia yang telah berbuat kesalahan atau mungkin dosa besar. Hanya rasa rahim-lah yang memungkinkan pak Harto memberikan maaf.
Terlepas dari apakah memang benar Oemar Dhani, pram dan kawan-kawan itu bersalah dan terlibatr dalam tragedy Gerakan September 1965, seperti kitas tahu, sejarah tentang keterlibatan PKI dalam kasus ini sangatlah beragam lebih khusus terlibatnya tokoh-tokoh yang disebut Dawam diatas. Bahkan dalam satu versi, ada penjelasan bahwa Soeharto juga terlibat. Namun, bukan disini permasalahannya klaim Dawam yang mentahbiskan sikap pengampunan dan pemaafan Soeharto terhadap mereka yang dituduh terlibat tindakan makar, itulah pokoknya. Benarkah Soeharto dengan rezim Orde Barunya, dalam konteks ini adalah seorang pemaaf, sepeti diklaim Dawam diatas? Kenapa mesti kasus garasi dari Presiden Soeharto yang dijadikancontoh?
Disinilah Dawam telah melakukan pengklasifikasian terhadap sosok Soeharto dengan citra yang baik; pemaaf. Dalam struktur wacana,Dawam sedang sedang mengembangkan wacana dominan pada saat itu, dimana kebanyakan orang hanya bias memuji dan mengagung-agungkan Orde Baru dan Soeharto. Proses sosialisasi wacana dominan yang dilakukan Daam ini memperlihatkan bahwa ia menmpunyai pengalaman social yang amat baik dengan rezim Soeharto. Kesan ini, bias dilihat dari sudfut pandang ruang social Dawam yang selama ini ia mengacu mobilitas social serta membangun relasi social-politiknya. Itulah sebabnya, dimana pada saat orang semestinya melakukan kritik terhadap hegemoni resim Orde baru, Dawam dengan telanjang justru memuji Soeharto atas sikap pemaafnya itu.

DAFTAR PUSTAKA
andromedazone.blogspot.com/…/mazhab-tafsir-ignaz-goldziher
http://www.scribd.com/doc/16190086/Tafsir-Partisan

PERKEMBANGAN MADZHAB TAFSIR

Diajukan sebagai salah satu Tugas Mata Kuliah Madzahib Tafsir Di Fakultas Ushuluddin
(TH) Semester V Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Persis Bandung

Dosen :
Malki Ahmad Nashir S.Ag, M. IRK, Ph.D

Disusun Oleh :
Irham Shidiq
08.0128

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM PERSATUAN ISLAM
CIGANITRI-BANDUNG
2010 M / 1430 H

No comments yet»

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: