PUASA DARI AWWAL RAMADHAN

Oleh: KH.Abdul Qadir Hasan (Guru besar Jamaah Persatuan Islam)
(Disalin dari Majalah Al-Muslimun Edisi Jumadil Awal 1400 H/April 1980 M No.121/XI (26) Halaman 27, dengan tanpa perubahan ejaan dan susunan)

فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمه
ARTINYA: Oleh karena (diwajibkan puasa) itu, barangsiapa dari antara kamu “menyaksikan” bulan (Ramadlan) itu, maka hendaklah ia puasa padanya. (Al-Baqarah:185)

PENJELASAN

1. ARTI KATA-KATA
a. Dalam ayat tersebut ada kata-kata “syahida”. Perkataan ini mempunyai beberapa arti: melihat, menyaksikan, mengetahui, mengakui, mengkhabarkan, melihat dengan mata, menghadliri. (Ini semua arti lepasan).
Yang dimaksud ayat tsb. Dapat ditujukan kepada:
a. Melihat dengan mata,
b. Mengetahui (dengan mata atau dengan lainnya).
Contoh:
اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّاللهُ, وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًارَسُولُ اللهِ
ARTI BIASA: Aku “menyaksikan” bahwa tidak ada Tuhan (yang patut disembah) melainkan Allah; dan aku “menyaksikan” bahwa Muhamad itu, adalah utusan Allah.

“Menyaksikan” Allah dan Nabi saw. dalam syahadat itu, tentu tidak dengan arti “melihat dengan mata” bagi kita, karena Allah tidak dapat dilihat, sedang Nabi saw. sudah tidak ada.

b. Kata-kata “Syahr” artinya: bulan. Bulan disini adalah yang berhubungan dengan waktu, yaitu satu bagian dari 12 bagian tahun. Kalau bulan dilangit disebut Qomar.
“Bulan yang berhubung dengan waktu” itu, sesuatu yang tidak dapat dilihat dengan mata. Maka lebih tepat apabila kata-kata “syahida” (menyaksikan) itu di ma’nakan dengan mengetahui.
c. Arti “puasa” lihat Tafsir Ahkam No. 18, AM 113.
d. Huruf “hu” yang ada pada fal-ya-shum-hu itu artinya “dia”, “nya”. “Dia” atau “nya” itu maksudnya bulan, yaitu bulan Ramadlan.
Maka “fal-ya-shum-hu” itu artinya: maka hendaklah ia puasa pada bulan Ramadlan itu. Inipun menunjukan bahwa kata-kata “syahida” itu, lebih tepat, kalau diartikan “mengetahui”.

2. BEBERAPA KETERANGAN
a. Untuk mendapatkan ketentuan satu Ramadlan itu, dapat dilakukan dengan dua jalan:
b. pertama: dengan jalan melihat bulan dilangit dengan mata. Cara ini bisa diistilahkan dengan “ru’yah”.
c. Ru’yah ini dibenarkan oleh Agama sebagaimana kandungan Al-Baqarah 185 itu, yaitu tentang arti kata-kata “syahida”.
d. Ru’yah ini tidak mesti dilakukan tiap-tiap otang yang hendak puasa. Boleh kita menerima khabar dari seorang atau bebrapa orang kepercayaan.
e. Menerima dan percaya berita beberapa orang itu, ada Riwayatnya sebagai berikut:
عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ تَرَاءَى النَّاسُ الْهِلَالَ فَأَخْبَرْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنِّي رَأَيْتُهُ فَصَامَهُ وَأَمَرَ النَّاسَ بِصِيَامِهِ (أبو دود)
ARTINYA: Dari Ibnu Umar, ia berkata: Orang-orang (berkumpul) melihat-lihat hilal (1 Ramadlan), lalu aku khabarkan kepada Rasulullah saw. bahwa aku juga melihatnya. Lalu Nabi saw puasa, dan memrintah orangt-orang berpuasa. (S.R.Abu Daud N0. 2325).
f. Kedua: dengan jalan hisab (hitungan). Tentang bolehnya ini, ada sabda Nabi saw:
لَا تَقَدَّمُوا الشَّهْرَ حَتَّى تَرَوْا الْهِلَالَ قَبْلَهُ أَوْ تُكْمِلُوا الْعِدَّةَ ثُمَّ صُومُوا حَتَّى تَرَوْا الْهِلَالَ أَوْ تُكْمِلُوا الْعِدَّةَ قَبْلَهُ .النسائ
ARTINYA: Jangan kamu mendahului bulan, sebelum kamu melihat hilal (tgl.1) sebelumnya, atau (sebelum) kamu sempurnakan bilangan (sya’ban), kemudian puasalah sehingga kamu melihat hilal (1 syawal), atau kamu sempurnakan bilangan sebelumnya (yaitu Ramadlan). (H.R.S. Nasaaiy 4:135)

Hadiets ini dengan tegas membenarkan hitungan, yaitu menghitung bulan Sya’ban dan bulan Ramadlan.
g. dari antara dua jalan tersebut, dengan jalan hisablah yang lebih tepat dan selamat daripada melihat dengan mata yang sering tidak benarnya, karena tipuan mata.
h. Ayat ini umum mengenai setiap orang Islam, baik yang muqiem (yang dalam negeri sendiri), musafir, yang sakit atau lainnya.
i. Pengecualian dari keumuman tersebut, sudah ada dalam Al-Muslimun No.114, 115 dan 118.
3. MAKSUD AYAT TSB.
Perintah Allah dalam ayat tersebut maksudnya, bahwa puasa bulan Ramadlan yang diwajibkan itu, adalah dari awwal Ramadlan. Maka untuk menentukan awwal Ramadlan itu diunjukan 2 jalan: (1) dengan ru’yah dan (2) dengan hisab, tetapi penunjukan ayat itu lebih banyak condongnya kepada hisab.
4. ADANYA AYAT TSB
Hanya ada dalam Al-Baqarah 185 itu saja.
5. HUKUMNYA
Wajib puasa dari permulaan bulan Ramadlan setiap tahun Hijriyah.

About these ads

No comments yet»

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: